Ramadan 2026
Tradisi Baca Qunut Witir di Separuh Akhir Ramadan, Begini Penjelasan Ulama
Saat ini umat muslim di Indonesia memasuki hari ke-15 ramadan. Ada sebuah tradisi ibadah yang mulai diselipkan dalam salat malam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2042023_salat-Gerhana.jpg)
Ringkasan Berita:
- Doa qunut mulai dibacakan pada rakaat terakhir salat witir tepat saat memasuki malam ke-16 Ramadan, yang menandai fase nisfu atau separuh jalan menuju akhir bulan suci
- Praktik ini bersumber dari riwayat sahabat Nabi, khususnya Ubay bin Ka’ab atas arahan Khalifah Umar bin Khattab, serta diperkuat oleh ijtihad Mazhab Syafi'i yang mengategorikannya sebagai sunnah ab'adh
- Kehadiran doa ini menjadi momen emosional dan pengingat bagi jemaah untuk meningkatkan intensitas ibadah
TRIBUNGORONTALO.COM – Saat ini umat muslim di Indonesia memasuki hari ke-15 ramadan. Ada sebuah tradisi ibadah yang mulai diselipkan dalam salat malam, yakni pembacaan doa qunut pada rakaat terakhir salat witir.
Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan lokal, melainkan praktik ibadah yang memiliki akar sejarah dan dalil yang kuat dalam khazanah keilmuan Islam.
Bagi banyak umat Muslim, momen ini menjadi penanda bahwa Ramadan telah memasuki fase nisfu atau separuh jalan.
Kehadiran doa qunut di pertengahan malam Ramadan ini sering kali menjadi momen emosional bagi jemaah.
Doa yang dipanjatkan di penghujung witir seolah menjadi pengingat bahwa waktu untuk mendulang pahala di bulan mulia ini mulai beranjak menuju garis finis.
Secara teknis, amalan ini mulai dilaksanakan tepat pada malam ke-16 Ramadan. Di Indonesia, masyarakat mengenalnya sebagai tanda dimulainya sepuluh malam terakhir yang penuh kemuliaan atau malam-malam "likuran".
Lantas, mengapa doa qunut baru dibaca setelah melewati malam ke-15?
Mengapa tidak dilakukan sejak awal Ramadan? Jawabannya terletak pada ijtihad para ulama dan riwayat-riwayat sahih yang diwariskan secara turun-temurun.
Melansir dari NU Online,uUlama-ulama besar, terutama dari kalangan Mazhab Syafi'i, memberikan perhatian khusus terhadap hukum dan tata cara amalan ini. Mereka menyandarkan praktik tersebut pada perbuatan para sahabat Nabi Muhammad SAW.
Salah satu rujukan utama yang sering dikutip adalah riwayat dari Imam Abu Dawud. Dalam riwayat tersebut, tergambar bagaimana suasana salat jemaah pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA.
Dikisahkan bahwa Sayyidina Umar bin Khattab mengumpulkan umat Islam untuk melaksanakan salat tarawih di bawah pimpinan imam Ubay bin Ka’ab. Ini adalah tonggak sejarah dimulainya salat tarawih secara berjemaah secara terorganisir.
Namun, ada hal unik yang dicatat dalam riwayat tersebut mengenai kapan qunut itu mulai dibacakan. Berikut adalah kutipan atsar (perkataan sahabat) yang menjadi rujukan utamanya:
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ جَمَعَ النَّاسَ عَلَىٰ أَبِي بْنِ كَعْبٍ فَكَانَ يُصَلِّي لَهُمْ عِشْرِينَ لَيْلَةً وَلَا يَقْنُتُ إِلَّا فِي النِّصْفِ الْبَاقِي مِنْ رَمَضَان رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ
Artinya: "Sesungguhnya Umar bin Khattab mengumpulkan umat untuk shalat tarawih di belakang Ubay bin Ka'ba, dan dia (Ubay bin Ka'ab) shalat bersama mereka selama dua puluh malam, dan tidak berdoa qunut kecuali pada separuh sisa (malam) di bulan Ramadan." (HR. Abu Dawud).