Berita Internasional
Ternyata Juliana Marins Selebgram Asal Brasil Masih Hidup 32 Jam di Jurang Rinjani Usai Terjatuh
Info terbaru dari Juliana Marins, Selebgram asal Brasil yang meninggal di Gunung Rinjani. Ternyata dirinya masih hidup selama 32 jam usai terjatuh
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/JATUH-DI-GN-RINJANI-Juliana-Marins-jatuh-di-Gunung-Rinjani.jpg)
Selanjutnya, ia kembali terpeleset sejauh 60 meter dan jatuh untuk kali kedua, sebelum akhirnya ditemukan di kedalaman 650 meter.
"Banyak yang Enggak Tahu dan Asal Bicara"
Baca juga: Beras Oplosan Ancam Kesehatan, Waspadai Ciri Fisiknya yang Bisa Dilihat Secara Kasat Mata
Mariana mengungkap, foto terakhir Juliana saat masih hidup diambil menggunakan drone pada 21 Juni pukul 06.59 Wita.
Sekitar pukul 07.51 Wita, seorang turis asal Spanyol kali terakhir melihat Juliana, yang sempat berteriak meminta pertolongan.
"Basarnas baru bisa turun 150 meter dari tebing, sedangkan Juliana berada di kedalaman 220 meter. Meski posisinya masih di tempat semula, mereka tidak akan bisa menjangkaunya karena keterbatasan alat," ujar Mariana.
Penyebab kematian Juliana Marins
Otopsi yang dilakukan di Brasil menunjukkan Juliana meninggal karena trauma berat akibat jatuh dari ketinggian.
Penyebab langsung kematian adalah pendarahan internal akibat cedera poliviseral dan politrauma dari benturan energi tinggi.
Dokumen otopsi juga menyebutkan, Juliana sempat bertahan hidup sekitar 10–15 menit setelah benturan terakhir, tetapi dalam kondisi tak mampu bergerak.
Baca juga: Waspada! Sania, Topi Koki, Ayana Masuk 212 Merek Beras Oplosan yang Diumumkan Mentan, Ini Daftarnya
Proses pembalseman jenazah yang sudah dilakukan sebelumnya turut menyulitkan analisis detail, seperti perkiraan waktu kematian yang lebih presisi.
Franklin menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan dengan radiologi untuk mendeteksi fraktur tulang rusuk, paha, dan panggul.
Patah tulang panggul disertai pendarahan hebat, sedangkan salah satu tulang rusuk diketahui menembus pleura paru-paru, berujung pada kerusakan paru-paru.
"Dia mengalami memar di tengkorak yang menyebabkan pendarahan otak, luka di dahi, hingga patah tulang paha yang membuatnya tidak bisa bergerak sebelum meninggal," terang Franklin.
Konferensi pers soal hasil otopsi Juliana Marins ini juga dihadiri pengacara publik federal Taísa Bittencourt Leal Queiroz. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com