Konflik Rusia Vs Ukraina

Tentara Rusia Kepung Kiev, AS Nilai Ukraina Lebih Butuh Rudal

Sistem pertahanan berbasis darat Ukraina dianggap lebih efektif menghadapi invasi Rusia.

Editor: Lodie Tombeg
kompas.com
Tentara Ukraina meluncurkan rudal stinger buatan Jerman yang bisa hancurkan tank dan pesawat tempur. 

Pasukan Rusia yang menyerang Kyiv berkumpul kembali di barat laut Ibu Kota Ukraina tersebut, gambar satelit menunjukkan.

Pada saat yang sama, Inggris memperingatkan bahwa Rusia sekarang dapat merencanakan serangan ke Kiev dalam beberapa hari ke depan.

Pasukan serangan utama Rusia di Ukraina utara telah terhenti di jalan raya utara Kiev sejak hari-hari awal invasi, setelah gagal dalam apa yang diyakini negara-negara Barat sebagai rencana awal untuk serangan kilat di ibu kota.

Tetapi, gambar yang dirilis oleh perusahaan satelit swasta AS Maxar menunjukkan unit lapis baja milik Rusia bermanuver di dan melalui kota-kota dekat bandara Antonov di Gostomel barat laut Kiev.

Kota Gostomel termasuk kota di Ukraina yang telah menjadi lokasi pertempuran sengit sejak Rusia mendaratkan pasukan terjun payung di sana pada hari-hari pertama perang.

“Elemen-elemen lain telah diposisikan ulang di dekat pemukiman kecil Lubyanka di utara (Kiev), dengan howitzer artileri yang ditarik dalam posisi menembak,” kata Maxar pada Jumat (11/3/2022), dikutip dari Reuters.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Inggris, menyatakan bahwa Rusia kemungkinan sedang berusaha mengatur ulang dan memposisikan kembali pasukannya untuk aktivitas serangan baru dalam beberapa hari mendatang. "Ini mungkin akan mencakup operasi melawan Ibu Kota Kiev," ungkap mereka.

Pembaruan mengatakan pasukan darat Rusia masih membuat kemajuan terbatas, dengan adanya masalah logistik yang menghambat kemajuan mereka dan perlawanan Ukraina yang kuat.

Ukraina juga mengatakan pasukan Rusia telah berkumpul kembali setelah mengalami kerugian besar.

Selama tujuh hari berturut-turut, Rusia mengumumkan rencana untuk menghentikan tembakan guna mengizinkan warga sipil meninggalkan Kota Mariupol di tenggara Ukraina yang terkepung.

Ukraina mengatakan akan mencoba lagi untuk melakukan evakuasi dari kota Mariupol. "Kami berharap itu akan berhasil hari ini," kata Wakil Perdana Menteri Iryna Vereshchuk.

Semua upaya sebelumnya untuk mencapai Mariupol telah gagal dengan kedua belah pihak saling menuduh gagal untuk mematuhi gencatan senjata.

Sementara ratusan ribu orang di sana dilaporkan masih terjebak di bawah pemboman tanpa henti tanpa makanan atau air dalam keadaan darurat kemanusiaan yang paling mengerikan dari perang.

AS mengatakan penargetan Rusia terhadap warga sipil di Mariupol adalah kejahatan perang.

Rusia sendiri membantah telah menargetkan warga sipil dalam apa yang disebutnya "operasi khusus" untuk melucuti senjata dan "de-Nazify" Ukraina, dan yang dikatakan telah berjalan sesuai rencana. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "AS Sebut Ukraina Lebih Butuh Rudal daripada Jet Tempur, Ini Alasannya"

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved