Update Geopolitik
Usai Serang Iran, Hubungan Amerika dan Negara Eropa Malah Retak? Trump Kecewa ke Inggris!
Serangan militer Amerika Serikat dan ke Iran tak hanya memicu eskalasi di Timur Tengah, tetapi juga memperdalam jarak antara Washington dan Eropa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/MAGA-Momen-Presiden-Amerika-Donald-Trump-turun-dari-pesawat-kepresidenan.jpg)
Ringkasan Berita:
- Serangan militer terhadap Iran memicu ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Eropa.
- Sejumlah tokoh politik AS menilai respons negara-negara Eropa tidak tegas dan mempertanyakan soliditas NATO.
- Perbedaan pandangan soal Ukraina, hukum internasional, dan prioritas keamanan disebut menjadi akar retaknya hubungan trans-Atlantik.
TRIBUNGORONTALO.COM — Serangan militer Amerika Serikat dan sekutu ke Iran tak hanya memicu eskalasi di Timur Tengah, tetapi juga memperdalam jarak antara Washington dan Eropa.
Di kalangan pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA), respons sejumlah negara Eropa dianggap tidak tegas dan mengecewakan.
Tak lama setelah serangan diluncurkan, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengumumkan akan menggelar pertemuan khusus keamanan.
Namun di Washington, langkah itu dinilai lebih sebagai simbol diplomasi ketimbang dukungan konkret di saat krisis.
Sejumlah tokoh Partai Republik secara terbuka menyampaikan kritik. Senator Lindsey Graham membandingkan semangat Eropa membela Ukraina dengan sikap mereka terhadap Iran, yang ia nilai jauh lebih lemah.
Baca juga: BMKG: Kondisi Cuaca Gorontalo Besok Selasa 3 Maret 2026 Didominasi Berawan hingga Berpotensi Hujan
Mantan juru bicara Gedung Putih Sean Spicer juga menyinggung keputusan Inggris yang sempat menolak penggunaan pangkalan militernya oleh AS.
Kolumnis konservatif Marc Thiessen bahkan menyebut “special relationship” antara AS dan Inggris telah berakhir.
Sementara Senator Mike Lee mempertanyakan keberlanjutan keanggotaan Amerika Serikat di NATO setelah melihat respons sekutu yang dinilai tidak solid.
Tiga Sumber Ketegangan
Pengamat menilai keretakan ini bukan muncul tiba-tiba. Ada beberapa faktor yang selama ini mengganjal hubungan kedua pihak.
Pertama adalah perang Ukraina. Sebagian kalangan di pemerintahan Presiden Donald Trump melihat konflik Rusia–Ukraina sebagai persoalan regional Eropa.
Perbedaan prioritas ini memperlebar jurang persepsi antara Washington dan ibu kota-ibu kota Eropa.
Kedua, persoalan rasa saling menghormati. Pernyataan Trump di masa lalu soal NATO di Afghanistan serta wacana ketertarikannya pada Greenland sempat memicu ketegangan diplomatik.
Ketiga, perbedaan pandangan mengenai hukum internasional. Uni Eropa selama ini menjadikan hukum internasional sebagai fondasi kebijakan luar negerinya.
Sebaliknya, sebagian kalangan di Washington memandangnya sebagai instrumen yang kerap membatasi ruang gerak Amerika.