Sabtu, 4 April 2026

UPN Yogyakarta dan Gusdurian Kaji Penentuan Kebutuhan Air Baku untuk Penyintas Erupsi Semeru

Penelitian dan Pengabdian masyarakat bertujuan untuk mengkaji penentuan kebutuhan air baku di huntap Desa Sumbermujur. 

Tayang:
zoom-inlihat foto UPN Yogyakarta dan Gusdurian Kaji Penentuan Kebutuhan Air Baku untuk Penyintas Erupsi Semeru
TribunGorontalo.com/free
Kegiatan ini dilakukan berdasarkan Nota Kesepahaman UPN Veteran Yogyakarta dengan Pemerintah Lumajang dalam perihal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. 

Dari pengukuran geolistrik resistivitas, air tanah dalam yang berkembang di Kawasan huntap yang berhasil diidentifikasi tidak cukup efektif dan ekonomis untuk dimanfaatkan. 

Hal tersebut karena hanya ada 1 titik yang menunjukkan adanya air tanah dalam, sedangkan pelamparannya tidak menerus di titik lainnya. 

Artinya, bisa jadi lapisan jenuh air tersebut hanya air formasi yang akan mudah habis jika dibor dan diproduksi, karena tidak ada suplai dari permukaan dan tidak meluas pelamparannya.

Potensi air tanah yang dapat dimanfaatkan hanyalah air tanah dangkal pada kedalaman 8 – 18 meter, karena pelamparannya yang meluas, namun volumenya terbatas jika tidak dilakukan pengelolaan yang berkelanjutan. 

Rekomendasinya, air tanah dangkal dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air baku melalui sumur bersama diikuti dengan penanaman air tanah yang berkelanjutan. 

Penanaman air tanah yang berkelanjutan dapat berupa menjaga atau menambah kawasan hijau, dan membuat sumur biopori yang dapat berfungsi sebagai menangkap air hujan dan menyimpannya ke dalam tanah, agar air tanah dapat terjaga kapasitasnya dan meminimalisir resiko menurunnya muka air tanah atau bahkan sama sekali kering. 

 “Dari hasil identifikasi yang dilakukan oleh kawan-kawan dari UPN Veteran Yogyakarta ini, menunjukkan bahwa ternyata memang kurang air baku yang disediakan di tempat relokasi penyintas erupsi Semeru ini.” ungkap Ketua Umum GUSDURian Peduli, A’ak Abdullah Al-Kudus.

Potensi air tanah dalam yang kuantitasnya besar juga tidak ada yang produktif, hanya airtanah dangkal yang dapat memungkinkan. 

“Jadi, jika air tanah dangkal ini akan dimanfaatkan, maka perlu diperhatikan upaya pengelolaannya, pasti harus berkelanjutan. Yakni dengan cara menanam air tanah.” tegas dia. 

Karena jangan sampai “kita sibuk memakai namun lupa menanam. Pemerintah kabupaten Lumajang harus menambah kawasan hijau, dan pembuatan sumur biopori yang banyak, jadi ada yang bisa menangkap air hujan, lalu langsung disalurkan ke dalam tanah. Ini untuk meminimalisir air tanah turun atau kering sama sekali,” pesan dia. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved