Tribun Podcast

CEO Trans Continent Ismail Rasyid Ternyata Pernah Digaji Rp 150 Ribu hingga Bangun Perusahaan

CEO Trans Continent Ismail Rasyid saat hadir dalam Tribun Podcast yang dipandu manajer Konten Tribun Gorontalo, Aldi Ponge di TribunGorontalo.com pada

Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Ponge Aldi
zoom-inlihat foto CEO Trans Continent Ismail Rasyid Ternyata Pernah Digaji Rp 150 Ribu hingga Bangun Perusahaan
SCREENSHOOT YOUTUBE TRIBUN GORONTALO
CEO Trans Continent Ismail Rasyid saat hadir dalam Tribun Podcast yang dipandu manajer Konten Tribun Gorontalo, Aldi Ponge di TribunGorontalo.com pada Jumat (22/11/2024). 

TRIBUNGORONTALO.COM - CEO Trans Continent Ismail Rasyid ternyata dulu pernah digaji Rp 150 ribu per bulan hingga membangun perusahaan sendiri

CEO Trans Continent Ismail Rasyid menceritakannya saat hadir dalam Tribun Podcast di TribunGorontalo.com pada Jumat (22/11/2024).

Podcast tersebuf dipandu Manager Content TribunGorontalo.com, Manajer Konten TribunGorontalo.com

Berikut wawancara eksklusif Tribun Gorontalo dengan CEO Trans Continent Ismail Rasyid (IR) :

Tribun: Pak Ismail sempat honorer?

IR: Enggak honorer, saya kerja freelance.

Tribun: Pernah kerja di Batam sempat di gaji Rp150 ribu ya.

IR: Ya jadi ceritanya itu memang saya itu setelah dari media sebentar, saya melihat di situ bahwa di Batam itu banyak taksi-taksi yang legal. 

Pada saat itu mobil-mobil mewah bekas banyak saya melihat kesempatan, kemudian kita sewa mobil sehari pada saat itu Rp100 ribu. Tapi kita melihat pekerjaan yang ada di Batam itu bekerja sekitar situ mungkin sekitar 40 ribu orang.

Saya melihat di Batam  itu cukup sibuk dengan banyaknya investasi asing. Banyak pekerja dari luar pulau Batam dari Jawa dari mana-mana. 

Mereka bekerja  dengan sistem shift 1 itu pagi sampai 8 sampai 12. Sift ke dua jam 9 ke jam 4 sore, dan dari jam 4 sore ke jam 7 malam.

Saya melihat peluang ini, saya karena saya bekerja di suatu perusahaan pada saat itu kebetulan saya S1 tapi saya ikut kerja di pabrik Taiwan, mereka memproduksi tali pancing tapi kita untuk naik ke atas itu nggak bisa karena kita bekerja di level temen-temen yang sekolah menengah, SMK.

Kebetulan saya bisa sedikit Bahasa Inggris jadi tim leader tapi kalau kita lanjutkan di situ mentok. Karena dari 8 grup tim itu satu insinyur, saya bukan Insinyur kondisi itu saya pikir ini nggak akan bisa. 

Tapi gaji di situ sebenarnya sudah besar bang, Rp1.500.000, tahun-tahun tersebut Namun pekerjaannya saya tidak suka tapi kan saya harus hidup.

Jadi pada waktu itu saya putuskan untuk mencari pekerjaan lain. Saya kemudian sewa mobil itu Corolla cukup bagus, jadi sambil kerja itu naksi.

Jadi kita lihat jam kerja di jam berapa nih?  kita kerjanya pagi, maka siftnya malam nih. Jadi kita harus dapat nih Rp300 ribu. Itu dibagi untuk sewa mobil sehari, bisa  buat makan, isi bensin dan isi tabungan.

Saya nggak 24 jam kerja karena mengatur sendiri. Kapan kita mau keluar menyesuaikan dengan kondisi fisik.

Tapi kan biaya yang besar di sana itu ada dua, biaya transportasi sama biaya perumahan. jadi kalau dengan mobil di tangan kita sudah muda apalagi bisa nabung sehari Rp100 ribu.

Setelah itu bisa bikin paspor karena kan KTP dulu masih daerah ya kita harus ke KTP lokal, urus kartu kuning kalau dulu namanya kalau cari kerja. 

Saya lengkapi dan saya cari kerja lagi dan dapat pekerjaan yang saya sukai yang mirip dengan pekerjaan sekarang, tapi ditawari gaji cuman Rp150 ribu.

Padahal gaji saya sudah satu setengah juta tapi ini gak benar tapi di sana saya stuck kan, karena saya di sana juga kontrak sekian lama kontrak.

Jadi sehingga saya putuskan datang lagi ke pimpinan dan pada saat itu kebetulan beliau ini almarhum sekarang.

Letkol angkatan laut yang dulu masih dikaryakan di perusahaan yang saya suka tersebut. Dia buka open recruitment bukan kenal setelah diskusi. Dia bilang nggak bisa kamu kan belum punya pengalaman di ekspor impor.

Saya bilang memang belum punya pengalaman tapi saya siap belajar. Tapi kalau kami Rp 150 ribu, kemudian saya balik tapi saya suka sekali pekerjaan itu akhirnya satu minggu saya kembali lagi. Saya tawarkan Bos, saya kontrak saya bulan depan habis.

Beliau tetap bertahan dengan ini. Kamu kan belum bisa apa-apa, kemudian keluar statement begini Pak saya belum bisa apa-apa tapi saya siap belajar.

Kalau 1 bulan saya nggak berhasil bapak keluarkan  tapi kalau saya 1 bulan bapak lihat ada kemampuan Bapak pertimbangkan. Jadi di situ kita deal.

Dari situ saya belajar-belajar rupanya satu bulan beliau senang, kemudian saya dipanggil. Dek bagaiana saya panggil GM Jakarta kemari untuk training kamu atau kamu dikirim ke Jakarta?

Saya bilang logikanya saya begini, izin Pak kalau Bapak dari Jakarta ke sini ongkos tiketnya sama, tapi saya hanya bisa belajar satu saja.

Tapi kalau bapak kirim saya ke Jakarta, saya bisa kenalan office boy sampai ke bos.

Saya bisa tidur di tempat kost yang mungkin sewa 200.000 per bulan saya bisa belajar di Tanjung Priok di Cengkareng, di kantor.

Oiya kamu berangkat, satu bulan dua bulan saya di sana. Kembali bang jadi Setelah itu saya sudah bisa trainning orang. baru beliau naikan gaji saya. 

Tribun: Dari awalnya diragukan, ditolak tapi akhirnya dipercaya.

IR: Karena waktu itu kita di awal cuma, beliau baru 5 orang saya menjadi head operation. setelah itu dipercayakan untuk mentraining orang.

Saya rekrut, kita tumbuh.

TRIBUN:  tapi kemudian setelah itu Abang bikin sendiri perusahaan?

IR: Belum, masih 2 step lagi jadi setelah itu, kebetulan beliau ini istri beliau itu perawat angkatan laut ya orang Belanda, lalu diperkenalkan saya ke adik iparnya.

Lalu saya dipanggil, kamu mau gak kerja di perusahaan in?

Jadi saya jawab  mau karena bagus juga kan nah jadi saya bilang kalau saya bekerja di perusahaan ini saya mau tapi kalau bapak suruh kerja di sablonnya enggak.

Begitu akhirnya diberikanlah ruang ke saya diperkenalkan langsung ke bos saya yang kedua itu perusahaan asing yang orang Perancis ditawarkan kamu bisa kerja apa karena bisnisnya kan transport darat 

Saya langsung ngomong bapak mau suruh saya apa?

Kamu bisa ini? Bisa, ini bisa? bisa!

Kemudian diberikan ruang, saya setap perusahaan dari nol, perusahaan itu tumbuh sampai berkembang 8 tahun.

 Saya dengan beliau, baru berganti ke perusahaan berikutnya, nah di situ sudah saya pegang Indonesia kolaborasi  dengan teman di Singapura karena dia pegang Singapura kita urus banyak proyek di Indonesia kita udah punya 8 cabang di situ ngurus. semua yang berkaitan dengankapal-kapal asing kru asin,

Kemudian barang-barang untuk di outdoor ya kita cari pesawat kapal kemudian juga kita mengurus semua yang berkaitan dengan perizinan.

Saya belajar cukup cepat dan kita diberikan, apa namanya kepercayaan ya sehingga saya membuat tim itu lebih kuat.

Kita santai 250 orang. tahun ke-10 itu Ada situasi yang kurang nyaman karena tingkat kejenuhan juga tinggi, karena saya sudah enggak punya lagi apa namanya challenge, saya enggak bisa bekerja tanpa ada challenge 

Baru kalau hari-hari itu seperti itu monoton enggak bisa.

Ya nah beliau pindahkan saya ke Jakarta,  ke Jakarta saya mengontrol dari Jakarta waktu itu tahun 98 saya udah Sudirman di Jakarta saya kontrol Indonesia itu dari Jakarta ke Papua ke Manado, jadi keliling karena waktu itu kan kita belum berkeluarga ya bebas iya sekitar 5 tahun

Tribun: Jadi ini sekitar lima tahun sebelum ya

IR:  Sehingga posisi saya itu setelah itu sampai ke 2003 pertengahan saya resign.

Saya resign bukan apa-apa saya sudah gak punya challenge .

Saya dipercaya untuk ditawarkan perusahaan berikutnya, tapi belum jadi-jadi maka saya resign.

Akhirnya saya enggak tahu melakukan apa tapi saya memberikan itu baru teman-teman yang udah ada relasi baik kapal dengan seorang karena mereka itu hampir 80 persen adalah rekrutmen dan didikan saya.

Saya ditawarkan, saya bilang saya belum mau kerja.

Jadi ada klien saya orang Australia dia bagus dia bilang kamu gak saya suru kerja, kamu urus-urus saja, saya bilang saya gak ada uang, kemudian dia bilang nanti saya bantu.

Kan sewa kapal mahal, satu miliar, dua miliyar dan dibayar di depan. Jadi di kasih 10 persen, 20 persen, saya kelola.

Jadi oke, karena kepercayaan dari bos saya bisa. Jadi mulai dari situ.

Jadi 2003 saya mulai, enam bulan saya transisi perlahan dari bos saya. Jadi sampai dengan hari ini saya punya baik dengan bos saya yang lama.

Tribun: Jadi perusahan di Pontianak ya?

IR: Gak, saya pindah ke Kalimantan Timur, jadi sebelum saya menikah, saya sudah pergi ke mana-mana. Tapi kita yang paling saya suka itu Balikpapan.

Kemudian karena saya sudah tidak punya bos karena tinggal sendiri saya potang panting cari uang, saya ke Australia 2004 pertengahan ya, dapat kontrak pertama sekitar Rp 12 miliar saat itu.

Kita coba saja, nah saya panggil karyawan yang di tempat lama. Siapa yang mau ikut saya mau siap susah ni.

Jadi 80 persen karyawan didikan saya, ada yang angkat tangan, jadi sini kita berdua kerja, kamu di sini, saya pergi-pergi nih. Kasih dia motor, saya mau Pick Up

Tribun: Saat perusahaan sudah berusia 21 tahun ya, sudah ada 22 kantor cabang?

IR: Sebenarnya cabang di Indonesia dan beberapa negara yang sudah di ini sudah ada kalau saya itu bisnis kami ini trust yang paling tinggi. network yang paling penting.

Saya enggak bukan siapa-siapa dari saya kerja dari keluarga saya bukan dari pengusaha, bukan dari yang berada, bukan pejabat, bukan pegawai ,cuman kehidupan kami sangat akrab sebagai keluarga jadi ke mana saya pergi  jaringan dapat memperkuatnya.

Almarhum ayah saya dulu ngomong santai, kita ngomong sama orang tua.

Ya karena waktu kita mau pergi-pergi itu ibu kita kan pasti projek jangan jauh-jauh kan gitu.

Jadi kalau ayah saya bilangnya enggak, anak laki-laki pergi saja, yang penting kamu jangan menipu orang tapi yang lebih bernilai kamu jangan ditipu orang cuma ini kan dalam ya kamu bergaul sebagai bebas kan jaga diri lah.

Jadi waktu terus berjalan keputusan saya tadi bukan pengin berusaha kan itu kan istilahnya insiden ya insiden nah pada saat itulah saya ke luar negeri saya cari ketemu teman.

Nah itu jaga silaturahmi, jaga kepercayaan bisnisnya tumbuh.

Gimana caranya nih supaya kita cepat karena di waktu awal dulu saya bekerja kan saya diberi ruang oleh bos. Saya ke Singapura, ke Jepang situasi Itu yang saya manfaatkan pada saat itu hubungan baik itu terjaga sampai keluar.

Karena orang mengenal perusahaan tersebut identik dengan saya tapi saya selalu bawa nama bos saya tapi karena objektif ya.

Nah ketemu teman nanti mereka rekomendasi, saya ambil keputusan saya masuk asosiasi itu namanya global link.

Tribun: Apakah pelanggan Trans Continent ada di semua negara?

IR: Tidak semua pelanggan ada di negara itu, tapi di semua benua ada.

Kita ada klien dia beli barang di Afrika, di Amerika karena teman kita semua networknya ada di situ.

Jadi dari 50 persen member kita di situ ada pekerjaan. Karena kalau mereka ke sini pasti cari kita karena dalam rekrutmen itu ada batasan. Jadi gak asal rekrutmen dia, jadi dia juga melihat kualitas.

 Karena presiden direktur yang asosiasi ini kan juga bertanggung jawab kalau ada member yang nakal, ya ada satu dua yang nakal, ada juga ada asuransinya.

Jadi saya pikir dalam bisnis expert itu sangat penting. Jadi tanpa ekspert kita tidak tau mau kerja apa nih.

Pengalaman saya di awal itu sekian 20 tahun di logistik khususnya perminyakan, pertambangan di outdoor nah itu membuat hari ini saya bekerja di luar negeri, berarti ilmu kita nih kompetibel.

Yang kedua ada trust, kenapa karena kita berdua sudah kenal, lama lama percaya, kita deal jadi hampir 95 persen kita nggak ada agreement tertulis secara perjanjian.

 Yang ada adalah ini penawaran ini kos kami, kamu jual berapa?

Jadi kalau kau jual Rp100, aku Rp120, jadi 20 ini kita bagi-bagi.

Nah yang ketiga kita memudahkan, enggak mungkin saya punya barang di Italia, cuman 5 kg apalagi saya punya barang di Itali misalnya 3.000 ton kan kita nggak ngerti juga regulasi negara mereka kan Tapi karena misalnya seperti Abang ada sana, kali paham persis ya regulasi.

Digital dengan kondisi itu berapa sih ongkosnya untuk dikirim ke Indonesia, ke Jakarta begitu saya terima Jakarta misalnya 500.000 dolar saya hitung dari Jakarta ke mana lagi nih Papua berapa berarti ini bagian saya nih.

Ya kan bagian yang sana tadi sampai ke Jakarta otomatis kan kita mantap kita sharing margin dan itu kita bayar hari ini. Jual dulu nanti bayar saya kita fifty-fity margin atau 30 per 70, itu terserah.

Kan ini memudahkan, coba bayangkan kita ada 10 negara terjadi yang sama, saya bilang tadi ini saling support

 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved