Coldplay

Kontroversi Konser Coldplay di Indonesia, Ini Sejarah Grup Musik Rock Inggris

Kontroversi konser Coldplay pada 15 November 2023 makin meluas. Ragam alasan kekhawatiran hadirnya grup musik asal Inggris itu.

Editor: Lodie Tombeg
Kolase TribunGorontalo.com
Personel Coldplay; Chris Martin, Jonny Buckland, Guy Berryman dan Will Champion. Kontroversi konser Coldplay pada 15 November 2023 makin meluas. Ragam alasan kekhawatiran hadirnya grup musik asal Inggris itu. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Kontroversi konser Coldplay pada 15 November 2023 makin meluas. Ragam alasan kekhawatiran hadirnya grup musik asal Inggris itu.

Mulai bakal ada kampanyekan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) hingga dapat mengaruhi penggemarnya di Indonesia.

Ribut soal Coldplay, TribunGorontalo.com mencoba mengurai sejarah grup musik asal Inggris ini. Berikut artikelnya dikutip dari wikipedia.org.

Coldplay adalah grup musik rock Inggris yang dibentuk tahun 1997. Saat ini beranggotakan Chris Martin sebagai vokalis, Jonny Buckland sebagai gitaris, Guy Berryman sebagai bassis, Will Champion sebagai drumer dan perkusionis, dan Phil Harvey sebagai pengarah kreatif.

Anggota Coldplay

  • Chris Martin – vokalis utama, piano/kibor, gitar
  • Jonny Buckland – gitaris utama, harmonika, vokal latar
  • Guy Berryman – bassis, penyintesis, harmonika, vokal latar
  • Will Champion – drum/perkusi, piano, vokal latar
  • Phil Harvey – manajer (1998–2002), pengarah kreatif (2006–sekarang)

Mereka bertemu saat menjalani kuliah di University College London (UCL) dan mulai bermusik sejak 1997 hingga 1998, awalnya bernama Starfish.

Setelah merilis EP pertamanya, Safety (1998), Coldplay mulai menandatangani kontrak dengan Parlophone tahun 1999.

Album debutnya, Parachutes (2000), memuat singel perdananya "Yellow" meraih Penghargaan Brit untuk Album Britania Raya Tahun Ini, Penghargaan Grammy untuk Album Alternatif Terbaik, dan nominasi Mercury Prize.

Album keduanya, A Rush of Blood to the Head (2002), memenangkan prestasi yang sama, berisi singel "Clocks" yang berhasil memenangkan Penghargaan Grammy untuk Rekaman Terbaik Tahun Ini. Album ketiganya, X&Y (2005), yang melengkapi "trilogi" mereka, serta album keempat, Viva la Vida or Death and All His Friends (2008), kedua-duanya dinominasikan di Penghargaan Grammy untuk Album Rock Terbaik, yang terakhir menang; keduanya menjadi album dengan penjualan terbaik pada masing-masing tahun, memuncaki tangga album di 30 negara.

Viva la Vida juga dinominasikan sebagai Album Terbaik Tahun Ini, dan trek judulnya menjadi singel pertama bagi grup musik Britania Raya yang secara simultan menduduki posisi pertama di Britania Raya dan Amerika Serikat sepanjang abad ke-21.

Coldplay kemudian mendiversifikasi suaranya selama 5 album studio berikutnya, yang terbaru adalah Music of the Spheres (2021).

Setiap album memuat tema yang khas dan menambah gaya-gaya baru ke dalam repertoar aslinya, seperti electronica, ambien, pop, R&B, klasik, dan rock progresif.

Mereka dikenal karena penampilan panggungnya yang "euforis" dan "menghanyutkan", yang dianggap NME sebagai "sangat hidup dan paling masuk akal".

Pada 2018, sebuah film dokumenter yang disutradarai Mat Whitecross dirilis di bioskop untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-20.

Dengan 100 juta album terjual, Coldplay menjadi artis musik terlaris. Menurut Fuse, mereka menjadi grup musik keenam yang banyak diberi penghargaan sepanjang sejarah, termasuk yang terbanyak dinominasikan dan menang pada Penghargaan Brit.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved