UPN Yogyakarta dan Gusdurian Kaji Penentuan Kebutuhan Air Baku untuk Penyintas Erupsi Semeru
Penelitian dan Pengabdian masyarakat bertujuan untuk mengkaji penentuan kebutuhan air baku di huntap Desa Sumbermujur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/06092022_UPN-Veteran-Yogyakarta-dengan-Pemerintah-Lumajang.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - UPN “Veteran” Yogyakarta bersama GUSDURian Peduli melaksanakan penelitian dan pengabdian masyarakat di Kawasan Huntap Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang.
Penelitian dan Pengabdian masyarakat bertujuan untuk mengkaji penentuan kebutuhan air baku di huntap Desa Sumbermujur.
Kegiatan ini dilakukan berdasarkan Nota Kesepahaman UPN Veteran Yogyakarta dengan Pemerintah Lumajang dalam perihal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Pengabdian masyarakat ini dibiayai oleh dana hibah internal LPPM UPN “Veteran” Yogyakarta, sekaligus melibatkan beberapa mahasiswa aktif baik program sarjana ataupun magister dari Fakultas Teknologi Mineral UPN “Veteran” Yogyakarta.
Eko Teguh Paripurno, Ketua Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta menyampaikan, pembangunan huntap idealnya telah melalui rangkaian kajian rinci, agar upaya relokasi penyintas tidak menimbulkan risiko baru.
“Aset penghidupan penyintas harus diurus serius agar semakin cepat pulih, termasuk apakah ketersediaan air di lokasi tersebut mencukupi untuk 1.951 penyintas yang akan menghuni huntap.” ungkap Eko.
Pihaknya kata Eko, mencoba membantu mengkaji, terutama di urusan penentuan kebutuhan air baku.
Jangan sampai tidak ada rencana cadangan jika memang air baku yang disiapkan pihak pengembang tidak mencukupi.
Dari hasil observasi yang telah dilakukan oleh tim selama kerja-kerja di fase transisi darurat ke pemulihan, menunjukkan bahwa terdapat potensi defisit antara ketersediaan dan kebutuhan air baku di lokasi pembangunan huntap.
Pihak HK sebagai pelaksana proyek pembangunan melalui wawancara menyatakan di bulan Agustus 2022 ketersediaan air baku yang berasal dari 3 mata air hanyalah sebesar 35 liter/detik atau 126.000 liter/hari (debit saat penelitian ini dilakukan).
Sedangkan hasil wawancara dengan warga menunjukkan bahwa rata-rata kebutuhan air baku untuk rumah tangga sebesar 156,67 liter/hari/keluarga.
Jika benar data dari pemerintah bahwa 1.951 KK penyintas akan menghuni huntap, maka diperlukan pasokan air baku sebanyak 306.663,17 liter/hari.
Temuannya, terdapat defisit ketersediaan air baku sebesar 41,8 persen dari total debit air baku yang diperlukan.
Hal ini mungkin terjadi karena kurang matangnya perencanaan awal pembangunan huntap.
Dengan keadaan tersebut tim kemudian melakukan pendugaan potensi air tanah dengan pengukuran geolistrik resistivitas untuk mengidentifikasi adanya potensi airtanah yang dapat dijadikan alternatif pemenuhan kebutuhan air baku di huntap.