Berita Internasional
Bukan Sekadar Presiden Sementara, Keluarga Rodriguez Kini Kuasai Dua Poros Kekuasaan Venezuela
Krisis politik yang mengguncang Venezuela pasca penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2025-10-07_PRESIDEN-Presiden-Venezuela-Nicolas-Maduro.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Krisis politik yang mengguncang Venezuela pasca penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat memunculkan satu realitas baru yang luput dari sorotan utama, yakni konsolidasi kekuasaan kini berada di tangan satu keluarga.
Pelantikan Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara bukan sekadar solusi transisi, melainkan penanda menguatnya dominasi keluarga Rodriguez di jantung pemerintahan Venezuela.
Delcy Rodriguez resmi mengucap sumpah jabatan di hadapan Majelis Nasional, menjalankan mandat Mahkamah Agung Venezuela yang menunjuknya sebagai presiden dalam kapasitas sementara.
Namun pada hari yang sama, parlemen juga kembali memilih Jorge Rodriguez, saudara kandung Delcy, sebagai Ketua Majelis Nasional.
Dengan keputusan tersebut, dua poros kekuasaan utama, eksekutif dan legislatif, secara bersamaan berada di bawah kendali kakak-beradik Rodriguez.
Situasi ini menjadikan Venezuela dipimpin oleh satu keluarga di tengah krisis paling serius dalam sejarah politik modern negara tersebut.
Delcy Rodriguez, yang sebelumnya menjabat wakil presiden, kini mengendalikan roda pemerintahan harian.
Sementara Jorge Rodriguez, politisi berpengaruh yang lama menjadi orang kepercayaan Maduro, memegang kendali penuh atas agenda parlemen dan proses legislasi.
Konsolidasi ini terjadi dalam atmosfer politik yang nyaris tanpa perlawanan internal.
Parlemen Venezuela saat ini didominasi Partai Sosialis Bersatu Venezuela (PSUV) dan sekutunya, menyusul pemilu legislatif yang diboikot sebagian besar oposisi.
Dari total 286 kursi, 256 di antaranya dikuasai kubu pemerintah, menciptakan kondisi politik yang sangat solid, atau bagi sebagian pengamat, sangat tertutup.
Dukungan terhadap keluarga Rodriguez juga mengalir dari institusi negara lainnya.
Militer Venezuela secara terbuka menyatakan loyalitas kepada Delcy Rodriguez, sementara Mahkamah Agung bertindak cepat memastikan tidak terjadi kekosongan kekuasaan.
Dalam waktu kurang dari 48 jam sejak penangkapan Maduro, struktur negara bergerak serempak menjaga kesinambungan pemerintahan.
Di hadapan parlemen, Jorge Rodriguez tak menutupi ambisinya. Ia berjanji akan menggunakan “seluruh prosedur, platform, dan jalur” untuk membawa kembali Nicolas Maduro ke Venezuela.
Pernyataan itu menegaskan bahwa kepemimpinan Delcy Rodriguez diposisikan sebagai penjaga kekuasaan, bukan pengganti permanen.
Narasi serupa juga disuarakan keluarga Maduro. Putra presiden, Nicolas Maduro Guerra, menyebut Venezuela berada “di tangan yang tepat” hingga kedua orang tuanya kembali.
Ia bahkan menyatakan masih menjalin komunikasi tidak langsung dengan Maduro, memperkuat kesan bahwa kendali politik Caracas belum sepenuhnya berpindah tangan.
Meski Delcy Rodriguez membuka peluang kerja sama dengan Washington, langkah tersebut dibayangi peringatan keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menegaskan Rodriguez dapat menghadapi konsekuensi lebih berat jika tidak memenuhi tuntutan AS terkait reformasi kebijakan dan akses energi.
Dengan kombinasi kendali eksekutif, dominasi parlemen, dukungan militer, dan legitimasi yudisial, keluarga Rodriguez kini menjadi pusat gravitasi kekuasaan Venezuela.
Di tengah tekanan internasional dan gejolak domestik, negara Amerika Latin itu untuk sementara waktu dijalankan bukan hanya oleh seorang presiden sementara, melainkan oleh sebuah dinasti politik yang mengunci hampir seluruh jalur kekuasaan negara.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.