Tribun Podcast
CEO Trans Continent Ismail Rasyid Ternyata Pernah Digaji Rp 150 Ribu hingga Bangun Perusahaan
CEO Trans Continent Ismail Rasyid saat hadir dalam Tribun Podcast yang dipandu manajer Konten Tribun Gorontalo, Aldi Ponge di TribunGorontalo.com pada
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Ponge Aldi
Kita santai 250 orang. tahun ke-10 itu Ada situasi yang kurang nyaman karena tingkat kejenuhan juga tinggi, karena saya sudah enggak punya lagi apa namanya challenge, saya enggak bisa bekerja tanpa ada challenge
Baru kalau hari-hari itu seperti itu monoton enggak bisa.
Ya nah beliau pindahkan saya ke Jakarta, ke Jakarta saya mengontrol dari Jakarta waktu itu tahun 98 saya udah Sudirman di Jakarta saya kontrol Indonesia itu dari Jakarta ke Papua ke Manado, jadi keliling karena waktu itu kan kita belum berkeluarga ya bebas iya sekitar 5 tahun
Tribun: Jadi ini sekitar lima tahun sebelum ya
IR: Sehingga posisi saya itu setelah itu sampai ke 2003 pertengahan saya resign.
Saya resign bukan apa-apa saya sudah gak punya challenge .
Saya dipercaya untuk ditawarkan perusahaan berikutnya, tapi belum jadi-jadi maka saya resign.
Akhirnya saya enggak tahu melakukan apa tapi saya memberikan itu baru teman-teman yang udah ada relasi baik kapal dengan seorang karena mereka itu hampir 80 persen adalah rekrutmen dan didikan saya.
Saya ditawarkan, saya bilang saya belum mau kerja.
Jadi ada klien saya orang Australia dia bagus dia bilang kamu gak saya suru kerja, kamu urus-urus saja, saya bilang saya gak ada uang, kemudian dia bilang nanti saya bantu.
Kan sewa kapal mahal, satu miliar, dua miliyar dan dibayar di depan. Jadi di kasih 10 persen, 20 persen, saya kelola.
Jadi oke, karena kepercayaan dari bos saya bisa. Jadi mulai dari situ.
Jadi 2003 saya mulai, enam bulan saya transisi perlahan dari bos saya. Jadi sampai dengan hari ini saya punya baik dengan bos saya yang lama.
Tribun: Jadi perusahan di Pontianak ya?
IR: Gak, saya pindah ke Kalimantan Timur, jadi sebelum saya menikah, saya sudah pergi ke mana-mana. Tapi kita yang paling saya suka itu Balikpapan.
Kemudian karena saya sudah tidak punya bos karena tinggal sendiri saya potang panting cari uang, saya ke Australia 2004 pertengahan ya, dapat kontrak pertama sekitar Rp 12 miliar saat itu.
Kita coba saja, nah saya panggil karyawan yang di tempat lama. Siapa yang mau ikut saya mau siap susah ni.
Jadi 80 persen karyawan didikan saya, ada yang angkat tangan, jadi sini kita berdua kerja, kamu di sini, saya pergi-pergi nih. Kasih dia motor, saya mau Pick Up
Tribun: Saat perusahaan sudah berusia 21 tahun ya, sudah ada 22 kantor cabang?
IR: Sebenarnya cabang di Indonesia dan beberapa negara yang sudah di ini sudah ada kalau saya itu bisnis kami ini trust yang paling tinggi. network yang paling penting.
Saya enggak bukan siapa-siapa dari saya kerja dari keluarga saya bukan dari pengusaha, bukan dari yang berada, bukan pejabat, bukan pegawai ,cuman kehidupan kami sangat akrab sebagai keluarga jadi ke mana saya pergi jaringan dapat memperkuatnya.
Almarhum ayah saya dulu ngomong santai, kita ngomong sama orang tua.
Ya karena waktu kita mau pergi-pergi itu ibu kita kan pasti projek jangan jauh-jauh kan gitu.
Jadi kalau ayah saya bilangnya enggak, anak laki-laki pergi saja, yang penting kamu jangan menipu orang tapi yang lebih bernilai kamu jangan ditipu orang cuma ini kan dalam ya kamu bergaul sebagai bebas kan jaga diri lah.
Jadi waktu terus berjalan keputusan saya tadi bukan pengin berusaha kan itu kan istilahnya insiden ya insiden nah pada saat itulah saya ke luar negeri saya cari ketemu teman.
Nah itu jaga silaturahmi, jaga kepercayaan bisnisnya tumbuh.
Gimana caranya nih supaya kita cepat karena di waktu awal dulu saya bekerja kan saya diberi ruang oleh bos. Saya ke Singapura, ke Jepang situasi Itu yang saya manfaatkan pada saat itu hubungan baik itu terjaga sampai keluar.
Karena orang mengenal perusahaan tersebut identik dengan saya tapi saya selalu bawa nama bos saya tapi karena objektif ya.
Nah ketemu teman nanti mereka rekomendasi, saya ambil keputusan saya masuk asosiasi itu namanya global link.
Tribun: Apakah pelanggan Trans Continent ada di semua negara?
IR: Tidak semua pelanggan ada di negara itu, tapi di semua benua ada.
Kita ada klien dia beli barang di Afrika, di Amerika karena teman kita semua networknya ada di situ.
Jadi dari 50 persen member kita di situ ada pekerjaan. Karena kalau mereka ke sini pasti cari kita karena dalam rekrutmen itu ada batasan. Jadi gak asal rekrutmen dia, jadi dia juga melihat kualitas.
Karena presiden direktur yang asosiasi ini kan juga bertanggung jawab kalau ada member yang nakal, ya ada satu dua yang nakal, ada juga ada asuransinya.
Jadi saya pikir dalam bisnis expert itu sangat penting. Jadi tanpa ekspert kita tidak tau mau kerja apa nih.
Pengalaman saya di awal itu sekian 20 tahun di logistik khususnya perminyakan, pertambangan di outdoor nah itu membuat hari ini saya bekerja di luar negeri, berarti ilmu kita nih kompetibel.
Yang kedua ada trust, kenapa karena kita berdua sudah kenal, lama lama percaya, kita deal jadi hampir 95 persen kita nggak ada agreement tertulis secara perjanjian.
Yang ada adalah ini penawaran ini kos kami, kamu jual berapa?
Jadi kalau kau jual Rp100, aku Rp120, jadi 20 ini kita bagi-bagi.
Nah yang ketiga kita memudahkan, enggak mungkin saya punya barang di Italia, cuman 5 kg apalagi saya punya barang di Itali misalnya 3.000 ton kan kita nggak ngerti juga regulasi negara mereka kan Tapi karena misalnya seperti Abang ada sana, kali paham persis ya regulasi.
Digital dengan kondisi itu berapa sih ongkosnya untuk dikirim ke Indonesia, ke Jakarta begitu saya terima Jakarta misalnya 500.000 dolar saya hitung dari Jakarta ke mana lagi nih Papua berapa berarti ini bagian saya nih.
Ya kan bagian yang sana tadi sampai ke Jakarta otomatis kan kita mantap kita sharing margin dan itu kita bayar hari ini. Jual dulu nanti bayar saya kita fifty-fity margin atau 30 per 70, itu terserah.
Kan ini memudahkan, coba bayangkan kita ada 10 negara terjadi yang sama, saya bilang tadi ini saling support
| Dinas PUPR Kabupaten Gorontalo Prioritaskan Infrastruktur Pendukung UMKM hingga Penanganan Banjir |
|
|---|
| Basir Noho Beberkan Arah Besar Pendidikan Kabupaten Bone Bolango di Podcast TribunGorontalo.com |
|
|---|
| Gorontalo Bakal Punya Stadion Sepak Bola Level Internasional, Groundbreaking Direncanakan Tahun 2026 |
|
|---|
| Sultan Kalupe Kupas Strategi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Gorontalo di Tribun Podcast |
|
|---|
| Zoonosis Virus Nipah Intai Indonesia, Karantina Gorontalo Terapkan Pengawasan Berlapis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/CEO-Trans-Continent-Ismail-Rasyid-89990000.jpg)