Pemilihan Presiden Amerika
Ini Janji Kamala Harris saat Dikalahkan Donald Trum dalam Pemilihan Presiden Amerika
Di kampus bersejarah yang sebagian besar dihuni mahasiswa kulit hitam itu, Harris mengakui kemenangan Presiden terpilih Donald Trump dan memperingatka
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Wakil-Presiden-AS-Kamala-Harris-menyampaikan-pidato.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris dengan tegas menyatakan akan terus memperjuangkan nilai-nilai yang ia kampanyekan.
Hal itu ia suarakan dalam pidato pengakuan kekalahan di hadapan para pendukungnya di Universitas Howard pada hari Rabu.
Di kampus bersejarah yang sebagian besar dihuni mahasiswa kulit hitam itu, Harris mengakui kemenangan Presiden terpilih Donald Trump dan memperingatkan akan potensi masa-masa sulit yang mungkin datang.
"Walaupun saya mengakui hasil pemilu ini, saya tidak akan mengakui kekalahan atas perjuangan yang mendasari kampanye ini," ucap Harris.
Harris berjanji untuk tetap memperjuangkan hak-hak perempuan, menentang kekerasan senjata, dan memperjuangkan martabat yang pantas diterima setiap orang.
Ia juga menghubungi Trump, memberi ucapan selamat atas kemenangannya dalam pemilihan Selasa lalu, dan berjanji untuk berpartisipasi dalam proses transisi kekuasaan yang damai.
"Hasil pemilu ini bukan yang kami harapkan, bukan yang kami perjuangkan, bukan pula yang kami pilih, tetapi dengarlah apa yang saya katakan: Cahaya janji Amerika akan selalu bersinar terang," katanya.
Suasana yang muram ini sangat kontras dengan euforia saat ribuan mahasiswa dan alumni berkumpul beberapa minggu lalu untuk merayakan kemungkinan kemenangan lulusan Universitas Hitam Bersejarah pertama sebagai presiden negara itu.
Rabu itu, Harris berbicara di hadapan hadirin yang di antaranya termasuk mantan Ketua DPR Nancy Pelosi, sejumlah staf Gedung Putih Presiden Joe Biden, dan ribuan penggemar.
Lagu "Freedom" karya Beyoncé mengiringi saat ia memasuki panggung, dengan Gubernur Minnesota Tim Walz, pasangan kampanyenya, bergabung di tengah kerumunan.
"Prinsip mendasar dari demokrasi Amerika adalah ketika kita kalah dalam pemilu, kita menerima hasilnya. Prinsip ini, sama seperti prinsip lainnya, membedakan demokrasi dari monarki atau tirani, dan siapa pun yang mencari kepercayaan publik harus menghormatinya," ujar Harris, merujuk pada upaya Trump sebelumnya yang mempertanyakan legitimasi pemilu.
Harris mendorong para pendukungnya, terutama kaum muda, untuk tidak menyerah meski merasa kecewa.
"Terkadang perjuangan memakan waktu lama. Itu tidak berarti kita tidak akan menang."
Harris naik ke puncak mencalonkan presiden dari Demokrat pada Juli lalu setelah Biden mengundurkan diri dari kontestasi.
Kehadirannya memberikan semangat baru serta dana kampanye yang melimpah, namun ia kesulitan meyakinkan pemilih atas isu ekonomi dan imigrasi.
| Rusia akan Tunggu Donald Trump Penuhi Janji untuk Akhiri Perang di Ukraina |
|
|---|
| Bagaimana Nasib Gaza setelah Donald Trump Menang di Pilpres AS?, Bisa Jadi Israel Punya Wilayah Baru |
|
|---|
| Donald Trump Kini Kembali Jadi Presiden Ke-47 Amerika Serikat, Dulu Jadi Presiden Tahun 2017 |
|
|---|
| Pilpres Amerika Serikat Telan Biaya 15,9 Miliar Dolar, Jadi Pilpres Termahal Dalam Sejarah |
|
|---|
| BREAKING NEWS: Trump Klaim Menang Pilpres Amerika, Harris Masih Tunggu Hasil Penghitungan |
|
|---|