Perang Iran dan AS
Korea Utara Kecam Serangan AS ke Iran: Ancam Fondasi Perdamaian dan Keamanan Internasional
Pemerintah Korea Utara mengecam tindakan Amerika Serikat (AS) yang memborbardir situs nuklir Iran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/pemimpin-korea-utara-kim-jong-un-kiri-dan-presiden-amerika-serikat-donald-trump-kanan.jpg)
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim serangan tersebut bertujuan untuk melenyapkan program nuklir Iran yang dianggap sebagai ancaman bagi Israel.
Iran melakukan serangan balasan kurang dari 24 jam dengan menargetkan target di Tel Aviv, Haifa, hingga Yerusalem yang diduduki.
Ancaman Donald Trump
Presiden Amerika Serikat (AS) mengancam Iran untuk tidak memperbesar konflik di Timur Tengah.
Trump bahkan memperingatkan bahwa serangan AS di situs nuklir utama Iran bukanlah pertama dan terakhir.
Pemimpin tertinggi Negeri Paman Sam itu menegaskan AS akan menyiapkan kekuatan lebih besar jika Iran berani menyerang balik.
“setiap pembalasan dari Iran akan dibalas dengan kekuatan yang jauh lebih besar.”
Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah Trump mengonfirmasi bahwa militer AS telah melancarkan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Esfahan, bergabung dengan kampanye militer Israel yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan.
“Serangan ini sukses besar. Semua pesawat telah keluar dari wilayah udara Iran dan kembali dengan selamat,” ujar Trump dalam unggahan terpisah.
Ia menyebut bahwa bom-bom dijatuhkan secara penuh di situs Fordow yang dikenal memiliki sistem pengayaan uranium bawah tanah yang sangat terlindungi.
Trump menambahkan, serangan itu melibatkan pesawat B-2 stealth bomber, satu-satunya armada udara yang mampu membawa bom bunker-buster seberat 13.500 kilogram, yang dirancang khusus untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah seperti Fordow.
Langkah Amerika ini disebut sebagai keputusan yang sangat berisiko, karena sebelumnya, Iran telah memperingatkan akan adanya balasan jika AS ikut serta dalam operasi militer Israel.
Pada Rabu lalu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan, serangan terhadap Iran “akan membawa kerusakan yang tak dapat diperbaiki bagi mereka yang menyerang.”
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menanggapi serangan AS dengan mengatakan, “perang dimulai sekarang.”
Hal itu menandai peningkatan konflik dari serangkaian serangan drone dan rudal menjadi kemungkinan perang besar di Timur Tengah.
Situasi di kawasan kini semakin genting. Israel meningkatkan status siaga nasionalnya, dan militer AS telah memindahkan sejumlah kapal perang serta pesawat tempur ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir guna mengantisipasi eskalasi lebih lanjut.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dan Kompas.com