Berita Internasional
Alarm Bahaya! Harga BBM yang Naik Gila-gilaan Memukul Pariwisata Asia
Krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah kini disebut lebih parah dibanding gabungan krisis minyak 1970-an dan perang Rusia-Ukraina.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/NOZEL-Kenaikan-harga-bahan-bakar-yang-dipicu-oleh.jpg)
Ringkasan Berita:
- Krisis energi global akibat konflik Timur Tengah disebut lebih parah dari krisis minyak 1970-an dan perang Rusia-Ukraina.
- Asia menjadi kawasan paling terdampak, dengan lonjakan harga bahan bakar yang memukul sektor transportasi dan pariwisata.
- Negara seperti Thailand, Kamboja, dan Singapura mulai merasakan efeknya, dari kenaikan tarif hingga gangguan layanan.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah kini disebut lebih parah dibanding gabungan krisis minyak 1970-an dan perang Rusia-Ukraina.
Pernyataan itu disampaikan Direktur International Energy Agency, Fatih Birol, dalam pidatonya di Canberra, Australia, pada 23 Maret.
Birol menegaskan bahwa ekonomi dunia saat ini menghadapi ancaman besar, terutama kawasan Asia-Pasifik yang sangat bergantung pada pasokan energi dan komoditas penting yang melintasi Strait of Hormuz.
Dampak ke Thailand: Tiket Mahal, Taksi Berkurang
Di Thailand, krisis ini mulai terasa langsung di sektor pariwisata. Kenaikan harga bahan bakar mendorong tarif tiket pesawat dan biaya operasional maskapai meningkat.
Asosiasi Maskapai Thailand berencana mengusulkan penurunan sementara pajak bahan bakar jet untuk menekan harga tiket.
Sementara itu, layanan taksi di Suvarnabhumi Airport terganggu, dengan jumlah armada aktif turun drastis dari lebih dari 5.000 menjadi sekitar 2.500 unit.
Pengemudi juga mulai enggan mengambil penumpang jarak jauh karena khawatir kehabisan bahan bakar di perjalanan.
Dampak ke Kamboja: Harga BBM Melonjak Tajam
Situasi lebih berat terjadi di Cambodia. Harga bensin melonjak hingga 30–35 persen, sementara diesel naik lebih dari 60 persen, disertai kelangkaan LPG.
Lonjakan ini membuat biaya transportasi dan layanan wisata meningkat tajam.
Pelaku industri pariwisata kesulitan menentukan apakah akan menanggung kerugian atau membebankan biaya ke wisatawan.
Kondisi diperparah dengan terhentinya sejumlah penerbangan dari maskapai Timur Tengah seperti Qatar Airways, Emirates, dan Etihad Airways, yang sebelumnya menjadi jalur utama wisatawan Barat ke Kamboja.
Dampak ke Singapura: Stabil, Tapi Tarif Naik
Berbeda dengan negara lain, Singapore masih relatif stabil dari sisi pasokan energi.
Pemerintah memastikan cadangan LNG dan diesel mencukupi untuk beberapa bulan ke depan.
Namun, harga energi tetap meningkat. Tarif listrik diperkirakan naik hingga 11 persen, sementara harga BBM melonjak signifikan.