Berita Internasional

Jutaan Warga Amerika Menganggur, Penyebabnya Mulai Terungkap

Tingkat pengangguran di Amerika Serikat kembali meningkat dan kini mencapai level tertinggi dalam lebih dari empat tahun terakhir.

|
Editor: Wawan Akuba
FOX NEWS TV
DONALD TRUMP - Presiden Amerika, Donald Trump saat meladeni wawancara dengan sejumlah jurnalis hingga insiden marahi jurnalis Australia terjadi. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Tingkat pengangguran di Amerika Serikat kembali meningkat dan kini mencapai level tertinggi dalam lebih dari empat tahun terakhir.

Data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,6 persen pada November, memunculkan kekhawatiran baru soal melemahnya pasar tenaga kerja di negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu.

Sepanjang November, perekonomian AS hanya menambah 64.000 lapangan kerja baru, sementara pada Oktober justru terjadi kehilangan 105.000 pekerjaan.

Kondisi ini menandakan perlambatan serius di pasar kerja dan menjadi alasan kuat bagi Federal Reserve (The Fed) untuk kembali mempertimbangkan pemangkasan suku bunga pada tahun depan.

Baca juga: Bocor! Draft Usulan Amerika untuk Rusia: Ukraina Batasi Tentara, Tak Masuk NATO

Meski penambahan lapangan kerja November sedikit melampaui perkiraan para ekonom, dampak kehilangan pekerjaan pada bulan sebelumnya jauh lebih besar.

 Pelemahan pasar kerja terutama disebabkan oleh pemangkasan besar-besaran di sektor pemerintah federal, yang kehilangan sekitar 162.000 tenaga kerja hanya dalam satu bulan.

Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat tingkat pengangguran November menjadi yang tertinggi sejak September 2021, naik dari 4,4 persen pada September 2025.

 BLS juga tidak merilis data resmi pengangguran Oktober akibat penutupan sementara pemerintahan (government shutdown) yang sempat menghambat sejumlah rilis data ekonomi.

Para analis menilai, naiknya angka pengangguran ini memperjelas perubahan fokus The Fed dari inflasi ke kondisi pasar tenaga kerja.

“Jika semua faktor disaring, tingkat pengangguran adalah angka paling penting dalam laporan ini,” ujar Robert Tipp, Kepala Obligasi Global di PGIM Fixed Income.

Kondisi pasar kerja yang melemah ini menambah gambaran ekonomi AS yang campur aduk.

Di satu sisi, inflasi masih berada di level tinggi, namun di sisi lain pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap solid pada kuartal ketiga tahun ini.

Meski demikian, ada sedikit kabar positif.

Lapangan kerja sektor swasta masih menunjukkan ketahanan dengan penambahan sekitar 121.000 pekerjaan dalam dua bulan terakhir, menandakan dunia usaha masih melakukan perekrutan meski laju ekonomi melambat.

Para ekonom memperkirakan, selama tingkat pengangguran tidak terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan, The Fed tidak akan terburu-buru mengambil langkah agresif.

 Namun, tekanan politik dan pasar terhadap bank sentral AS dipastikan akan terus menguat seiring memburuknya kondisi pasar kerja.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved