Festival Maleo Gorontalo
21 Ribu Anak Burung Maleo Dilepasliarkan di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Gorontalo
Bagus Tri Nugroho, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai TNBNW, mengungkapkan hal ini saat berbincang dengan TribunGorontalo.
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Pelepasan-Burung-Maleo-Senkawor-oleh-turis-asing-pengunjung-Taman-Nasional-Bogani-Nani-Wartabone.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Sebanyak 38.130 ekor anak burung maleo berhasil ditetaskan dan dilepasliarkan ke alam Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW).
Bagus Tri Nugroho, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai TNBNW, mengungkapkan hal ini saat berbincang dengan TribunGorontalo.com, Jumat (8/11/2024).
"Hingga Oktober 2024, kurang lebih 38.130 ekor anak maleo yang berhasil ditetaskan dan dilepasliarkan kembali ke alam," jelasnya.
Pelepasliaran anak maleo dilakukan di tiga sanctuary atau kawasan perlindungan yang tersebar di dalam taman nasional.
Adapun tiga sanctuary itu yakni Sanctuary maleo Hungayono di Kabupaten Bone Bolango, Sanctuary maleo Tambun di Kabupaten Bolaang Mongondow, dan Sanctuary maleo Muara Pusian di Kabupaten Bolaang Mongondow.
Di Sanctuary Hungayono, yang terletak di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, sekitar 21.317 anak maleo telah berhasil dikembalikan ke habitat aslinya.
Menurut Bagus, konservasi maleo di Hungayono menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Setiap bulannya, para petugas berhasil mengumpulkan sekitar 600 butir telur maleo untuk ditetaskan, yang menjadi indikasi bahwa populasi maleo di kawasan tersebut mengalami pertumbuhan.
"Jumlah telur yang berhasil dikumpulkan menunjukkan adanya pertambahan populasi maleo di alam," ujarnya.
Bagus menjelaskan bahwa dulunya, perburuan telur maleo merupakan kebiasaan umum di Sulawesi, termasuk di Gorontalo.
Telur maleo sering diperjualbelikan dan digunakan dalam berbagai upacara adat.
Namun, dengan semakin terancamnya populasi maleo, tantangan utama yang dihadapi oleh tim konservasi adalah mengubah kebiasaan masyarakat agar tidak lagi memburu telur maleo, terutama di daerah-daerah sekitar kawasan konservasi.
"Dengan status maleo yang kian terancam punah, tantangan utama konservasi adalah meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi berburu telur maleo," kata Bagus.
Selain ancaman dari manusia, maleo juga menghadapi ancaman predator alami seperti ular, serta dampak dari perubahan iklim.
Bagus mengungkapkan bahwa kawasan konservasi di Gorontalo kerap dilanda banjir akibat luapan Sungai Bone, yang mengancam habitat burung maleo.
"Kawasan konservasi di Gorontalo sering kali terdampak banjir akibat luapan Sungai Bone, yang berpotensi mengancam habitat maleo," katanya.
Melihat tantangan-tantangan tersebut, pihak taman nasional berusaha keras untuk melibatkan masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian burung maleo.
Edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga maleo dari ancaman kepunahan terus dilakukan.
"Kami berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat agar kita bisa menjaga populasi maleo tetap lestari," pungkas Bagus.
Festival Maleo Gorontalo
Festival Maleo Gorontalo kembali berlangsung di kawasan indah Danau Perintis pada 15-17 November 2024 nanti.
Dengan rangkaian kegiatan yang semakin variatif dan edukatif, festival ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pelestarian Maleo, satwa endemik khas Gorontalo yang terancam punah, sambil menyajikan berbagai hiburan menarik.
Festival Maleo Gorontalo 2024 menawarkan beragam kegiatan, mulai dari Workshop Maleo, pertunjukan kesenian, pameran, hingga pertunjukan seni budaya.
Selain itu, acara ini juga menjadi wadah edukasi lingkungan, penguatan program UMKM, dan promosi produk lokal Gorontalo.
Agenda ini untuk menciptakan kesempatan bagi para pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk mereka kepada publik yang lebih luas.
Empat lomba menarik turut meramaikan Festival Maleo Gorontalo 2024: Lomba Foto, Lomba Mewarnai, Lomba Menggambar, dan yang paling dinanti, Lomba Dayung Perahu.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bone Bolango, Yudiawan Maksum, selaku panitia PIC Bone Bolango, menjelaskan bahwa lomba-lomba ini dirancang untuk menambah daya tarik festival serta meningkatkan partisipasi warga.
Khususnya, Yudiawan berharap Lomba Dayung Perahu akan menarik antusiasme besar dari masyarakat.
Pendaftaran lomba telah dibuka sejak 30 Oktober dan akan berakhir pada 13 November 2024.(*)
| Kemeriahan Festival Maleo Gorontalo 2024, jadi Penggerak Ekonomi Lokal dan Pelestarian |
|
|---|
| Agenda Festival Maleo Gorontalo 2024 di Danau Perintis, Ada Pesta Seni, Edukasi Serta Konservasi |
|
|---|
| Upaya Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Lestarikan Burung Maleo dan Lindungi Habitatnya |
|
|---|
| Bone Bolango Kembali jadi Pusat Festival Maleo Gorontalo, Target Masuk Event Nasional Kemenpar |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.