Berita Pohuwato
Penebangan Liar di Hutan Mangrove Pohuwato Mengancam Habitat Burung Maleo
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Resort Cagar Alam Panua Wilayah II, mengungkapkan betapa pentingnya menjaga lingkungan dan tempat hidup burung Maleo
Penulis: Rahman Halid | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1532023_burung-maleo_001.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Pohuwato – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Resort Cagar Alam Panua Wilayah II Pohuwato mengungkapkan betapa pentingnya menjaga habitat burung maleo.
Aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI) hingga penebangan liar di hutan mangrove Pohuwato disebut mengancam habitat burung maleo.
Menurut Kepala Resort Cagar Alam Panua Fransisxo Guru Singa Tambunan, burung maleo merupakan burung endemik Sulawesi yang perlu dilestarikan.
"Kami menganggap Burung Maleo adalah ikon Pohuwato sehingga perlu untuk kita jaga bersama," tandasnya kepada TribunGorontalo.com, Rabu (3/11/2024)
Saat ini, kata Fransisxo, kondisi burung maleo di hutan mangrove sangat memprihatinkan.
"Saya pikir semua sadar, mangrove adalah salah satu tempat tinggal burung endemik ini dan mangrove adalah tempat mereka. Tetapi saat ini di lokasi saya begitu sangat memprihatinkan, penebangan di mana-mana," ungkapnya.
Dengan luas hutan mencapai 36.575 disebut seharusnya jumlah burung maleo di Kabupaten Pohuwato.
"Seiring kita menjaga dan melestarikan tempat hidup mereka, ke depan populasi mereka akan bertambah. Dan itu perlu syukuri, tetapi saat ini berbanding terbalik," imbuhnya.
Keberadaan burung maleo yang terancam pun dianggap merusak ikon daerah itu sendiri.
"Kalaupun ke depan berkurang jumlah populasi burung Maleo di Pohuwato, maka Pohuwato akan mengalami krisis identitas. Dalam artian tidak mampu menjaga icon daerah," tandasnya.
Baca juga: BREAKING NEWS: 35 Tersangka Kasus Pembakaran Kantor Bupati Pohuwato Dilimpahkan ke PN Gorontalo
Ribuan maleo hidup di hutan mangrove
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort cagar alam Panua mengungkapkan saat ini jumlah burung maleo mencapai 5 ribuan selama kurun waktu 15 tahun.
"Sesuai data fisik kami jumlah burung maleo di tahun 2008 600 lebih, sehingga kalau di kalkulasi sampai dengan tahun 2023 mencapai 5 ribu lebih untuk indukannya," kata Tatang Abdullah Kepala Resort Tanjung Panjang Kabupaten Pohuwato kepada TribunGorontalo.com, Rabu (3/1/2024).
"Dari beberapa tempat penangkaran sekitar 700 lebih telah ditangkarkan. Selebihnya telur dari burung Maleo yang masih sementara proses dipindahkan," imbuhnya.
Saat ini, lanjut Tatang, sebaran dari burung Maleo berada di hamparan hutan mangrove Pohuwato dengan luas lahan kurang lebih 36.575 hektare (ha).