Kematian Bayi Popayato
Dokter Anak Pohuwato Marahi Kapuskes soal Kematian Anak di Popayato Gorontalo, Disebut Santai-santai
Ia menegaskan bahwa bayi dengan kondisi BBLR harus segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas yang memadai. (*)
Penulis: Rahman Halid | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Suasana-rapat-dengar-pendapat-RDP-di-kantor-DPRD-Pohuwato-Gorontalo-Selasa-1452024.jpg)
Bahkan, saat istri dan bayi tersebut dipersilahkan pulang ke rumah pada 3 April 2024, tidak ada catatan atau pesan dari dokter yang diberikan kepada keluarga.
"Waktu itu anak saya dimasukan di inkubator, tapi Cuma 15 menit. Saya sempat protes, tapi kata perawat saat itu, ada pasien yang melahirkan lagi sehingga anak saya terpaksa harus dikeluarkan dari inkubator," ungkapnya.
Kondisi bayi ZSU semakin memburuk pada tanggal 13 April 2024, hingga akhirnya harus dibawa kembali ke Puskesmas Popayato.
Namun, kesalahan terjadi ketika proses rujukan yang seharusnya dilakukan pada malam itu tertunda karena petugas yang bertugas ketiduran.
Baca juga: Kepala Departemen Personel Kementerian Pertahanan Rusia Ditangkap Diduga Suap
"Perut anak saya bengkak dan tanggal 13 itu kami bawa lagi ke Puskesmas. Sekitar jam 8 malam, kata petugas saat itu anak saya akan dirujuk. Saya tunggu sampai keesokan paginya jam 9, kenapa anak saya belum juga dirujuk. Mereka menjawab bahwa, sebenarnya semalam sudah akan dirujuk, hanya saja petugasnya ketiduran,” ungkap Mulyanto dengan geram.
Baru pada tanggal 14 April 2024, bayi ZSU akhirnya dirujuk ke RSUD Bumi Panua Pohuwato dengan kondisi yang semakin memburuk, sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Kandou di Manado, Sulawesi Utara, di mana ia akhirnya meninggal dunia.(*)