Kamis, 12 Maret 2026

Festival Maleo Gorontalo

21 Ribu Anak Burung Maleo Dilepasliarkan di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Gorontalo

Bagus Tri Nugroho, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai TNBNW, mengungkapkan hal ini saat berbincang dengan TribunGorontalo.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto 21 Ribu Anak Burung Maleo Dilepasliarkan di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Gorontalo
DOC TNBNW
Pelepasan Burung Maleo Senkawor oleh turis asing pengunjung Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Sebanyak 38.130 ekor anak burung maleo berhasil ditetaskan dan dilepasliarkan ke alam Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW).

Bagus Tri Nugroho, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai TNBNW, mengungkapkan hal ini saat berbincang dengan TribunGorontalo.com, Jumat (8/11/2024). 

"Hingga Oktober 2024, kurang lebih 38.130 ekor anak maleo yang berhasil ditetaskan dan dilepasliarkan kembali ke alam," jelasnya.

Pelepasliaran anak maleo dilakukan di tiga sanctuary atau kawasan perlindungan yang tersebar di dalam taman nasional.

Adapun tiga sanctuary itu yakni Sanctuary maleo Hungayono di Kabupaten Bone Bolango, Sanctuary maleo Tambun di Kabupaten Bolaang Mongondow, dan Sanctuary maleo Muara Pusian di Kabupaten Bolaang Mongondow. 

Di Sanctuary Hungayono, yang terletak di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, sekitar 21.317 anak maleo telah berhasil dikembalikan ke habitat aslinya.

Menurut Bagus, konservasi maleo di Hungayono menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Setiap bulannya, para petugas berhasil mengumpulkan sekitar 600 butir telur maleo untuk ditetaskan, yang menjadi indikasi bahwa populasi maleo di kawasan tersebut mengalami pertumbuhan.

"Jumlah telur yang berhasil dikumpulkan menunjukkan adanya pertambahan populasi maleo di alam," ujarnya.

Bagus menjelaskan bahwa dulunya, perburuan telur maleo merupakan kebiasaan umum di Sulawesi, termasuk di Gorontalo.

Telur maleo sering diperjualbelikan dan digunakan dalam berbagai upacara adat.

Namun, dengan semakin terancamnya populasi maleo, tantangan utama yang dihadapi oleh tim konservasi adalah mengubah kebiasaan masyarakat agar tidak lagi memburu telur maleo, terutama di daerah-daerah sekitar kawasan konservasi.

"Dengan status maleo yang kian terancam punah, tantangan utama konservasi adalah meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi berburu telur maleo," kata Bagus.

Selain ancaman dari manusia, maleo juga menghadapi ancaman predator alami seperti ular, serta dampak dari perubahan iklim.

Bagus mengungkapkan bahwa kawasan konservasi di Gorontalo kerap dilanda banjir akibat luapan Sungai Bone, yang mengancam habitat burung maleo.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved