Sejarah dan Budaya
Menelusuri Sejarah Empat Kerajaan di Paguat Gorontalo, Bukti-bukti Masih Dicari
Ia mengatakan bahwa Paguat memiliki kisah tertua dari semua kecamatan yang berada di Kabupaten Pohuwato.
Penulis: Rahman Halid | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2212024_Benda-benda-peninggalan-dari-4-kerajaan-Paguat.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Pohuwato - Kecamatan Paguat di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, menyimpan sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri.
Salah satu kisahnya adalah tentang empat kerajaan besar di wilayah tersebut sejak tahun 1851.
Kisah ini diceritakan oleh Yusuf Zaid, tokoh adat sekaligus imam besar Kecamatan Paguat.
Ia mengatakan bahwa Paguat memiliki kisah tertua dari semua kecamatan yang berada di Kabupaten Pohuwato.
Baca juga: Makam Raja Hubulo Gorontalo, Lokal Hingga Turis Belanda Datang Berziarah
Kisah ini berawal dari Putri Owutango, putri dari Kerajaan Palasa, yang dipersunting oleh Sultan Amai dari Kerajaan Gorontalo.
Putri Owutango didampingi oleh empat pengawal, yaitu Tudii, Papasinge, Dai Sambarane, dan Kasimu.
Selang sepuluh tahun, setelah Putri Owutango memiliki beberapa anak, terjadilah konflik keluarga antara Sultan Amai dan Putri Owutango. Perceraian pun tidak bisa dihindari.
Putri Owutango memutuskan untuk pulang ke Kerajaan Palasa. Dalam perjalanan melintasi laut Gorontalo, Putri Owutango dan keempat pengawalnya mengalami masalah ombak dan angin kencang.
Mereka pun memutuskan untuk berhenti di pantai Paguyaman.
Di pantai Paguyaman, Putri Owutango bertemu dengan Raja Ternate bernama Badullah.
Mereka pun menikah dan Putri Owutango dibawa ke Ternate.
Sementara itu, keempat pengawal Putri Owutango meneruskan perjalanan ke Tomini, Sulawesi Tengah.
Namun, mereka dihadang oleh bajak laut Suku Minandau. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menetap di Kecamatan Paguat dan membangun kerajaan masing-masing.
Keempat kerajaan tersebut adalah Kerajaan Sipayo, Kerajaan Bunuyo, Kerajaan Soginti, dan Kerajaan Siduan. Pusat pemerintahannya berada di Desa Sipayo.
Yusuf Zaid mengatakan bahwa pihaknya bersama tokoh adat di Kecamatan Paguat sedang mengumpulkan bukti-bukti dari keempat kerajaan tersebut.
Bukti-bukti tersebut berupa makam para raja, meriam, tambur, tombak, dan bedug tua yang berumur ratusan tahun.
"Kami percaya bahwa kisah ini benar adanya. Kami akan terus berjuang untuk membuktikannya," kata Yusuf Zaid.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Adat di Kecamatan Paguat
Sebelumnya Bupati Pohuwato, Saiful Mbuinga mengatakan Pemerintah Kabupaten Pohuwato mendukung penuh dibuatkannya Rumah Adat khusus di Kecamatan Paguat.
Dikatakan Saipul, saat ini sejarah warisan budaya harus di lestarikan untuk anak cucuk ke depan.
Sehingga rencananya, di Kecamatan Paguat akan dibuatkan Rumah Adat untuk menampung seluruh bukti sejarah dari Kecamatan Paguat.
Djafar Monoarfa, Kepala Desa Sipayo, menyampaikan pihaknya senang akan dibuatkannya rumah adat di Kecamatan Paguat.
"Adanya Rumah adat, pastinya tidak akan ada perdebatan lagi," ujarnya.
Katanya, ada bukti tulisan sejarah 4 raja di Paguat, tetapi belum disebarluaskan secara umum.
"Ada itu bukti tulisan sejarah mereka, hanya saja kami belum buatkan buku, karena masih ada yang belum terlalu yakin dengan 4 kerajaan besar di Paguat itu," tuturnya.
Dikutip dari ulasan singkat yang ditulis Arman Mohammad, hingga hari ini 4 wilayah yang menjadi kekuasaan dari 4 raja kecil tersebut telah menjadi wilayah administratif desa dan kelurahan di kecamatan Paguat dengan otonomi adat tersendiri sedikit berbeda dari adat Gorontalo pada umumnya.
Keberadaan 4 kerajaan ini dikelilingi oleh wilayah yang melaksanakan adat Gorontalo yg disebut Udulaa atau Ta To Inggimo.
Juga disebut Wombu Walao, sedangkan 4 desa dengan adat Tomini disebut Uwililingga Wopato atau Ti Yombu Tiyamo.
Ta Toinggimo terdiri dari bagian utara disebut Ti Panggulo, yakni Desa Popaya sebelum Dengilo mekar menjadi kecamatan.
Bagian Timur Ti Dulomo yakni Desa Tabulo sebelum mekar menjadi Kecamatan Mananggu.
Bagian Selatan Ti Bubohu yang kini Kelurahan Pentadu.
Bagian Barat Milango Lo Taluhu yakni Marisa sekarang dan telah menjadi satu Kecamatan.
4 raja ini masing -masing memiliki keahlian.
Raja Soginti bernama Dai Sambarane memiliki ketrampilan sebagai tukang, ahli membuat rumah dan perabotan.
Raja Sipayo bernama Papasinge terampil sebagai Mubaligh dan ahli Agama.
Raja Bunuyo bernama Kasimu sebagai tukang besi. Pandai membuat tombak, pedang dan badik (poddupawa).
Raja Siduan bernama Pudii ahli pengobatan (tiduwa) dan membuat alat tangkap ikan (jala). (*)
empat kerajaan Paguat
Gorontalo
Paguat
Yusuf Zaid
Putri Owutango
Kerajaan Palasa
Tudii
Papasinge
Dai Sambarane
Kasimu
| Jejak Islam di Gorontalo, Masjid Sabilulhuda ‘Boki Owutango’ Berdiri Sejak 1525 |
|
|---|
| Sejarah Masjid Hunto Sultan Amai Gorontalo, Dibangun Sebagai Mahar Raja |
|
|---|
| Usai Temukan Jejak Leluhur di Gorontalo, 2 Turis Asal Belanda Akan Temui Keturunan yang Masih Hidup |
|
|---|
| 2 WNA Belanda Cari Keluarganya di Gorontalo, Modal Foto Temukan Rumah dan Makam Kakek Nenek |
|
|---|
| Benda Sejarah Gorontalo Mulai Dipulangkan dari Manado, Termasuk Tengkorak Manusia Oluhuta |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.