Arti Kata
Apa Itu Tuberkulosis atau TBC, Penyakit yang Diidap Ratusan Anak Diduga karena Sering Dicium
Mengenal apa itu TBC atau tuberkulosis, penyebab hingga penanganan terhadap penyakit paru-paru menular yang serang 600 lebih anak di Yogyakarta.
Penulis: Nina Yuniar | Editor: Ananda Putri Octaviani
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kanker-Paru-2.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat lebih dari 600 anak di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta mengidap Tuberkulosis atau TBC.
Maraknya kasus TBC pada pasien anak-anak di Bantul ini diduga karena sering dicium dan digendong.
Apa Itu Tuberkulosis atau TBC?
Dilansir TribunGorontalo.com dari who.int laman resmi Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri (Mycobacterium tuberculosis) yang paling sering menyerang paru-paru.
Baca juga: BPOM Siapkan Regulasi Pelabelan BPA dalam Kemasan Air Minum dan Makanan, Apa Itu BPA?
Tuberkulosis dapat disembuhkan dan dicegah.
TBC menyebar dari orang ke orang melalui udara.
Ketika penderita TBC paru batuk, bersin atau meludah, mereka menyebarkan kuman TBC ke udara.
Seseorang dapat terinfeksi hanya dengan menghirup beberapa kuman tersebut.
Sekitar seperempat dari populasi global diperkirakan telah terinfeksi bakteri TBC, tetapi kebanyakan orang tidak akan terus mengembangkan penyakit TBC dan beberapa akan sembuh dari infeksi tersebut.
Baca juga: Kemenkes Tetapkan KLB Polio Susul Kasus di Aceh, Apa Itu Polio? Kenali Gejala dan Bahayanya
Mereka yang terinfeksi tetapi tidak (belum) sakit tidak dapat menularkannya.
Orang yang terinfeksi bakteri TB memiliki risiko seumur hidup 5-10 persen jatuh sakit dengan TB.
Mereka dengan sistem kekebalan yang lemah, seperti orang yang hidup dengan HIV, kekurangan gizi atau diabetes, atau orang yang menggunakan tembakau, memiliki risiko lebih tinggi untuk jatuh sakit akibat TBC.
Ketika seseorang mengembangkan penyakit TBC aktif, gejalanya (seperti batuk, demam, keringat malam, atau penurunan berat badan) mungkin ringan selama berbulan-bulan.
Baca juga: Apa Itu Etilen Glikol? Senyawa Kimia di Obat Sirup yang Diduga Sebabkan Gagal Ginjal Akut Anak
Hal ini dapat menyebabkan keterlambatan dalam mencari perawatan, dan mengakibatkan penularan bakteri ke orang lain.
Orang dengan TB aktif dapat menginfeksi 5–15 orang lain melalui kontak dekat selama setahun.
Tanpa pengobatan yang tepat, rata-rata 45 persen orang negatif HIV dengan TB dan hampir semua orang postif HIV dengan TB akan meninggal.
Baca juga: Apa Itu Gagal Ginjal Akut? Penyakit yang Secara Misterius Serang Anak-anak di Indonesia
Siapa yang paling berisiko terkena TBC?
TBC sebagian besar menyerang orang dewasa di tahun-tahun paling produktif mereka.
Namun, semua kelompok umur berisiko.
Lebih dari 80 persen kasus dan kematian akibat TBC terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Orang yang terinfeksi HIV 16 kali lebih mungkin mengembangkan TB aktif.
Baca juga: Apa Itu Fomepizole? Obat Penawar Gagal Ginjal Akut yang Bakal Dibagikan Pemerintah Gratis
Risiko TB aktif juga lebih besar pada orang yang menderita kondisi lain yang merusak sistem kekebalan tubuh.
Orang dengan gizi kurang 3 kali lebih berisiko.
Secara global pada tahun 2021, terdapat 2,2 juta kasus TB baru yang disebabkan oleh kekurangan gizi.
Gangguan penggunaan alkohol dan merokok tembakau meningkatkan risiko TB.
Pada tahun 2021, sebanyak 0,74 juta kasus TB baru di seluruh dunia disebabkan oleh gangguan penggunaan alkohol dan 0,69 juta disebabkan oleh merokok.
Baca juga: Mengenal Apa Itu Stiff Person Syndrome, Penyakit Langka Celine Dion, Simak Gejala dan Bahayanya
Dampak Global TBC
TBC terjadi di setiap belahan bagian dunia.
Pada tahun 2021, jumlah terbesar kasus TB baru terjadi di wilayah Asia Tenggara dengan 46 persen kasus baru, diikuti oleh wilayah Afrika dengan 23 persen kasus baru, dan Pasifik Barat dengan 18 persen kasus baru.
