Jumat, 6 Maret 2026

Banjir di Kota Gorontalo

Banjir Kembali Rendam Kota Gorontalo, Seniman Kritik Pemerintah Pakai Karya, Ini Artinya

Hal itu yang ia lakukan saat ini ketika sebagian wilayah Gorontalo, termasuk ibukota daerah berjuluk Serambi Madinah terendam banjir sejak Rabu, 10 Ju

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Banjir Kembali Rendam Kota Gorontalo, Seniman Kritik Pemerintah Pakai Karya, Ini Artinya
Yayat Gokilz
Karya seni Mohamad Hidayat Dangkua dengan nama bekeng Yayat Gokilz. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Seorang seniman Gorontalo dengan nama beken "Yayat Gokilz" menyindir pemerintah dengan karyanya.

Pria bernama lengkap Mohammad Hidayat Dangkua ini memang kerap menyindir masalah sosial melalui karya-karyanya. 

Hal itu yang ia lakukan saat ini ketika sebagian wilayah Gorontalo, termasuk ibukota daerah berjuluk Serambi Madinah terendam banjir sejak Rabu, 10 Juli 2024. 

Sebagai informasi, banjir memang jadi momok bagi warga Kota Gorontalo. Terutama jika Sungai Bone maupun Sungai Bolango meluap.

Sebagai informasi, Sungai Bone dan Sungai Bolango berhulu di Kabupaten Bone Bolango. Nama daerah ini memang diambil dari dua nama sungai tersebut. 

Seorang bocah laki-laki berjalan di tengah banjir bandang di Kelurahan Heledulaa Selatan, Kota Timur, Kota Gorontalo, Kamis (11/7/2-24).
Seorang bocah laki-laki berjalan di tengah banjir bandang di Kelurahan Heledulaa Selatan, Kota Timur, Kota Gorontalo, Kamis (11/7/2-24). (FOTO: Wawan Akuba, TribunGorontalo.com)

Yayat melalui karyanya, melukiskan nestapa Kota Gorontalo dalam balutan warna kelam.

Langit biru tua yang mendung menyelimuti kota, seakan meratapi pilunya nasib warga.

Di bawahnya, rumah-rumah bak kehilangan pijakan, setengah terbenam dalam air bah berwarna coklat pekat.

Simbolisasi air kotor ini tak hanya mencerminkan fisik, tapi hal lainnya yang tercemar.

Di tengah lautan duka, ironi tergambar jelas. Barang-barang hanyut tak tentu arah: tulang ikan berdampingan dengan piring, sandal sebelah kiri bersandingan dengan kursi plastik dan galon air.

Sapi bertanduk pun tak luput dari terjangan arus deras. Semuanya menjadi korban bisu ambisi pembangunan yang tak terkendali.

Namun, Yayat tak berhenti di situ. Di tengah keputusasaan, secercah sindiran tajam muncul.

Sebuah tangan kurus terulur dari balik air keruh, menggenggam erat Piala Adipura.

Penghargaan bergengsi di bidang lingkungan ini, bagaikan tamparan bagi ironi.

Di manakah kelestarian yang dijunjung tinggi, ketika kota tenggelam dalam kotoran dan derita?

Karyanya berjudul "Anu didi pusingi rayati", bukan sekadar gambar, melainkan tamparan keras bagi realita pahit yang mencengkeram ibukota berusia 296 tahun ini.

Judul karya Yayat ini berbahasa Gorontalo, jika diterjemahkan kurang lebih artinya "Jika hujan, rakyatlah yang melarat". (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved