Idul Adha 2025

28 Ekor Sapi di Gorontalo Terpapar PMK dan Brucellosis, Tak Bisa Dikirim ke Kalimantan

Sebanyak 28 ekor sapi tak bisa dikirim dari Gorontalo ke Kalimantan karena terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan brucellosis.

Instagram Balai Karantina
TERNAK SAPI : Pemeriksaan ternak oleh Balai Karantina Hewan Gorontalo jelang Idul Adha, Minggu (4/5/2025). 28 Ekor Sapi Tak Layak Kirim dari Gorontalo ke Kalimantan, Terpapar PMK dan Brucellosis. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Sebanyak 28 ekor sapi tak bisa dikirim dari Gorontalo ke Kalimantan karena terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan brucellosis.

Jelang hari raya Idul Adha, sebanyak 1.102 ekor sapi telah diberangkatkan dari Provinsi Gorontalo menuju Kalimantan sepanjang bulan Mei 2025. 

Dari jumlah tersebut, 550 ekor dikirim ke Kalimantan Utara dan 552 ekor ke Kalimantan Timur. 

Baca juga: Pemerintah Kabupaten Gorontalo Hibahkan Tanah ke Polda untuk Pembangunan Gudang

Ketua Tim Kerja Karantina Hewan Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHT) Provinsi Gorontalo, Laras Istian Widodo, menjelaskan bahwa setiap hewan yang di lalu lintas kan harus telah melalui serangkaian pemeriksaan yang ketat. 

“BKHT Gorontalo sebagai Unit Pelaksana Teknis dari Barantin mendorong kelancaran lalu lintas hewan kurban, khususnya menjelang Iduladha," ujar Laras saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Sabtu (17/5/2025).

Syarat utama pengiriman hewan adalah harus terbebas dari Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK). 

BKHIT Gorontalo melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap hewan ternak sebelum diterbitkan Sertifikat Kesehatan Hewan (KH-14). 

Baca juga: Nasir Abdul Latif, Calon Jemaah Haji Gorontalo Bawa 25 Jenis Obat Penunjang Kesehatannya

Pemeriksaan ini mencakup pemeriksaan fisik, uji laboratorium, observasi gejala klinis HPHK, serta perlakuan desinfeksi terhadap kandang, hewan, dan alat angkut seperti kapal ternak.

Pengiriman hewan ternak ini dilakukan melalui Pelabuhan Laut Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara. 

Pelabuhan ini menjadi salah satu pelabuhan utama dalam lalu lintas hewan kurban antarpulau di wilayah timur Indonesia.

Selama periode pengiriman bulan Mei, pihak karantina telah menolak sejumlah sapi untuk dimuat karena hasil pemeriksaan menunjukkan positif Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan brucellosis.

Baca juga: Herlina Lihawa Kades Hulawa Gorontalo Rintis Bisnis Fesyen, Berawal dari Modal 1 Juta

“PMK masih menjadi penyakit penting karena dampaknya sangat tinggi terhadap kesehatan dan produktivitas ternak. Brucellosis juga kami waspadai karena bersifat menular dan berdampak pada reproduksi hewan,” jelas Laras.

Pada saat pemeriksaan, ditemukan sedikitnya ada 28 ekor sapi yang positif PMK dan brucellosis. 

Rinciannya, empat ekor positif brucellosis tujuan Kalimantan Utara dan tiga ekor tujuan Kalimantan Timur, sementara ada 21 ekor positif PMK tujuan Kalimantan Timur. 

Ia juga menambahkan bahwa penyakit anthrax menjadi perhatian khusus karena sifatnya zoonosis, atau bisa menular ke manusia.

Baca juga: Cek Bansos PKH bisa Pakai NIK akan Muncul Tanda PKH APR-JUN 2025 dam Sudah Bisa Dicairkan

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved