Banjir di Kota Gorontalo
Banjir Kembali Rendam Kota Gorontalo, Seniman Kritik Pemerintah Pakai Karya, Ini Artinya
Hal itu yang ia lakukan saat ini ketika sebagian wilayah Gorontalo, termasuk ibukota daerah berjuluk Serambi Madinah terendam banjir sejak Rabu, 10 Ju
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Karya-seni-Mohamad-Hidayat-Dangkua-dengan-nama-bekeng-Yayat-Gokilz.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Seorang seniman Gorontalo dengan nama beken "Yayat Gokilz" menyindir pemerintah dengan karyanya.
Pria bernama lengkap Mohammad Hidayat Dangkua ini memang kerap menyindir masalah sosial melalui karya-karyanya.
Hal itu yang ia lakukan saat ini ketika sebagian wilayah Gorontalo, termasuk ibukota daerah berjuluk Serambi Madinah terendam banjir sejak Rabu, 10 Juli 2024.
Sebagai informasi, banjir memang jadi momok bagi warga Kota Gorontalo. Terutama jika Sungai Bone maupun Sungai Bolango meluap.
Sebagai informasi, Sungai Bone dan Sungai Bolango berhulu di Kabupaten Bone Bolango. Nama daerah ini memang diambil dari dua nama sungai tersebut.
Yayat melalui karyanya, melukiskan nestapa Kota Gorontalo dalam balutan warna kelam.
Langit biru tua yang mendung menyelimuti kota, seakan meratapi pilunya nasib warga.
Di bawahnya, rumah-rumah bak kehilangan pijakan, setengah terbenam dalam air bah berwarna coklat pekat.
Simbolisasi air kotor ini tak hanya mencerminkan fisik, tapi hal lainnya yang tercemar.
Di tengah lautan duka, ironi tergambar jelas. Barang-barang hanyut tak tentu arah: tulang ikan berdampingan dengan piring, sandal sebelah kiri bersandingan dengan kursi plastik dan galon air.
Sapi bertanduk pun tak luput dari terjangan arus deras. Semuanya menjadi korban bisu ambisi pembangunan yang tak terkendali.
Namun, Yayat tak berhenti di situ. Di tengah keputusasaan, secercah sindiran tajam muncul.
Sebuah tangan kurus terulur dari balik air keruh, menggenggam erat Piala Adipura.
Penghargaan bergengsi di bidang lingkungan ini, bagaikan tamparan bagi ironi.
Di manakah kelestarian yang dijunjung tinggi, ketika kota tenggelam dalam kotoran dan derita?
Karyanya berjudul "Anu didi pusingi rayati", bukan sekadar gambar, melainkan tamparan keras bagi realita pahit yang mencengkeram ibukota berusia 296 tahun ini.
Judul karya Yayat ini berbahasa Gorontalo, jika diterjemahkan kurang lebih artinya "Jika hujan, rakyatlah yang melarat". (*)
| BWS Sulawesi II Gorontalo Izinkan Warga Jebol Tanggul, Janji Kirim Alat Besar di Kelurahan Dembe |
|
|---|
| Muak 7 Bulan Rumah Tergenang Banjir, Warga Dembe Kota Gorontalo Nekat Jebol Tanggul Danau Limboto |
|
|---|
| 2 Bulan Pasutri Korban Banjir Ini Tinggal di Tenda, Hanya Bisa Pasrah Menunggu Bantuan Pemerintah |
|
|---|
| SDN 13 Kota Barat Gorontalo Masih Terendam Banjir, Libur Terpaksa Diperpanjang |
|
|---|
| BNPB Gelontorkan Dana Tanggulangi Darurat Bencana Provinsi Gorontalo Rp 2 Miliar |
|
|---|