Berita Internasional
Presiden Amerika Trump Ngaku Diminta Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Tapi Ditolaknya
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan pernyataan yang menuai perhatian saat menghadiri acara penggalangan dana di Washington DC.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PRESIDEN-AS-Donald-Trump-saat-diwawanarai-di-Bandara.jpg)
Ringkasan Berita:
- Donald Trump mengklaim pernah diminta menjadi pemimpin tertinggi Iran, namun menolaknya.
- Pernyataan itu muncul di tengah perbedaan klaim antara AS dan Iran terkait adanya negosiasi.
- Ketegangan kedua negara juga berkaitan dengan isu konflik dan program nuklir Iran.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan pernyataan yang menuai perhatian saat menghadiri acara penggalangan dana di Washington DC.
Dalam kesempatan itu, ia mengaku pernah diminta oleh warga Iran untuk menjadi pemimpin tertinggi negara tersebut, namun ia menolak tawaran tersebut.
Trump menuturkan, permintaan itu disampaikan kepadanya secara langsung, namun ia tidak berminat menerima posisi tersebut.
“Kami ingin menjadikan Anda sebagai Pemimpin Tertinggi berikutnya,” ujar Trump menirukan pernyataan tersebut, lalu menjawab, “Tidak, terima kasih, saya tidak menginginkannya.”
Baca juga: Cara Turunkan Desil 2026 agar Bisa Dapat PKH dan BPNT, Ini Panduannya
Pernyataan tersebut muncul di tengah situasi hubungan Amerika Serikat dan Iran yang memanas, terutama terkait isu perundingan menuju gencatan senjata.
Pemerintah AS mengklaim telah terjadi pembicaraan yang berjalan produktif, sementara Iran membantah adanya negosiasi dalam bentuk apa pun.
Saat ditanya mengenai kemungkinan adanya sosok baru yang akan memimpin Iran, Trump menanggapi dengan nada sindiran.
Ia menyebut jabatan tersebut bukan posisi yang diinginkan banyak orang.
“Belum pernah ada seorang pemimpin negara yang lebih tidak menginginkan jabatan dibanding menjadi pemimpin Iran.”
Di sisi lain, Trump tetap bersikeras bahwa Iran sebenarnya sedang terlibat dalam proses negosiasi, meskipun hal itu dibantah oleh pihak Teheran.
Ia menilai penyangkalan tersebut dipicu oleh rasa takut dari pihak internal Iran.
“Mereka sebenarnya sedang bernegosiasi, dan mereka sangat ingin mencapai kesepakatan. Tetapi mereka takut untuk mengatakannya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan sikap Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang sebelumnya menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki niat untuk berunding.
“Kami tidak berniat untuk bernegosiasi.”