Sabtu, 4 April 2026

UPN Yogyakarta dan Gusdurian Kaji Penentuan Kebutuhan Air Baku untuk Penyintas Erupsi Semeru

Penelitian dan Pengabdian masyarakat bertujuan untuk mengkaji penentuan kebutuhan air baku di huntap Desa Sumbermujur. 

Tayang:
zoom-inlihat foto UPN Yogyakarta dan Gusdurian Kaji Penentuan Kebutuhan Air Baku untuk Penyintas Erupsi Semeru
TribunGorontalo.com/free
Kegiatan ini dilakukan berdasarkan Nota Kesepahaman UPN Veteran Yogyakarta dengan Pemerintah Lumajang dalam perihal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. 

TRIBUNGORONTALO.COM - UPN “Veteran” Yogyakarta bersama GUSDURian Peduli melaksanakan penelitian dan pengabdian masyarakat di Kawasan Huntap Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. 

Penelitian dan Pengabdian masyarakat bertujuan untuk mengkaji penentuan kebutuhan air baku di huntap Desa Sumbermujur. 

Kegiatan ini dilakukan berdasarkan Nota Kesepahaman UPN Veteran Yogyakarta dengan Pemerintah Lumajang dalam perihal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. 

Pengabdian masyarakat ini dibiayai oleh dana hibah internal LPPM UPN “Veteran” Yogyakarta, sekaligus melibatkan beberapa mahasiswa aktif baik program sarjana ataupun magister dari Fakultas Teknologi Mineral UPN “Veteran” Yogyakarta

Eko Teguh Paripurno, Ketua Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta menyampaikan, pembangunan huntap idealnya telah melalui rangkaian kajian rinci, agar upaya relokasi penyintas tidak menimbulkan risiko baru. 

“Aset penghidupan penyintas harus diurus serius agar semakin cepat pulih, termasuk apakah ketersediaan air di lokasi tersebut mencukupi untuk 1.951 penyintas yang akan menghuni huntap.” ungkap Eko. 

Pihaknya kata Eko, mencoba membantu mengkaji, terutama di urusan penentuan kebutuhan air baku. 

Jangan sampai tidak ada rencana cadangan jika memang air baku yang disiapkan pihak pengembang tidak mencukupi. 

Dari hasil observasi yang telah dilakukan oleh tim selama kerja-kerja di fase transisi darurat ke pemulihan, menunjukkan bahwa terdapat potensi defisit antara ketersediaan dan kebutuhan air baku di lokasi pembangunan huntap. 

Pihak HK sebagai pelaksana proyek pembangunan melalui wawancara menyatakan di bulan Agustus 2022 ketersediaan air baku yang berasal dari 3 mata air hanyalah sebesar 35 liter/detik atau 126.000 liter/hari (debit saat penelitian ini dilakukan). 

Sedangkan hasil wawancara dengan warga menunjukkan bahwa rata-rata kebutuhan air baku untuk rumah tangga sebesar 156,67 liter/hari/keluarga. 

Jika benar data dari pemerintah bahwa 1.951 KK penyintas akan menghuni huntap, maka diperlukan pasokan air baku sebanyak 306.663,17 liter/hari. 

Temuannya, terdapat defisit ketersediaan air baku sebesar 41,8 persen dari total debit air baku yang diperlukan. 

Hal ini mungkin terjadi karena kurang matangnya perencanaan awal pembangunan huntap.

Dengan keadaan tersebut tim kemudian melakukan pendugaan potensi air tanah dengan pengukuran geolistrik resistivitas untuk mengidentifikasi adanya potensi airtanah yang dapat dijadikan alternatif pemenuhan kebutuhan air baku di huntap. 

Dari pengukuran geolistrik resistivitas, air tanah dalam yang berkembang di Kawasan huntap yang berhasil diidentifikasi tidak cukup efektif dan ekonomis untuk dimanfaatkan. 

Hal tersebut karena hanya ada 1 titik yang menunjukkan adanya air tanah dalam, sedangkan pelamparannya tidak menerus di titik lainnya. 

Artinya, bisa jadi lapisan jenuh air tersebut hanya air formasi yang akan mudah habis jika dibor dan diproduksi, karena tidak ada suplai dari permukaan dan tidak meluas pelamparannya.

Potensi air tanah yang dapat dimanfaatkan hanyalah air tanah dangkal pada kedalaman 8 – 18 meter, karena pelamparannya yang meluas, namun volumenya terbatas jika tidak dilakukan pengelolaan yang berkelanjutan. 

Rekomendasinya, air tanah dangkal dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air baku melalui sumur bersama diikuti dengan penanaman air tanah yang berkelanjutan. 

Penanaman air tanah yang berkelanjutan dapat berupa menjaga atau menambah kawasan hijau, dan membuat sumur biopori yang dapat berfungsi sebagai menangkap air hujan dan menyimpannya ke dalam tanah, agar air tanah dapat terjaga kapasitasnya dan meminimalisir resiko menurunnya muka air tanah atau bahkan sama sekali kering. 

 “Dari hasil identifikasi yang dilakukan oleh kawan-kawan dari UPN Veteran Yogyakarta ini, menunjukkan bahwa ternyata memang kurang air baku yang disediakan di tempat relokasi penyintas erupsi Semeru ini.” ungkap Ketua Umum GUSDURian Peduli, A’ak Abdullah Al-Kudus.

Potensi air tanah dalam yang kuantitasnya besar juga tidak ada yang produktif, hanya airtanah dangkal yang dapat memungkinkan. 

“Jadi, jika air tanah dangkal ini akan dimanfaatkan, maka perlu diperhatikan upaya pengelolaannya, pasti harus berkelanjutan. Yakni dengan cara menanam air tanah.” tegas dia. 

Karena jangan sampai “kita sibuk memakai namun lupa menanam. Pemerintah kabupaten Lumajang harus menambah kawasan hijau, dan pembuatan sumur biopori yang banyak, jadi ada yang bisa menangkap air hujan, lalu langsung disalurkan ke dalam tanah. Ini untuk meminimalisir air tanah turun atau kering sama sekali,” pesan dia. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved