Viral Internasional
Dulu Masuk Kabinet Presiden AS, Kini Elon Musk Setuju Pemakzulan Donald Trump
Elon Musk kembali menjadi sorotan publik usai dirinya menyetujui pemakzulan Donald Trump.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Foto-Elon-Musk-dan-Donald-Trump.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Elon Musk kembali menjadi sorotan publik usai dirinya menyetujui pemakzulan Donald Trump.
Padahal, sebelumnya CEO Tesla itu sempat menduduki kabinet Presiden Amerika Serikat era Trump.
Ia memimpin Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE), hingga akhirnya meninggalkan jabatan tersebut.
Dalam cuitannya Musk menegaskan bahwa ia setuju dengan usulan komentator konservatif terkait pemakzulan Donald Trump dan mengajukan JD Vance sebagai presiden AS yang baru.
Dukungan Musk terhadap pemakzulan muncul setelah komentator konservatif Ian Miles Cheong mengangkat ide tersebut sebagai bentuk koreksi terhadap arah pemerintahan Trump.
“Presiden vs Elon. Siapa yang menang? Menurutku Elon. Trump seharusnya dimakzulkan lalu digantikan JD Vance,” tulis Cheong di media sosial.
Menanggapi cuitan tersebut, Musk membalas singkat unggahan tersebut dengan mengatakan, “Ya,” seolah mengisyaratkan bahwa bos Tesla itu mendukung pemakzulan Trump.
Senada dengan Musk Partai Republik rival partai Musk juga di Senat juga mempertimbangkan untuk membuat perubahan.
Mereka menilai RUU anggaran baru Musk hanya akan menambah 2,4 triliun dolar ke utang AS, menjadi sebesar 36,2 triliun dolar selama 10 tahun.
Alasan ini yang membuat banyak anggota parlemen khawatir, hingga mereka menyetujui ide pemakzulan Trump dan bahkan mengusulkan agar Wakil Presiden JD Vance jadi presiden baru AS.
Sebagai informasi selama masa jabatan pertamanya antara tahun 2017 dan 2021, Trump dimakzulkan dua kali.
Pertama pada tahun 2019 atas tuduhan bahwa ia menekan Ukraina untuk menyelidiki mantan Wakil Presiden Joe Biden menjelang pemilihan umum tahun 2020. Ia dibebaskan oleh Senat.
Upaya kedua terjadi pada bulan Januari 2021, setelah serangan di Gedung Capitol AS. Trump dituduh menghasut pemberontakan, tetapi Senat kembali membebaskannya.
JD Vance Tolak Jadi Presiden
Merespon rencana pemakzulan Trump yang diserukan Elon Musk dan anggota Partai Republik, JD Vance menolak secara halus namun tegas.
Vance mengakui bahwa Elon Musk adalah orang yang cerdas dan berpengaruh, tetapi menyayangkan bahwa Musk bersikap terlalu emosional dalam konflik ini.