Kamis, 12 Maret 2026

Judi Online

Tanggapan Sosiolog Momy Hunowu Soal Fenomena Judi Online

Sosiolog IAIN Sultan Amai Gorontalo, Momy Hunowu, melihat fenomena tersebut dapat terjadi karena sejumlah hal.

Tayang:
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Ponge Aldi
zoom-inlihat foto Tanggapan Sosiolog Momy Hunowu Soal Fenomena Judi Online
Dok Momy Hunowu
Sosiolog IAIN Sultan Amai Gorontalo, Momy Hunowu 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Tanggapan Sosiolog, Momy Hunowu terkait maraknya fenomena judi online

Belakangan ini, judi online marak terjadi di berbagai lapisan masyarakat, hingga menyentuh kalangan pejabat negara.

Sosiolog IAIN Sultan Amai Gorontalo, Momy Hunowu, melihat fenomena tersebut dapat terjadi karena sejumlah hal.

Momy menyebutkan ragam aspek yang menjadi latar belakang mengapa kalangan berdasi dapat terlibat aktivitas judi online.

Dua aspek pertama yang ia soroti yakni aspek sosial dan ekonomi.

Penghasilan para pejabat yang terbilang stabil bahkan berlimpah, menurut Momy, membentuk gaya hidup yang penuh obsesi untuk terus mengejar status ekonomi kelas atas yang dielu-elukan.

Tak ayal, obsesi itu lahir untuk memenuhi ekspektasi pendukungnya.

"Kaum berdasi tak jarang menghadapi tekanan sosial dan ekonomi yang tinggi. Mereka merasa dituntut untuk mempertahankan gaya hidup serta memenuhi ekspektasi dan permintaan para pendukung," kata Momy kepada TribunGorontalo.com, Jumat (28/6/2024).

Bak gayung bersambut, aspek kecanggihan teknologi kemudian mewadahi tekanan yang dirasakan oleh oknum wakil rakyat ini.

Aktivitas judi online adalah proses yang dapat diakses dengan cepat dan mudah.

Momy melihat peluang ini menjadi opsi pelarian menarik.

"Judi online dapat menjadi pelarian dari tekanan ini, menawarkan harapan cepat untuk memperoleh uang tambahan," tukasnya.

Selanjutnya, Momy menyebutkan aspek beban kerja yang menumpuk juga menjadi faktor penyebab para pejabat negara melakukan judi online.

"Beban kerja yang berat dan tanggung jawab yang tinggi dapat membuat kaum berdasi mencari cara untuk meredakan stres dan tekanan," sebutnya.

Sementara, Momy menilai, meski mengemban beban kerja dan tanggung jawab besar, kaum berdasi sebetulnya memiliki cukup banyak Waktu luang.

Lagi-lagi, kemudahan yang ditawarkan judi online menjadi hiburan yang menggiurkan.

"Dalam kondisi seperti ini, kesenangan dan hiburan menjadi kebutuhan utama, dan judi online menawarkan bentuk hiburan yang mudah diakses dan menarik. atau bahkan sekadar melarikan diri dari kenyataan yang menekan," tutur Momy.

Fenomena judi online makin dianggap normal Ketika satu pejabat melakukannya, alih-alih mendapat sanksi sosial, malah dicontoh oleh kolega lainnya.

Terakhir, Momy juga menyebutkan di beberapa kasus judi online yang dilakukan para pejabat negara, disebabkan karena aspek agama.

"Dalam beberapa kasus, terjeratnya kaum berdasi dalam judi online dapat mencerminkan krisis moral dan etika. Dangkalnya pemahaman agama dan menjauh dari ketenangan spiritual yang ditawarkan agama," kata Momy.

Tergerusnya moral dan etika serta dangkalnya pemahaman agama, sambung Momy, membuat para pejabat negara mengambil keputusan yang tidak bijaksana. Sekalipun mereka adalah orang yang dihormati dan disegani.

"Daripada melakukan korupsi untuk menyuap demi mempertahankan kekuasaan, yang akan berdampak pidana, lebih aman kiranya  berjudi online," tandasnya.

Diketahui, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat transaksi dari aktivitas judi online mencapai Rp 600 triliun periode Januari-Maret 2024, melansir dari Tribunnews.com. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved