Coldplay
Kontroversi Konser Coldplay di Indonesia, Ini Sejarah Grup Musik Rock Inggris
Kontroversi konser Coldplay pada 15 November 2023 makin meluas. Ragam alasan kekhawatiran hadirnya grup musik asal Inggris itu.
"Tiga hari berikutnya, kami merasa sengsara, kami memintanya untuk kembali. Mereka membuatku banyak minum vodka dan jus cranberry untuk mengenang betapa buruknya pekerjaan yang kulakukan".
Setelah mereka islah, band tersebut mulai mengerjakan materi secara demokratis, dan menetapkan peraturan bahwa setiap anggota yang menggunakan narkoba akan dikeluarkan dari grup, seperti yang ditetapkan R.E.M. dan U2.
2000–2001: Parachutes
Coldplay performing "Yellow" live in 2005
Coldplay menyanyikan lagu "Yellow", lagu hit terobosan mereka, dari album debut Parachutes, pada tahun 2005.
Grup musik ini merencanakan untuk merekam album debut mereka, Parachutes, selama dua minggu. Namun, karena kesibukan konser, rekaman dilakukan antara September 1999 dan April–Mei 2000.
Album ini direkam di Rockfield Studios, Matrix Studios, dan Wessex Sound Studios dengan produser Ken Nelson, meski sebagian besar lagu Parachutes direkam di Parr Street Studios Liverpool (di mana mereka menggunakan tiga ruang studio). Teknisi audio Amerika Serikat Michael Brauer di New York ditugasi untuk proses mixing.
Selama waktu itu mereka bermain di Carling Tour, yang banyak menampilkan artis pendatang baru.
Setelah merilis 2 EP tanpa lagu hits, Coldplay menapaki hit Top 40 dengan merilis singel utama dari Parachutes, "Shiver", yang dirilis Maret 2000, pekan yang sama ketika Coldplay bermain sebagai penampil pendukung band Terris di The Forum, Tunbridge Wells dalam acara NME Premier Tour.
"Shiver" memuncaki posisi ke-35 position pada UK Singles Chart. Juni 2000 menjadi titik balik Coldplay: band tersebut menyelenggarakan tur penampil utama pertamanya, termasuk penampilan di Festival Glastonbury.
Band ini juga merilis lagu "Yellow"; sebagai rilis pertama yang mencapai 5 besar dan naik ke posisi keempat UK Singles Chart.
Video musik "Yellow", yang dikenal cukup minimalis, disyuting di Studland Bay, Dorset, dan menampilkan Martin menyanyi lagu tersebut dalam satu kali pengambilan saat ia berjalan di tepi pantai.
"Yellow" dan "Shiver" awalnya dirilis sebagai EP pada musim semi 2000. "Yellow" dirlis sebagai singel di Britania Raya pada 26 Juni 2000.
Di Amerika Serikat, lagu itu dirilis sebagai singel utama dari album debut yang awalnya tak berjudul. Pada Oktober 2000, trek tersebut dikirim ke radio alternatif dan radio kampus di Amerika Serikat.
Coldplay merilis Parachutes pada 10 Juli 2000 di Britania Raya melalui label rekaman mereka, Parlophone.
Album ini debut di posisi pertama pada UK Albums Chart.[39] Di Amerika Utara, album tersebut dirilis 7 November 2000 oleh label rekaman Nettwerk.
Album ini juga tersedia dalam berbagai format sejak perilisan awal; baik Parlophone dan Nettwerk merilisnya sebagai CD pada tahun 2000, dan juga dirilis sebagai kaset oleh label Amerika Serikat, Capitol, pada tahun 2001.
Tahun berikutnya, Parlophone mengeluarkan album sebagai long-play. Empat single dirilis dari Parachutes, termasuk "Shiver" dan "Yellow", dan menikmati popularitas di Inggris dan AS.
Single ketiga adalah "Trouble", yang mencapai posisi ke-10 di tangga lagu Inggris.[43] "Trouble" dirilis lebih dari setahun kemudian di AS, dan mencapai posisi ke-28 di tangga Alternative Songs.
Pada bulan Desember 2001, band ini merilis CD edisi terbatas, Mince Spies, yang menampilkan remix dari "Yellow" dan lagu Natal "Have Yourself a Merry Little Christmas". CD tersebut dicetak 1.000 eksemplar, dan hanya diterbitkan untuk penggemar dan jurnalis.
Parachutes dinominasikan di Mercury Music Prize pada September 2000. Setelah sukses di Eropa, band ini mengarahkan pandangan mereka ke Amerika Utara, dengan merilis album di sana pada November 2000, dan memulai US Club Tour pada Februari 2001.
Pada Penghargaan Brit Februari 2001 di bulan Februari, Coldplay mendapatkan penghargaan Grup Britania Raya Terbaik, dan Album Britania Raya Terbaik.
Meskipun Parachutes sukses dengan lambat di Amerika Serikat, akhirnya mendapat sertifikasi double-platinum. Album ini diterima dengan sangat baik dan mendapatkan penghargaan Album Musik Alternatif Terbaik di Penghargaan Grammy 2002.
Chris Martin berkata bahwa dengan dirilisnya Parachutes, ia berusaha untuk mengangkat status band menjadi "band terbaik dan terbesar di dunia".
Setelah mengelola band seorang diri hingga awal 2001, Harvey mengundurkan diri karena stres sehingga ia memerlukan tim untuk mengisi manajemen band. Dia menjadi pengarah kreatif grup dan sering disebut sebagai anggota kelima mereka; dan Dave Holmes menggantikannya sebagai manajer.
2002–2004: A Rush of Blood to the Head
Setelah sukses dengan Parachutes, Coldplay kembali ke studio pada September 2001 untuk mulai menggarap album kedua mereka, A Rush of Blood to the Head, sekali lagi dengan produser Ken Nelson.
Mereka susah untuk fokus di London dan memutuskan untuk pindah ke Liverpool, tempat mereka merekam beberapa lagu Parachutes. Sesampainya di sana, vokalis Chris Martin mengatakan bahwa mereka terobsesi dengan rekaman.
"In My Place" adalah lagu pertama yang direkam untuk album tersebut. Band ini merilisnya sebagai singel utama album karena lagu itulah yang membuat mereka ingin merekam album kedua, setelah "periode aneh karena tidak benar-benar mengetahui apa yang kami lakukan" tiga bulan setelah kesuksesan Parachutes. Menurut Martin "satu hal yang membuat kami terus maju: merekam 'In My Place'. Kemudian ide-ide lagu lain mulai muncul."
Band ini menulis lebih dari 20 lagu untuk album tersebut. Beberapa materi baru mereka, termasuk "In My Place" dan "Animals", dimainkan di konser saat band masih melakukan tur Parachutes.
Judul album bocor melalui kiriman di situs resmi band. Album tersebut dirilis pada Agustus 2002 dan menelurkan beberapa single populer, antara lain "In My Place", "Clocks", dan balada "The Scientist". Yang terakhir ini terinspirasi oleh "All Things Must Pass" karya George Harrison, yang dirilis pada tahun 1970.
Coldplay melakukan tur dari 19 Juni 2002 hingga 8 September 2003 dengan judul A Rush of Blood to the Head Tour.
Mereka mengunjungi lima benua, termasuk sebagai co-headliner di Festival Glastonbury, V2003 dan Rock Werchter.
Konser-konser ini banyak mengandalkan pencahayaan yang rumit dan layar visualisasi yang mengingatkan pada Elevation Tour U2 dan Fragility Tour Nine Inch Nails.
Selama tur yang diperpanjang, Coldplay merekam DVD dan CD konser, Live 2003, di Hordern Pavilion Sydney.
Pada Brit Awards 2003 yang diadakan di Earls Court, London, Coldplay menerima penghargaan untuk Grup Britania Raya Terbaik, dan Album Britania Raya Terbaik.
Pada 28 Agustus 2003, Coldplay menyanyikan lagu "The Scientist" di MTV VMA 2003 di Radio City Music Hall di Kota New York, dan memenangkan tiga penghargaan.
Pada bulan Desember 2003, pembaca majalah Rolling Stone memilih Coldplay sebagai artis terbaik dan band terbaik tahun ini.
Saat itu band mendaur ulang lagu Pretenders tahun 1983 "2000 Miles" (yang tersedia untuk diunduh di situs resmi mereka).
"2000 Miles" adalah unduhan Inggris terlaris tahun itu, dengan hasil penjualan disumbangkan dalam kampanye Future Forests dan Stop Handgun Violence.
A Rush of Blood to the Head memenangkan Penghargaan Grammy untuk Album Musik Alternatif Terbaik di Penghargaan Grammy 2003.
Pada Penghargaan Grammy 2004, Coldplay mendapatkan Rekaman Terbaik Tahun Ini untuk "Clocks".
2005–2007: X&Y
Coldplay performing at Twisted Logic Tour
Coldplay tampil dalam Twisted Logic Tour di Barcelona pada tahun 2005.
Pada tahun 2004, Coldplay menghilang dari sorotan, beristirahat dari tur, dan merilis video musik satire dari sebuah lagu dari band fiksi berjudul The Nappies saat merekam album ketiga mereka.[69] X&Y dirilis pada Juni 2005 di Britania Raya dan Eropa.
Tanggal rilis baru yang tertunda ini telah menyebabkan album ini masuk tahun buku berikutnya, dan penurunan harga saham EMI dituduh sebagai penyebab keterlambatannya.
X&Y menjadi album terlaris 2005 dengan penjualan di seluruh dunia 8,3 juta.
Singel utama, "Speed of Sound", memulai debutnya di radio dan toko kaset daring pada 18 April dan dirilis sebagai CD pada 23 Mei 2005.
X&Y memasuki tangga album di 20 negara di posisi pertama dan merupakan album dengan penjualan tercepat ketiga dalam sejarah tangga lagu Inggris.
Dua singel lainnya dirilis juga di album tersebut: "Fix You" bulan September dan "Talk" bulan Desember. Tanggapan kritis terhadap X&Y sebagian besar positif, meski sedikit kurang antusias dibandingkan sebelumnya.
Kritikus The New York Times, Jon Pareles, menggambarkan Coldplay sebagai "band paling tak tertahankan dekade ini", sedangkan NME menganugerahkan album 9/10 dengan menyebut Coldplay "percaya diri, berani, ambisius, kaya akan singel, X&Y tidak meniru-niru materi sebelumnya tetapi memperkukuh Coldplay sebagai band pada masanya".
Membanding-bandingkan Coldplay dan U2 menjadi hal biasa. Ulasan kritis oleh The New York Times membuat Martin merasa bebas karena dia "setuju dengan banyak poin", menambahkan bahwa "di satu sisi, sangat membebaskan untuk melihat orang lain yang menyadarinya pula".
Dari Juni 2005 hingga Maret 2007, Coldplay melanjutkan Twisted Logic Tour mereka, termasuk tanggal festival seperti Coachella, Festival Isle of Wight, Glastonbury, dan Austin City Limits Music Festival.
Pada Juli 2005, band ini muncul di Live 8 di Hyde Park, tempat mereka menyanyikan lagu karya Verve "Bitter Sweet Symphony" dengan Richard Ashcroft pada vokal.
Pada 28 Agustus, Coldplay membawakan "Speed of Sound" di MTV Video Music Awards 2005 di Miami.
Pada bulan September, Coldplay merekam versi baru dari "How You See the World" dengan lirik yang dikerjakan ulang untuk album amal War Child Help!: A Day in the Life.
Pada Februari 2006, Coldplay mendapatkan penghargaan Album Terbaik dan Singel Terbaik di Brit Awards.
Tiga singel lagi dirilis selama tahun 2006 dan 2007, "The Hardest Part", "What If", dan "White Shadows".
2008–2010: Viva la Vida or Death and All His Friends
Pada Oktober 2006, Coldplay mulai mengerjakan album studio keempat mereka, Viva la Vida or Death and All His Friends, dengan produser Brian Eno.[88] Setelah beristirahat dari sesi rekaman, band ini melakukan tur Amerika Latin pada awal 2007, merampungkan Twisted Logic Tour saat tampil di Chili, Argentina, Brasil, dan Meksiko.
Setelah rekaman di gereja dan tempat-tempat lain di Amerika Latin dan Spanyol selama tur mereka, band tersebut mengatakan bahwa album tersebut kemungkinan besar akan mencerminkan pengaruh Hispanik. Grup menghabiskan sisa tahun merekam sebagian besar album dengan Eno.
Martin menjelaskan Viva la Vida sebagai arah baru untuk Coldplay; perubahan drastis dari tiga album terakhir mereka, yang menurut band adalah "trilogi" yang telah mereka rampungkan.[92] Ia mengatakan album itu menampilkan sedikit falseto karena ia mengutamakan nada suaranya yang lebih rendah.
Beberapa lagu, seperti "Violet Hill" berisi riff gitar yang terdistorsi dan nada rendah yang bluesy.
Coldplay's Viva la Vida Tour stage in Dallas
Coldplay saat manggung di Dallas, Texas, selama Viva la Vida Tour.
"Violet Hill" dikonfirmasi sebagai singel pertama, dirilis di radio pada 29 April 2008. Setelah pemutaran pertama, lagu ini dapat diunduh gratis dari situs web Coldplay mulai pukul 12.15 (GMT) selama satu minggu hingga tersedia secara komersial pada tanggal 6 Mei.
"Violet Hill" mencapai posisi sepuluh besar di Britania Raya, 40 teratas di AS, dan masuk tangga lagu di seluruh dunia.
Trek judul "Viva la Vida" juga dirilis secara eksklusif di iTunes, serta menjadi singel pertama band ini yang memuncaki Billboard Hot 100,[98] dan Official Charts. Coldplay menyanyikan lagu tersebut dalam konser langsungnya di MTV Movie Awards 2008 pada 1 Juni.
"Viva la Vida" menjadi lagu terlaris iTunes tahun 2008.
Setelah dirilis, Viva la Vida or Death and All His Friends memuncaki tangga album di seluruh dunia dan merupakan album terlaris di dunia tahun 2008.
Album ini memuncaki tangga album Inggris meskipun baru masuk pasar tiga hari sebelumnya. Saat itu, terjual 302.000 eksemplar, menjadi "salah satu album dengan penjualan tercepat dalam sejarah negara".
Pada akhir Juni, Viva la Vida or Death and All His Friends mendapatkan rekor album terbanyak diunduh.[104][105] Pada bulan Oktober 2008, Coldplay memenangkan dua penghargaan Album Terbaik Q untuk Viva la Vida or Death and All His Friends dan Artis Terbaik di Dunia Hari Ini.
Pada 9 November, Coldplay dinobatkan sebagai Artis dengan Penjualan Terbaik di World Music Awards 2008 di Monte Carlo.[107] Mereka juga meraih dua penghargaan lainnya: Artis Rock Terlaris di Dunia dan Artis Terlaris Britania Raya.
Setelah sukses dengan Viva la Vida or Death and All His Friends, mereka merilis EP berjudul Prospekt's March, yang dirilis pada 21 November 2008. EP ini menampilkan lagu-lagu dari sesi album dan awalnya tersedia sendiri, sementara album diterbitkan ulang dengan semua trek EP disertakan sebagai bonus. "Life in Technicolor II" adalah satu-satunya singel yang dirilis.
Dalam sebuah wawancara pada 13 Januari 2011, Coldplay menyebutkan dua lagu baru akan disertakan di album kelima mereka yang akan datang, "Princess of China" dan "Every Teardrop Is a Waterfall".
Dalam wawancara Februari direktur Parlophone Miles Leonard memberi tahu HitQuarters bahwa band masih menggarap album dan ia berharap versi final akan muncul "menjelang musim gugur tahun ini".
Pada 31 Mei 2011, Coldplay mengumumkan bahwa "Every Teardrop Is a Waterfall" adalah singel pertama untuk album kelima. Ini dirilis pada 3 Juni 2011.
Band ini mempersembahkan lima lagu baru di festival selama musim panas 2011, "Charlie Brown", "Hurts Like Heaven", "Us Against the World", "Princess of China" dan "Major Minus".
Pada 12 Agustus 2011, Coldplay mengumumkan melalui situs resmi mereka bahwa Mylo Xyloto adalah judul album itu, dan akan dirilis pada 24 Oktober 2011.
Pada 12 September band ini merilis "Paradise", singel kedua dari album mendatang mereka Mylo Xyloto . Pada 23 September 2011, karcis mulai dijual untuk tur Eropa. Permintaan terbukti sangat tinggi dengan sebagian besar tempat terjual habis dalam hitungan detik.
Mylo Xyloto dirilis pada 24 Oktober 2011, menerima beragam ulasan positif dan menduduki puncak tangga lagu di lebih dari 34 negara.
Pada Oktober 2012, video musik untuk lagu Coldplay "Hurts Like Heaven" dirilis. Video tersebut didasarkan pada kisah Mylo Xyloto, seorang anak laki-laki yang tumbuh dalam tirani yang dijalankan oleh Major Minus.
Komik fiksi berjudul Mylo Xyloto melanjutkan kisah yang tergambar dalam video musik saat serial tersebut dirilis pada awal tahun 2013. Film dokumenter konser dan album live Coldplay Live 2012 mengisahkan tur mereka untuk mendukung album Mylo Xyloto .
Film ini tayang perdana di bioskop hanya untuk satu malam, 13 November 2012, dan dirilis dalam bentuk CD dan home video pada 19 November 2012.
Pada 21 November, setelah konser di Brisbane, Australia sebagai bagian dari Mylo Xyloto Tour, Coldplay mengisyaratkan bahwa mereka akan beristirahat selama tiga tahun dari tur.
Coldplay tampil dengan Jay-Z di Barclays Center, Brooklyn, New York, pada 30 Desember dan Malam Tahun Barusebagai penanda akhir Mylo Xyloto Tour. Mylo Xyloto Tour dinobatkan sebagai tur berpenghasilan kotor tertinggi keempat di dunia pada tahun 2012 dengan penjualan karcis lebih dari 171,3 juta dolar AS.
Coldplay performing in 2020
Pada 23 Oktober 2019, trek album termuat dalam iklan di surat kabar lokal kampung halaman anggota band di Inggris, termasuk Daily Post di Wales utara (tempat Jonny Buckland pernah memiliki pekerjaan selama liburan), dan Express & Echo (surat kabar yang beredar di kampung halaman Martin).
"Orphans" dan "Arabesque" kemudian dirilis sebagai singel utama album pada 24 Oktober 2019 di acara Annie Mac di BBC Radio 1, dengan "Arabesque" menjadi lagu Coldplay pertama yang menggunakan kata kasar.
Album tersebut dirilis pada 22 November 2019 dan ditandai dengan konser ganda di Amman, Yordania.
Konser yang disiarkan langsung ke YouTube, dilakukan saat matahari terbit dan terbenam, sesuai dengan subjudul dari dua keping album.
Martin sebelumnya mengatakan bahwa Coldplay tidak akan tur untuk mempromosikan album sampai mereka dapat mengetahui "bagaimana tur kami tidak hanya dapat berkelanjutan (tetapi) bagaimana itu dapat bermanfaat secara aktif", dan berharap nol karbon.
Namun, Coldplay melakukan pertunjukan satu kali pada 25 November 2019 untuk amal ClientEarth di Museum Sejarah Alam, London. Band ini bermain di bawah Hope, kerangka paus biru raksasa berusia 128 tahun di aula besar museum.
Album ini debut di posisi pertama UK Albums Chart dengan 81.000 kopi terjual, menjadikannya album nomor satu kedelapan berturut-turut di Inggris.
Hal ini juga merupakan album dengan penjualan tercepat ketiga di tahun 2019, setelah No.6 Collaborations Project dan Divinely Uninspired to a Hellish Extent.
Pada 24 November 2020, Coldplay menerima dua nominasi untuk Penghargaan Grammy ke-63, dengan salah satunya adalah Album Terbaik Tahun Ini, nominasi pertama mereka dalam kategori tersebut sejak Viva la Vida.
Pada 21 Desember 2020, "Flags" dirilis secara internasional, lagu tersebut awalnya dimasukkan sebagai lagu bonus bahasa Jepang dari Everyday Life.
2021–sekarang: Music of the Spheres
Pada 29 April 2021, Coldplay mengumumkan single baru berjudul "Higher Power" yang akan dirilis pada 7 Mei 2021 dengan video streaming langsung bertepatan dengan perilisan single yang akan ditayangkan dari Stasiun Luar Angkasa Internasional.
Chris Martin menyatakan dalam sebuah wawancara dengan Zane Lowe bahwa band ini akan bekerja dengan Max Martin dan timnya baik untuk lagu maupun album baru. Ia berkata, "Max adalah produser kami sekarang untuk semua yang kami lakukan".
Pada 4 Mei 2021, Coldplay diumumkan sebagai artis pembuka Brit Awards 2021, ketika mereka akan membawakan lagu berjudul "Higher Power".
Gaya musik
Gaya rock alternatif Coldplay telah dibandingkan dengan Radiohead dan Oasis. Chris Martin pernah memprokalamasikan musik band ini sebagai "limestone rock" dibandingkan dengan "hard rock".
Dalam Music Of The Spheres, gaya grup ini bergerak ke arah musik luar angkasa, dan bereksperimen ke berbagai genre dengan suasana luar angkasa seperti space rock, ambient, dan synth-pop.
Politik and aktivisme
Chris Martin, yang tinggal di Amerika Serikat, pernah mengomentari invasi Irak tahun 2003 yang dipimpin oleh negaranya dalam sebuah konser Teenage Cancer Trust di Royal Albert Hall London.
Saat itu, ia mendorong para penonton yang membludak untuk "bernyanyi menentang perang". Ia menunjukkan dukungannya kepada calon presiden Demokrat John Kerry pada tahun 2004, dan Barack Obama pada tahun 2008.
Setahun kemudian, Coldplay mulai mengambil bagian dalam Meat Free Mondays, kampanye satu hari tanpa daging dalam seminggu yang diinisiasi oleh Paul McCartney dengan tujuan membantu melambatkan perubahan iklim.
Pada tahun 2011, Coldplay meng-endors lagu "Freedom for Palestine" dengan memposting tautan video musik lagu tersebut di media sosial mereka; mereka menerima lebih dari 12.000 komentar dalam waktu kurang dari satu hari dari para penggemar yang terbelah antara setuju atau tidak setuju dengan pesan tersebut.
Beberapa penggemar mengancam akan memboikot mereka dan membuat kelompok yang menuntut permintaan maaf Coldplay kepada Israel.
Postingan tersebut akhirnya dihapus dari halaman Coldplay, namun, Frank Barat dari OneWorld menyatakan bahwa sebenarnya postingan itu dihapus oleh Facebook setelah "ribuan postingan orang dan buatan-komputer melaporkannya sebagai kasar", bukan oleh manajemen band.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/170523-Coldplay.jpg)