Berita Kabupaten Pohuwato
Ribuan Hektare Mangrove jadi Tambak Ikan Dinilai Merusak Identitas Kabupaten Pohuwato
Ancaman kerusakan hutan mangrove di Gorontalo masih menjadi perhatian tersendiri. Khususnya, hutan mangrove di Kabupaten Pohuwato.
Penulis: Rahman Halid | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Penampakan-mangrove-yang-telah-berubah-jadi-tambak-ikan.jpg)
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Resort Cagar Alam Panua Wilayah II Pohuwato mengungkapkan betapa pentingnya menjaga habitat burung maleo.
Aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI) hingga penebangan liar di hutan mangrove Pohuwato disebut mengancam habitat burung maleo.
Menurut Kepala Resort Cagar Alam Panua Fransisxo Guru Singa Tambunan, burung maleo merupakan burung endemik Sulawesi yang perlu dilestarikan.
"Kami menganggap Burung Maleo adalah ikon Pohuwato sehingga perlu untuk kita jaga bersama," tandasnya kepada TribunGorontalo.com, Rabu (3/11/2024)
Saat ini, kata Fransisxo, kondisi burung maleo di hutan mangrove sangat memprihatinkan.
"Saya pikir semua sadar, mangrove adalah salah satu tempat tinggal burung endemik ini dan mangrove adalah tempat mereka. Tetapi saat ini di lokasi saya begitu sangat memprihatinkan, penebangan di mana-mana," ungkapnya.
Dengan luas hutan mencapai 36.575 disebut seharusnya jumlah burung maleo di Kabupaten Pohuwato.
"Seiring kita menjaga dan melestarikan tempat hidup mereka, ke depan populasi mereka akan bertambah. Dan itu perlu syukuri, tetapi saat ini berbanding terbalik," imbuhnya.
Keberadaan burung maleo yang terancam pun dianggap merusak ikon daerah itu sendiri.
"Kalaupun ke depan berkurang jumlah populasi burung Maleo di Pohuwato, maka Pohuwato akan mengalami krisis identitas. Dalam artian tidak mampu menjaga icon daerah," tandasnya.