PUPR Provinsi Gorontalo

PUPR Provinsi Gorontalo Bertemu Pengusaha Jepang, Bahas Pemurni Air Limbah TPA Talumelito

Keduanya bahkan bersepakat untuk melakukan kerja sama pengelolaan air limbah TPA Talumelito. Rencananya, air limbah akan dimurnikan hingga tidak merus

Penulis: Risman Taharuddin | Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com/Risman
Pegawai Dinas PUPR Provinsi Gorontalo berfoto dengan delegasi perusahaan asal Jepang. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - PUPR Provinsi Gorontalo membahas pengelolaan air limbah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talumelito dengan perusahaan asal Jepang, Aiken Kakoki.

Keduanya bahkan bersepakat untuk melakukan kerja sama pengelolaan air limbah TPA Talumelito. Rencananya, air limbah akan dimurnikan hingga tidak merusak lingkungan sekitar. 

Pertemuan berlangsung di  TPA Talumelito, Desa Talumelito, Kabupaten Gorontalo, Jumat (20/1/2023). 

Hadir dalam pertemuan itu Kepala Dinas PUPR Provinsi Gorontalo, Handoyo Sugiharto. Juga hadir Iwa Tashiro, Presiden Direktur Aiken Kakoki Bidang pengolahan air limbah. 

Menurut Iwa Tashiro, secara geografis Gorontalo sama dengan Jepang. Masalah lingkungan yang dihadapi pun nyaris sama. 

Inilah yang membuat dirinya tertarik untuk bekerja sama, terutama dalam membantu Gorontalo menyelesaikan masalah lingkungan yang disebabkan limbah air. 

Menurutnya, dengan teknologi yang dimiliki perusahaannya, maka persoalan air limbah di Gorontalo bisa saja diselesaikan.

Air limbah yang saat ini jadi masalah lingkungan, bisa dimurnikan menjadi air bersih.  

“Alat yang kami miliki bisa memurnikan air limbah Gorontalo menjadi air bersih, sehingga TPA ini bisa mengelola air limbahnya dengan lebih baik lagi,” ungkapnya. 

Menurut Iwa, sangat mendesak untuk melakukan pengolahan air limbah TPA Talumelito. Sebab, lokasi TPA berada dekat dengan permukiman warga.

Jika dibiarkan, air limbah akan mempengaruhi kualitas hidup masyarakat sekitar. Apalagi air merupakan kebutuhan dasar masyarakat. 

Secara rinci Iwa merinci, jika Gorontalo ingin mengadopsi teknologi pemurni air tersebut, harus mengalokasikan anggaran sedikitnya Rp 5 miliar. 

Karena itu, dibutuhkan kolaborasi dengan ahli mesin lokal agar biayanya bisa ditekan. 

“Kami harapkan bisa bekerja sama dengan partner engineering local dan lainnya, agar bisa menurunkan anggaran bisa lebih hemat lagi ketika diaplikasikan di Indonesia.” katanya. 

Halaman
12

Ikuti kami di

AA
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved