Coldplay

Kontroversi Konser Coldplay di Indonesia, Ini Sejarah Grup Musik Rock Inggris

Kontroversi konser Coldplay pada 15 November 2023 makin meluas. Ragam alasan kekhawatiran hadirnya grup musik asal Inggris itu.

Editor: Lodie Tombeg
Kolase TribunGorontalo.com
Personel Coldplay; Chris Martin, Jonny Buckland, Guy Berryman dan Will Champion. Kontroversi konser Coldplay pada 15 November 2023 makin meluas. Ragam alasan kekhawatiran hadirnya grup musik asal Inggris itu. 

Mereka juga menjadi band ketujuh yang sukses menyelenggarakan tur konser dengan pendapatan kotor terbesar, ketiga pada 50 album dengan penjualan terbaik di Britania Raya, album pertama di negara tersebut, artis yang mendapatkan posisi pertama dengan semua album studionya, dan menjadi grup Inggris pertama yang debut di posisi pertama pada Billboard Hot 100.

Coldplay menjadi band paling berpengaruh pada abad ke-21, dan Forbes menyebutnya sebagai acuan skena alternatif.

Rock and Roll Hall of Fame memasukkan album A Rush of Blood to the Head sebagai "200 Album Definitif" dan singel "Yellow" sebagai "Lagu Pembentuk Rock and Roll", sehingga menjadi salah satu rekaman tersukses dan penting dalam sejarah industri musik.

Terlepas dari popularitas dan pengaruhnya, Coldplay telah mendapatkan reputasi sebagai ikon musik yang terpolarisasi.

Sejarah

1997–1999: Pembentukan dan tahun pertama

Perubahan nama terakhir atas persetujuan teman dekat dan sesama mahasiswa UCL, Tim Crompton.

Tim sedang mengajak teman sekolah lamanya untuk membentuk band (yakni, Bettina Motive).

Sembari menunggu mobil pengangkut yang molor, ia mempertimbangkan nama itu setelah menemukan salinan buku Philip Horky, Child's Reflections, Cold Play.

Tim memiliki daftar nama potensial tetapi Cold Play langsung ditolak; dan temannya juga tidak menyukainya, sehingga mereka membuangnya. Starfish dengan senang hati mengambilnya.
—Life in Technicolor: A Celebration of Coldplay, 2018

Chris Martin dan Jonny Buckland pertama kali bertemu saat menjalani orientasi studi dan pengenalan kampus di UCL, September 1996. Mereka berdua mulai menulis lagu pada 1997 dan latihan setiap malam.

Guy Berryman menjadi orang ketiga yang bergabung dan merekam demo tanpa drumer, mereka menamai bandnya sebagai Big Fat Noises pada November.

Pada 1998, Will Champion melengkapi keanggotaannya. Ia menjelaskan bahwa Martin, Buckland, dan Berryman datang ke rumahnya karena teman sekamarnya punya drum dan drummer yang bagus, tetapi belum datang, "jadi aku coba-coba saja".

Champion menjadwalkan tur konser mereka beberapa hari setelah bergabung. Mereka belum menyepakati sebuah nama, dan menamakan diri mereka Starfish. Tur dilaksanakan 16 Januari 1998 di The Laurel Tree, Camden.

Mereka menyepakati Coldplay beberapa minggu kemudian. Pada Mei 1998, band tersebut merilis Safety, sebuah EP yang didanai oleh teman dekat mereka, Phil Harvey.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved