Jumat, 5 Juni 2026

Idul Adha 2025

Pesan Mendalam Anies Baswedan dalam Khutbah Idul Adha, Potret "Luka Bangsa" dan Seruan Keadilan

Suasana khidmat menyelimuti Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, saat Anies Baswedan, yang dikenal luas sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta, menyampaikan

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Pesan Mendalam Anies Baswedan dalam Khutbah Idul Adha, Potret "Luka Bangsa" dan Seruan Keadilan
TribunNews
ANIES KHUTBAH IDUL ADHA - Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat memberikan khutbah salat Idul Adha 1446 H, di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, Jumat (6/6/2025). Anies menyampaikan doa dan harapan untuk mendapat pertolongan Allah SWT. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, saat Anies Baswedan, yang dikenal luas sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta, menyampaikan khutbah Salat Idul Adha 1446 Hijriah.

Dalam balutan suasana Idul Adha yang penuh makna pengorbanan dan keikhlasan, Anies memilih untuk mengangkat tema yang menyentuh relung hati, menyampaikan doa dan permohonan petunjuk kepada Allah SWT.

Khutbahnya bukan sekadar rangkaian doa biasa, melainkan sebuah refleksi atas kondisi yang ia amati di Tanah Air.

Dengan suara yang penuh ketulusan, Anies mengungkapkan apa yang ia sebut sebagai "rasa sakit" atau "luka yang belum sembuh" yang kini ditanggung Indonesia.

Luka-luka ini, menurut Anies, bukan sekadar abstraksi, melainkan manifestasi dari fenomena konkret di masyarakat.

Ia secara gamblang menyoroti bagaimana kejujuran kerap dikesampingkan, dan kompetensi seringkali dikalahkan oleh koneksi.

"Pada hari yang mulia ini, kami hadir di hadapan-Mu, mengadukan luka-luka yang belum sembuh di Tanah Air kami. Bahwa kejujuran kerap disingkirkan, kompetensi dikalahkan oleh koneksi," ujar Anies dalam khutbahnya.

Meski tak merinci contoh spesifik dari pernyataan provokatif tersebut, ia berhasil menciptakan narasi yang menggugah pertanyaan dan pemikiran di benak jemaah.

Anies kemudian melanjutkan doanya dengan menyoroti isu kemiskinan yang masih merajalela di Indonesia, bahkan disebutkan diwariskan dari generasi ke generasi.

Ia secara implisit menunjuk pada adanya sistem yang enggan dibenahi sebagai faktor utama yang memperparah kondisi ini.

Ini adalah kritik halus namun tajam terhadap struktur yang menghambat kemajuan.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI ini menekankan bahwa keadilan dan kesetaraan bukanlah hasil dari niat baik semata.

Sebaliknya, ia menegaskan bahwa keduanya adalah "buah dari keberanian untuk menyentuh akar yang dalam, yang kadang menyakitkan."

Pernyataan ini mengajak pendengar untuk merefleksikan bahwa perubahan sejati memerlukan keberanian untuk menghadapi masalah inti, meskipun tidak nyaman.

Menyadari kompleksitas persoalan yang dihadapi, Anies lantas memanjatkan doa, memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved