Paus Terpilih Vatikan
Mengenal Sosok Robert Francis Prevost Paus Pertama Asal Amerika, Reaksi Trump hingga Pakai Nama Leo
Mengenal sosok Robert Francis Prevost asal Amerika Serikat yang terpilih menjadi Paus saat pemungutan suara di konklaf
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Robert-Francis-Prevost-atau-Paus-Leo-XIV-889999.jpg)
Pemilihan nama ini bukan sekadar formalitas, melainkan sarat makna dan dipandang sebagai petunjuk awal arah visi dan kebijakan kepausannya.
Menurut para ahli, nama yang dipilih seorang paus mencerminkan karakter, semangat, dan prioritas yang ingin ia bawa selama masa jabatannya.
Dalam tradisi Katolik, tidak ada aturan tertulis tentang nama paus, tetapi nama tersebut biasanya merupakan penghormatan kepada tokoh atau paus terdahulu yang dikagumi.
Diketahui, nama yang dipilih Prevost merujuk pada dua tokoh penting dalam sejarah Gereja Katolik, yakni Paus Leo I (Leo Agung) dan Paus Leo XIII.
Paus Leo I, yang memimpin pada abad ke-5, dikenal karena keberaniannya menghadapi ancaman politik, termasuk ketika ia secara langsung membujuk Attila the Hun untuk tidak menyerang Roma.
Ia juga dihormati sebagai pemikir besar dan pembela ajaran penting gereja.
Sementara itu, Paus Leo XIII, yang menjabat dari 1878 hingga 1903, merupakan penulis ensiklik Rerum Novarum atau dokumen penting tentang keadilan sosial dan hak-hak pekerja pada masa revolusi industri.
Ajaran ini kemudian menjadi dasar bagi pemikiran sosial Katolik modern.
Dari kisah Paus Leo I dan Paus Leo XIII, pemilihan nama ini oleh Robert Francis Prevost mengindikasikan kemungkinan besar bahwa ia akan melanjutkan semangat reformasi sosial dan memperkuat ajaran Gereja dalam menghadapi tantangan dunia kontemporer, termasuk ketimpangan ekonomi, dampak globalisasi, dan isu etika terkait teknologi seperti kecerdasan buatan.
Paus ke-267 ini ingin mengikuti jejak para pemimpin kuat dan progresif tersebut, dengan memadukan ketegasan dalam menghadapi tantangan global dan komitmen pada keadilan sosial dan reformasi ajaran.
Hal ini turut dibenarkan oleh juru bicara Vatikan, Matteo Bruni, yang mengatakan bahwa nama "Leo XIV" jelas merujuk pada ajaran sosial Gereja Katolik.
“Pilihan nama ini menunjukkan bahwa Paus Leo XIV kemungkinan besar akan kembali mengangkat isu-isu sosial, termasuk dalam konteks baru seperti dampak kecerdasan buatan dan globalisasi yang tidak merata,” kata pakar Vatikan, Francois Mabille.
Selain itu, banyak pengamat juga melihat bahwa pilihan ini merupakan kelanjutan dari semangat yang dibawa Paus Fransiskus, yang dikenal karena keberpihakannya pada kaum miskin dan perjuangannya melawan ketidakadilan global.
Dari 266 paus sebelum Leo XIV, sekitar separuhnya memilih nama baru saat terpilih.
Tradisi ini mulai umum pada abad ke-11 sebagai simbol kesinambungan dan kehormatan terhadap pendahulu.
Namun, sejak pertengahan abad ke-20, nama paus lebih sering digunakan untuk menandai visi pribadi kepausan.
Nama Leo sendiri termasuk dalam lima besar nama paling umum yang digunakan paus, bersama dengan Yohanes, Benediktus, Gregorius, dan Klemens.
Nama ini telah digunakan 13 kali sebelumnya oleh para paus, dan Paus Prevost menjadi yang ke-14.
Dari Misionaris di Peru ke Takhta Suci: Perjalanan Spiritualitas Robert Prevost Menjadi Paus Leo XIV
Nama Robert Francis Prevost menjadi sorotan dunia ketika ia diumumkan sebagai Paus baru Gereja Katolik, menggantikan mendiang Paus Fransiskus yang wafat pada 21 April 2025.
Prevost memperkenalkan dirinya dengan nama Paus Leo XIV dari loggia Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada Kamis (8/5), setelah terpilih sebagai Paus ke-267 melalui konklaf kepausan yang melibatkan 133 kardinal elektor.
“Damai sejahtera bagi kamu semua,” adalah kalimat pertama yang ia sampaikan dari balkon Basilika yang menghadap ke Lapangan Santo Petrus. Dengan demikian, Leo XIV resmi menjadi Paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat dan juga dari Ordo Santo Agustinus.
Apa Latar Belakang Kehidupan Paus Leo XIV?
Lahir di Chicago pada 14 September 1955, dari pasangan Louis Marius Prevost dan Mildred Martínez, Robert Prevost menempuh pendidikan di bidang matematika, filsafat, dan teologi.
Ia ditahbiskan sebagai imam pada Juni 1982 dan mengawali pelayanannya sebagai misionaris di Peru sejak 1985.
Ia menjadi kanselir Prelatur Teritorial Chulucanas (1985-1986), sebelum kembali ke AS sebagai pastor panggilan dan direktur misi untuk Provinsi Agustinian Chicago.
Pada 1988, ia kembali ke Peru dan selama satu dekade memimpin seminari Agustinian di Trujillo serta mengajar Hukum Kanonik.
Kariernya terus berkembang hingga ia terpilih sebagai prior jenderal Konsili Agustinian (2001-2013).
Pada 2014, Paus Fransiskus menunjuknya sebagai administrator apostolik Keuskupan Chiclayo dan pada 2015 ia resmi menjadi Uskup Chiclayo.
Ia juga menjabat sebagai wakil presiden Konferensi Waligereja Peru (2018-2023) dan menjadi sosok penting dalam menjaga stabilitas politik selama krisis nasional.
Apa Peran Prevost dalam Gereja Sebelum Jadi Paus?
Paus Fransiskus mengangkat Prevost sebagai prefek Dikasteri untuk Para Uskup dan Presiden Komisi Kepausan untuk Amerika Latin.
Ia dikenal memiliki peran penting dalam seleksi dan pengawasan para uskup. Pada Januari 2023, ia diangkat menjadi uskup agung, dan beberapa bulan kemudian menjadi kardinal.
Dalam pidato perdananya, Paus Leo XIV mengutip pesan terakhir Paus Fransiskus dalam Misa Paska.
“Kemanusiaan membutuhkan Kristus sebagai jembatan untuk mencapai Tuhan dan kasih-Nya.”
Ia mengajak umat Katolik untuk membangun Gereja yang misioner, terbuka, dan menjadi jembatan bagi dialog dan perjumpaan.
Ia juga menegaskan bahwa seperti Lapangan Santo Petrus yang terbuka bagi siapa pun, Gereja pun harus terbuka terhadap kasih dan kehadiran semua orang.
Apakah Paus Leo XIV Akan Melanjutkan Reformasi Paus Fransiskus?
Leo XIV disebut akan mendukung keberlanjutan reformasi yang diinisiasi oleh Paus Fransiskus, terutama dalam hal kepedulian terhadap lingkungan, kaum miskin, dan migran.
Ia juga mendukung perubahan praktik pastoral yang lebih inklusif, seperti memberi komuni kepada umat yang bercerai atau menikah lagi secara sipil.
Namun, ia diprediksi tidak akan meneruskan pendekatan terbuka Paus Fransiskus terhadap komunitas LGBTQ.
Di sisi lain, Leo XIV pernah dikaitkan dengan dua kasus skandal pelecehan seksual di Chicago dan Chiclayo.
Kendati demikian, ia telah dibela oleh para pendukungnya dan dianggap tidak bersalah karena pemberitaan yang dianggap tidak akurat.
Moto episkopal Leo XIV, In Illo uno unum, yang berarti “dalam Yang Satu, kita satu,” mencerminkan semangat persatuan. Moto tersebut mengacu pada khotbah Santo Agustinus bahwa meskipun umat Kristen berbeda-beda, dalam Kristus mereka bersatu.
Semangat ini pula yang ingin dibawa Leo XIV dalam masa kepemimpinannya sebagai pemimpin 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia.
13 Paus yang Pilih Nama "Leo" Sebelum Robert Prevost
Nama "Leo", yang dipilih oleh paus baru Robert Francis Prevost, ternyata cukup populer digunakan oleh paus-paus sebelumnya.
Sebelum Prevost, tercatat ada 13 paus yang menggunakan nama tersebut selama menjadi Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia.
Dipilihnya nama "Leo XIV" oleh paus asal Amerika Serikat ini menandai kembalinya nama tersebut ke puncak Gereja Katolik setelah lebih dari satu abad.
Dikutip dari Popehistory.com, berikut ini adalah daftar 14 paus yang menggunakan nama "Leo" selama masa kepausannya.
1. Paus Leo I (440–461 M)
Paus Leo I, yang dikenal sebagai Leo Agung, dikenang karena keberaniannya menghadapi Attila Hun untuk membatalkan rencananya menyerbu Roma.
Banyak catatan sejarah dan ensiklopedia mengakui Leo I sebagai tokoh sentral penguatan otoritas paus dan pelopor doktrin teologis.
2. Paus Leo II (682–683 M)
Paus Leo II menjabat singkat dalam kurun waktu kurang dari setahun.
Meski singkat, ia gigih melawan ajaran sesat monotelit dan meresmikan keputusan Konsili Konstantinopel IV.
Atas dedikasinya, gereja Barat kemudian mengkanonisasikan Leo II sebagai santo.
3. Paus Leo III (795-816 M)
Paus Leo II terkenal berkat hubungannya dengan Kaisar Romawi Suci Charlemagne.
Ia menobatkan Charlemagne sebagai kaisar pada 800 M, mengokohkan aliansi antara Gereja dan Kekaisaran, serta memperluas pengaruh Gereja Katolik di Eropa Barat.
4. Paus Leo IV (847-855 M)
Paus Leo IV dikenal sebagai arsitek pertahanan Vatikan. Ia memerintahkan pembangunan Tembok Leonine yang masih mengelilingi Bukit Vatikan hingga kini, sekaligus memimpin pasukan gabungan dalam Pertempuran Ostia melawan serangan Saracen.
5. Paus Leo V (903–904 M)
Leo V memimpin di zaman kekacauan politik kepausan. Tak banyak catatan terperinci tentang kebijakannya karena masa jabatan yang sangat singkat dan situasi gereja yang penuh gejolak.
6. Paus Leo VI (928 M)
Pada era berikutnya, Leo VI menjabat di masa yang disebut “Saeculum obscurum” atau zaman gelap gereja.
Ia berusaha meredam perselisihan internal di kalangan uskup dan menghadapi ancaman perampok yang menyerang wilayah kepausan.
7. Paus Leo VII (936–939 M)
Paus Leo VII memimpin umat Katolik di tengah gejolak politik Romawi. Ia membagikan tanah gerejawi kepada bangsawan setempat dan mengeluarkan kebijakan pengusiran terhadap komunitas Yahudi di Jerman.
8. Paus Leo VIII (963–964 M)
Paus Leo VIII muncul sebagai paus tandingan pada 963–964 M, yang diangkat oleh Kaisar Otto I dari Jerman.
Meskipun jabatan pertamanya dianggap ilegal oleh gereja, periode kedua (setelah perselisihan dengan Yohanes XII dan Benediktus V) diakui secara sah.
9. Paus Leo IX (1049–1054 M)
Paus Leo IX adalah paus Jerman paling berpengaruh di abad pertengahan. Kepemimpinannya menandai awal Skisma Besar 1054, yang memisahkan Gereja Katolik Roma dan Ortodoks Timur selama hampir satu milenium.
10. Paus Leo X (1513–1521 M)
Pada masa Renaisans, Leo X dari keluarga Medici mengambil alih takhta.
Ia dikenal sebagai pelindung seni dan sastra, tetapi juga menghadapi tantangan awal reformasi Protestan setelah Martin Luther memprotes kebijakan indulgensi gereja.
11. Paus Leo XI (1605 M)
Leo XI, yang memerintah sangat singkat pada April 1605, tercatat sebagai salah satu paus dengan masa jabatan terpendek, yakni hanya sekitar sebulan sebelum meninggal dunia.
12. Paus Leo XII (1823–1829 M)
Leo XII memimpin dalam era pasca-Napoleon. Ia menetapkan kebijakan konservatif, menekankan disiplin moral dan pemulihan tatanan sosial setelah pergolakan Revolusi dan Era Napoleon.
13. Paus Leo XIII (1878–1903 M)
Leo XIII adalah paus paling lama menjabat sebelum abad ke-20 dan terkenal lewat ensiklik sosial Rerum Novarum (1891).
Dokumen ini membahas hak-hak pekerja dan keadilan ekonomi pada awal Revolusi Industri, yang menjadi dasar ajaran sosial Katolik modern.
14. Paus Leo XIV (2025)
Terakhir, Leo XIV kembali menghidupkan tradisi sejak Leo XIII. Sebagai paus Amerika Serikat pertama dalam sejarah Gereja Katolik 2.000 tahun.
Pilihan nama “Leo” dianggap menegaskan kepemimpinan kuat yang berkomitmen terhadap isu-isu sosial kontemporer, dari keadilan ekonomi hingga tantangan globalisasi.
Nama Paus Terpopuler
Selain “Leo”, berikut ini adalah beberapa nama paus yang paling sering dipakai oleh Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia selama masa jabatannya.
- Yohanes (John): 23 kali
- Benediktus (Benedict): 16 kali
- Gregorius (Gregory): 16 kali
- Klemens (Clement): 14 kali
- Innosensius (Innocent): 13 kali
- Pius: 12 kali
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Profil Paus Leo XIV Robert Prevost, Orang Amerika yang "Soft Spoken
| 267 Nama Paus Gereja Katolik Roma Sepanjang Masa, Mulai Abad I hingga Tahun 2025 |
|
|---|
| Kardinal Robert Prevost Terpilih Sebagai Paus Baru Asal Amerika dengan Nama Leo XIV |
|
|---|
| Momen Robert Francis Prevost Disambut Umat Katolik di Plaza Santo Petrus, Sejarah Baru Terukir |
|
|---|
| Profil Robert Francis Prevost, Orang Amerika Pertama Terpilih sebagai Paus |
|
|---|