Pada tahun 2020, 87 persen kasus TB baru terjadi di 30 negara dengan beban TB tinggi.
Delapan negara berikut ini menyumbang lebih dari dua pertiga dari total kasus TBC global yakni India, Indonesia, Cina, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh, dan Republik Demokratik Kongo.
Baca juga: Mengenal Apa Itu IndoVac, Vaksin Covid-19 yang Dipakai Jokowi untuk Vaksinasi Booster Kedua
Gejala TBC
Gejala umum TB paru aktif adalah batuk berdahak dan darah kadang-kadang, nyeri dada, lemas, penurunan berat badan, demam serta keringat malam.
Penanganan TBC
TBC adalah penyakit yang dapat diobati dan disembuhkan.
Penyakit TB yang rentan terhadap obat diobati dengan perawatan standar 4 bulan atau 6 bulan dari 4 obat antimikroba yang diberikan dengan dukungan kepada pasien oleh petugas kesehatan atau pendukung pengobatan terlatih.
Tanpa dukungan tersebut, kepatuhan pengobatan lebih sulit.
Sejak tahun 2000, diperkirakan 74 juta nyawa terselamatkan melalui diagnosis dan pengobatan TB.
Baca juga: Mengenal Apa Itu Solstis, Fenomena yang Dikaitkan Mitos Gola Gorontalo dan Larangan Keluar Rumah
600 Lebih Anak di Bantul Terserang TBC
Dilansir TribunGorontalo.com dari Kompas.com, Dinkes Kabupaten Bantul mencatat ada 1.216 kasus TBC mulai dari Januari sampai November 2022.
Dari ribuan orang ini 50 persen di antaranya anak-anak.
"Sejak Januari sampai November ada 1.216 kasus TBC yang ditemukan di seluruh fasilitas kesehatan. Nah, 619 di antaranya adalah kasus TBC anak dan 12 kasus pasien TBC resisten obat," kata Kepala Dinkes Bantul Agus Budi Raharja, Rabu (21/12/2022).
Baca juga: Apa Itu Visum et Repertum, Bukti Kuat yang Tak Dimilki Putri Candrawathi di Kasus Pelecehan Seksual
Agus menjelaskan banyaknya anak yang mengidap TBC karena masih banyak orang yang belum terdeteksi dan belum diobati.
Apabila diestimasi, yang terjangkit TBC ada 2.431 orang, dan baru ditemukan 1.216 kasus.
Belum terdeteksinya orang dengan TBC ini menyebabkan anak tertular, apalagi sering dicium dan digendong.
"Contoh anak umur 2 tahun, kan sering digendong atau diciumi orang-orang. Hal itu risiko kontak semakin tinggi," ungkap Agus.
Baca juga: Ahli Ungkap Hasil Tes Poligraf Ferdy Sambo dan Istrinya Terindikasi Berbohong, Apa Itu Poligraf?
Selain itu, lanjut Agus, faktor kurang gizi dan stunting sehingga menyebabkan daya tahan anak berkurang.
Tak hanya itu, anak tidak bisa menularkan ke orang lain.
Adapun gejala TBC yakni batuk lebih dari 2 pekan disertai demam dan mengalami penurunan berat badan.
"TBC anak tidak menularkan tapi anak berpotensi tertular TBC tinggi," sebut Agus.
Agus mengungkapkan bahwa pihaknya terus melakukan sosialiasai terkait TBC dan juga melakukan screening serta menguatkan jaringan di masyarakat untuk diteksi.
Baca juga: Mengenal Apa Itu AWCorna, Vaksin Covid-19 Produksi dalam Negeri yang Diprioritaskan Penggunaannya
"Jadi kalau ada ditemukan keluarganya kena TBC harus segera diambil tindakan," jelas Agus.
Agus menyebut bahwa, selain anak, pihaknya juga memberikan perhatian kepada pasien yang putus berobat TBC.
Pasalnya, cukup tinggi yakni 3,93 persen dari jumlah pasien yang harus diobati tahun 2022.
Pasien TBC seharusnya rutin pengobatan sampai 6 bulan.
Baca juga: Warga Korea Selatan Banyak yang Ikut Program CPR Pasca Tragedi Halloween Itaewon, Apa Itu CPR?
Pihaknya khawatir jika tidak diatasi pasien akan resisten obat.
"Faktornya banyak yang putus berobat mungkin ada yang lupa, kedua tentu pemahaman terkait pengobatan TB itu sendiri," terang Agus.
Oleh karena itu, jika ditemukan pasien TBC maka diperlukan pendamping minum obat (PMO).
(TribunGorontalo.com/Nina Yuniar) (Kompas.com/Markus Yuwono)
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Diduga Sering Dicium dan Digendong, 600 Anak di Bantul Sakit TBC"