Perang Iran dan AS
Korea Utara Kecam Serangan AS ke Iran: Ancam Fondasi Perdamaian dan Keamanan Internasional
Pemerintah Korea Utara mengecam tindakan Amerika Serikat (AS) yang memborbardir situs nuklir Iran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/pemimpin-korea-utara-kim-jong-un-kiri-dan-presiden-amerika-serikat-donald-trump-kanan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Pemerintah Korea Utara mengecam tindakan Amerika Serikat (AS) yang memborbardir situs nuklir Iran.
Melansir pemberitaan Tribunnews.com, tindakan AS demikian merupakan kebijakan konfrontatif.
Hal ini disinyalir telah mengancam fondasi perdamaian dan keamanan internasional.
"Pemerintah Korea Utara juga menyerukan kecaman lebih keras terhadap tindakan militer dan kebijakan konfrontatif yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat," menurut laporan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada hari Minggu (22/6/2025).
Korea Utara menegaskan AS telah melanggar kedaulatan Iran, Piagam PBB, dan prinsip hukum internasional lainnya yang didasarkan pada penghormatan terhadap kedaulatan dan tidak mencampuri urusan dalam negeri.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Korea Utara mencatat situasi di Timur Tengah semakin buruk setelah Israel memperluas serangannya di kawasan tersebut.
"Situasi terkini di Timur Tengah, yang mengancam fondasi perdamaian dan keamanan internasional, merupakan hasil tak terelakkan dari keberanian Israel, yang memperluas kepentingan sepihaknya melalui perang dan perampasan tanah yang berkelanjutan, serta 'tatanan liberal' Barat yang telah mendorong dan memaafkan tindakan ini," tulis kementerian tersebut.
Menurut Korea Utara, tindakan AS dan Israel, dengan dalih apa yang disebut "menjaga perdamaian" dan "menghilangkan ancaman" telah memperburuk ketegangan di Timur Tengah dan menyebabkan merusak keamanan global.
Baca juga: Apa Dampak Konflik AS dan Iran bagi Indonesia? Pengamat Ingatkan Efek Domino
"Tindakan mereka sangat memprihatinkan, dan masyarakat internasional, yang menjunjung tinggi keadilan, harus dengan suara bulat mengutuk dan menolak kebijakan konfrontatif yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel," kata kementerian tersebut.
AS sebelumnya melakukan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran di Isfahan, Natanz, dan Fordow pada hari Minggu.
Axios melaporkan bahwa AS mengerahkan tujuh pesawat pengebom siluman B-2 dan puluhan pesawat pengisi bahan bakar yang melakukan penerbangan non-stop dari Missouri ke Iran.
Laporan Axios menyebutkan AS menggunakan 14 bom penembus bunker GBU-57 MOP terhadap tiga fasilitas nuklir Iran.
Serangan tersebut menandai masuknya AS ke dalam perang untuk membantu sekutunya, Israel, yang tidak memiliki sarana untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran.
Beberapa hari sebelum serangan tersebut, Israel dikabarkan meyakinkan AS untuk memasuki perang karena AS satu-satunya yang memiliki bom penembus bunker GBU-57 MOP seberat 30.000 pon dan pesawat yang dapat meluncurkan bom tersebut untuk menembus fasilitas Fordow yang ada di dalam gunung.
Israel memulai serangan terhadap Iran pada 13 Juni 2025 dengan meluncurkan rudal ke Teheran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim serangan tersebut bertujuan untuk melenyapkan program nuklir Iran yang dianggap sebagai ancaman bagi Israel.
Iran melakukan serangan balasan kurang dari 24 jam dengan menargetkan target di Tel Aviv, Haifa, hingga Yerusalem yang diduduki.
Ancaman Donald Trump
Presiden Amerika Serikat (AS) mengancam Iran untuk tidak memperbesar konflik di Timur Tengah.
Trump bahkan memperingatkan bahwa serangan AS di situs nuklir utama Iran bukanlah pertama dan terakhir.
Pemimpin tertinggi Negeri Paman Sam itu menegaskan AS akan menyiapkan kekuatan lebih besar jika Iran berani menyerang balik.
“setiap pembalasan dari Iran akan dibalas dengan kekuatan yang jauh lebih besar.”
Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah Trump mengonfirmasi bahwa militer AS telah melancarkan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Esfahan, bergabung dengan kampanye militer Israel yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan.
“Serangan ini sukses besar. Semua pesawat telah keluar dari wilayah udara Iran dan kembali dengan selamat,” ujar Trump dalam unggahan terpisah.
Ia menyebut bahwa bom-bom dijatuhkan secara penuh di situs Fordow yang dikenal memiliki sistem pengayaan uranium bawah tanah yang sangat terlindungi.
Trump menambahkan, serangan itu melibatkan pesawat B-2 stealth bomber, satu-satunya armada udara yang mampu membawa bom bunker-buster seberat 13.500 kilogram, yang dirancang khusus untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah seperti Fordow.
Langkah Amerika ini disebut sebagai keputusan yang sangat berisiko, karena sebelumnya, Iran telah memperingatkan akan adanya balasan jika AS ikut serta dalam operasi militer Israel.
Pada Rabu lalu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan, serangan terhadap Iran “akan membawa kerusakan yang tak dapat diperbaiki bagi mereka yang menyerang.”
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menanggapi serangan AS dengan mengatakan, “perang dimulai sekarang.”
Hal itu menandai peningkatan konflik dari serangkaian serangan drone dan rudal menjadi kemungkinan perang besar di Timur Tengah.
Situasi di kawasan kini semakin genting. Israel meningkatkan status siaga nasionalnya, dan militer AS telah memindahkan sejumlah kapal perang serta pesawat tempur ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir guna mengantisipasi eskalasi lebih lanjut.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dan Kompas.com
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.