Selasa, 17 Maret 2026

Hikmah Ramadan 2026

Hikmah Ramadan: Mukasyafah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

Mukasyafah menjadi bonus spiritual bagi hamba yang mendekat kepada Allah dengan ketaatan dan keikhlasan.

Tayang:
Editor: Tita Rumondor
zoom-inlihat foto Hikmah Ramadan: Mukasyafah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
Kolase Tribunnews/Wikipedia
HIKMAH RAMADAN - Menteri Agama  Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA. Mukasyafah menjadi bonus spiritual bagi hamba yang mendekat kepada Allah dengan ketaatan dan keikhlasan. 

Oleh Menteri Agama  Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Jika seseorang telah berupaya sedemikian rupa mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT, terutama selama di dalam bulan suci Ramadan, maka tidak mustahil yang bersangkutan Allah SWT akan memberinya bonus sesuai ketetapan Allah SWT.

Di antara bonus yang paling diharapkan setiap salik (pencari Tuhan) ialah mukasyafah.

Secara literal mukasyafah berarti penyingkapan, yaitu penyingkapan dan penampakan sesuatu yang abstrak dan terselubung (mahjub).

Dalam bahasa tasawuf, mukasyafah dihubungkan dengan orang yang memiliki kemampuan untuk menyingkap rahasia dan misteri alam gaib, baik alam gaib relatif maupun alam gaib mutlak.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Kekuatan Basmalah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

Alam gaib tidak sama bagi setiap orang. Tipis tidaknya atau transparansi alam gaib tidak sama bagi setiap orang.

Semakin tinggi ketaatan dan keikhlasan seseorang semakin besar peluang untuk mencapai tingkat mukasyafah.

Sebaliknya semakin rendah tingkat ketaatan dan keikhlasan seseorang semakin tebal pula penutup (hijab) yang menghalang untuk mencapai mukasyafah.

Hal-hal yang bisa menghijab seseorang untuk mencapai mukasyafah ialah dosa dan maksiat.

Sungguhpun orang tidak berdosa dan bermaksiat dan telah melakukan ibadah dan berbagai ketaatan individu dan sosial, tetap tidak ada jaminan dapat mencapai mukasyafah.

Pencapaian mukasyafah sangat ditentukan oleh keridhaan Allah SWT.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Kekuatan Salat Lail Ramadan

Orang yang mencapai mukasyafah memiliki banyak keutamaan.

Selain mampu memahami sejumlah rahasia Allah SWT, juga biasanya diberi kemampuan untuk melakukan sesuatu yang “luar biasa” (khariq li al-‘adah) yang tidak bisa dilakukan orang-orang biasa.

Perbuatan “luar biasa” itu biasa disebut dengan karamah.

Para wali yang rata-rata sudah mencapai tingkat mukasyafah bisa melakukan sesuatu yang bersifat ajaib atas izin kekasihnya, yaitu Allah SWT.

Namun perlu dibedakan antara karamah, mu’jizah, dan sikhr:

Baca juga: Hikmah Ramadan: Menjemput Lailatul Qadr

Karamah: Perbuatan luar biasa diberikan Tuhan kepada para wali atau hamba tertentu yang dipilih-Nya.

Mu’jizah: Perbuatan luar biasa khusus diberikan kepada para nabi dan rasul.

Sikhr: Perbuatan luar biasa diberikan kepada manusia biasa yang telah mempelajari ilmunya.

Sikhr biasanya tidak mensyaratkan adanya mukasyafah, sedangkan mu’jizah dan karamah mengharuskan adanya mukasyafah.

Para wali tujuannya bukan untuk mendapatkan perbuatan luar biasa; bahkan mereka mengelak untuk memanfaatkan keluar biasaan itu.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Menggapai Spirit Zakat

Mereka khawatir jangan sampai karamah itu menjadi hijab baru baginya.

Kita perlu dekat dengan orang yang mencapai mukasyafah karena mereka kekasih Tuhan. 

Jika dihubungkan dengan filsafat, maka di situ kita akan mengenal adanya asumsi manusia sebagai homo sapiens atau al-hayawan al-nathiq (spesies yang berpikir), ternyata asumsi ini dianggap keliru.

Visi baru para ilmuwan menemukan bukti porsi intelektualitas manusia hanya merupakan bagian terkecil dari totalitas kecerdasan manusia.

Kalangan ilmuwan menemukan tiga bentuk kecerdasan dalam diri manusia:

IQ (Kecerdasan Intelektual): Kecerdasan yang diperoleh melalui kreativitas akal yang berpusat di otak.

EQ (Kecerdasan Emosional): Kecerdasan yang diperoleh melalui kreativitas emosional yang berpusat di dalam jiwa.

SQ (Kecerdasan Spiritual): Kecerdasan yang diperoleh melalui kreativitas rohani yang mengambil lokus di sekitar wilayah roh.

Ketiga aktivitas kreatif di atas mengingatkan kita kepada tiga konsep struktur kepribadian Sigmund Freud (1856-1939), yaitu id, ego, dan superego.

Id adalah pembawaan sifat-sifat fisik-biologis seseorang sejak lahir yang menjadi inspirator kedua struktur berikutnya.

Ego bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari id serta mengatur hubungan antara keinginan subjektif individual dan tuntutan objektif realitas sosial.

Ego membantu seseorang keluar dari berbagai problem subjektif individual dan memelihara agar bertahan hidup (survival) dalam dunia realitas.

Superego berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan kesempurnaan hidup, lebih dari sekadar mencari kesenangan dan kepuasan.

Superego juga selalu mengingatkan dan mengontrol ego untuk senantiasa menjalankan fungsi kontrolnya terhadap id.

Semoga kita berhasil meraihnya sebelum ajal menjemput kita. (*)

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Selasa, 17 Maret 2026 (27 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:29
Subuh 04:39
Zhuhr 12:00
‘Ashr 15:02
Maghrib 18:03
‘Isya’ 19:11

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved