Jumat, 13 Maret 2026

Hikmah Ramadan 2026

Hikmah Ramadan: Menjemput Lailatul Qadr

Lailatul Qadr menjadi malam paling istimewa di bulan Ramadan. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini menyimpan keutamaan besar.

Tayang:
Editor: Tita Rumondor
zoom-inlihat foto Hikmah Ramadan: Menjemput Lailatul Qadr
Kemenag RI
HIKMAH RAMADAN - Menteri Agama  Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA - Lailatul Qadr menjadi malam paling istimewa di bulan Ramadan. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini menyimpan keutamaan besar bagi umat Nabi Muhammad SAW. 

Oleh Menteri Agama  Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Salah satu keutamaan malam-malam suci Ramadan ialah turunnnya suatu malam yang disebut malam Lailatul Qadr.

Malam ini sebetulnya bagi kita mungkin tidak terasa dan dilihat tidak lebih dari malam-malam selainnya.

Hanya saja dalam pandangan ulama hadis memang disebutkan banyak keajaiban malam Lailatul Qadr ini.

Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW memimpin shalat jamaah yang makmumnya para nabi di Baitul Maqdis, Palestina, menjelang mi’raj ke langit, para nabi memohon untuk dihidupkan kembali secara normal di muka bumi, meskipun hanya sebagai umat biasa dan tunduk kepada ajaran Islam.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Sahabat Spiritual al-Shuhbah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

Rahasia di balik permohonan itu ialah keberadaan Lailatul Qadr yang tidak pernah ada sebelum umat Nabi Muhammad.

Namun, permohonan itu tidak dikabulkan Tuhan.

Mengapa para nabi tersebut memandang penting makna Lailatul Qadr?

Tentu saja mereka melihatnya demikian karena mereka hidupnya di alam barzakh, bagian dari alam gaib, dan menyaksikan betapa sibuk para malaikat langit turun memberikan fasilitas spiritual kepada para manusia, sebagaimana juga disebutkan dalam ayat tersebut di atas.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Menggapai Spirit Zakat

Keutamaan Lailatul Qadr di dalam bulan istimewa ramadlan luar biasa, sebagaimana disebutkan dalam ayat: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan.

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Q.S. al-Qadr/97:4).

Ayat-ayat di atas bagian dari ayat-ayat yang menceritakan keluarbiasaan malam sebagai waktu untuk menjalin komunikasi aktif dan intensif dengan Allah SWT.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Kembali ke Fitrah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

Ayat-ayat di atas, seolah-olah lebih menekankan arti penting malam hari dari pada siang hari, meskipun siang hari Ramadhan itu kita mengerjakan puasa wajib ramadhan.

Itulah sebabnya para sahabat dan para ulama yang memahami rahasia keutamaan malam Ramadan lebih banyak begadang di malam harinya.

Mereka mengerjakan berbagai aktifitas ubudiah untuk meraih berkah dan kemuliaan Ramadhan.

Begitu pentingnya malam-malam hari Ramadhan sehingga pernah ada sahabat yang membentangkan tali dari tiang ke tiang untuk menyangga badannya yang sudah lemah sambil terus melaksanakan shalat-shalat sunat di malam hari.

Pada masa turunnya Alquran bilangan paling tinggi ialah bilangan angka seribu.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Silaturahim oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

Sekiranya ada bilangan triliun seperti saat ini, maka mungkin redaksi Alquran “lebih mulia dari pada setriliun bulan”. 

Itulah sebabnya ulama Tafsir tidak mengartikan kata alfun dalam ayat di atas dengan “seribu” tetapi ribuan atau beribu-ribu bulan, atau unlimited, tanpa batas.

Di sini bukan angka-angka yang amat penting tetapi kualitas dan intensitas waktu itu.

Ini bisa dimengerti dan dirasakan, bahwa memang malam hari menampilkan kegelapan tetapi bukankah kegelapan menjanjikan ketenangan, keteduhan, keakraban, kepasrahan, kerinduan, kehangatan, kesyahduan, dan kekhusyukan.

Sebaiknya kita lebih bersahabat dengan rahasia malam hari agar kita bisa memperoleh keberkahan hidup yang luar biasa.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Kedermawanan atau Futuwwah oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

Alangkah ruginya kita yang sudah menjadi umat Nabi Muhammad tetapi masih menyia-nyiakan dan membiarkan peristiwa dahsyat Lailatul Qadr berlalu begitu saja, tanpa memanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyiapkan bekal hidup akhirat kita.

Seandainya hidup kita dikaruniai umur panjang misalnya 70 tahun, maka kita akan melewati 70 kali momen Lailatul Qadr.

Potong saja usia masa anak-anak yang belum mukallaf 15 tahun maka usia produktif kita masih ada 55 tahun, dikalikan 1000 bulan, maka jumlah usia produktif kita setara dengan 55.000 bulan atau 4583 tahun.

Inilah kelebihan kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan keistimewaan khusus yang tidak diberikan selain kita.

Mari kita menjemput kehadiran Lailatul Qadr di dalam jiwa kita masing-masing. (*)

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Jumat, 13 Maret 2026 (23 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:30
Subuh 04:40
Zhuhr 12:01
‘Ashr 15:06
Maghrib 18:04
‘Isya’ 19:12

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved