Ramadan 2026
Jadwal Sidang Isbat Ramadan 2026 dan Lokasi Pemantauan Hilal di Gorontalo
Di tengah dinamika penentuan kalender hijriah, masyarakat kini mengarahkan pandangan mereka pada agenda besar Kementerian Agama RI.
Safrianto Kaaowan, Ketua Tim Urais Binsyar Kemenag Gorontalo, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi ini didasarkan pada perhitungan azimut atau koordinat horizontal hilal yang berada pada posisi 256 derajat.
Pada posisi tersebut, jika pengamatan dilakukan dari pantai, arah pandang justru akan terhalang atau tidak selaras dengan garis cakrawala laut. Posisi 256 derajat di Gorontalo justru mengarah tepat ke wilayah daratan atau tengah kota.
Oleh karena itu, keberadaan di ketinggian lantai gedung menjadi solusi paling masuk akal. Dengan berada di rooftop, tim pemantau mendapatkan pandangan yang bersih tanpa terhalang bangunan sekitar atau pepohonan yang rimbun di daratan.
Langkah ini juga diambil untuk meminimalisir polusi cahaya yang sering mengganggu pengamatan visual di level permukaan tanah. Ketinggian Gedung Rektorat IAIN dianggap paling ideal untuk meletakkan perangkat canggih milik BMKG.
Ini merupakan tahun keempat bagi IAIN Sultan Amai Gorontalo menjadi tuan rumah agenda besar ini. Kerja sama yang apik antara akademisi dan praktisi agama ini telah teruji dalam memberikan data yang akurat bagi pusat.
Baca juga: Libur Sekolah Belum Pasti, Ortu Siswa Gorontalo Keluhkan Jadwal Pulkam Terganggu
Sinergi Lintas Sektoral di Lapangan
Pelaksanaan rukyatul hilal di Gorontalo yang dijadwalkan pada 17 Februari sore nanti tidak akan menjadi gerakan tunggal. Berbagai instansi dipastikan hadir untuk melakukan validasi bersama.
BMKG Gorontalo akan menerjunkan tim ahli dengan perlengkapan teleskop otomatis yang mampu melacak posisi koordinat bulan secara presisi. Teknologi ini membantu mata manusia dalam mencari titik sabit yang sangat tipis.
Selain itu, kehadiran Pengadilan Agama Kota Gorontalo sangat krusial. Jika ada perukyat yang mengaku melihat hilal, mereka harus segera diambil sumpahnya di bawah kitab suci oleh hakim yang hadir di lokasi.
Akademisi dan pakar falak dari IAIN Sultan Amai juga memberikan dukungan teoritis di lapangan. Diskusi-diskusi kecil mengenai posisi benda langit biasanya terjadi di sela-sela persiapan alat, menambah bobot edukasi dalam kegiatan ini.
Pemerintah daerah dan perwakilan ormas Islam setempat juga akan turut hadir. Hal ini dilakukan agar seluruh proses dapat disaksikan secara terbuka, sehingga tidak ada keraguan saat laporan dikirimkan ke Jakarta.
Safrianto memperkirakan bahwa proses di lapangan akan dimulai sekitar pukul 17.00 atau 17.30 Wita, sesaat sebelum matahari benar-benar menghilang di ufuk barat.
Menilik data posisi hilal yang masih berada di bawah ufuk, Safrianto memberikan gambaran realistis kepada masyarakat. Menurutnya, kemungkinan besar laporan dari berbagai daerah, termasuk Gorontalo, akan menyatakan hilal "tidak terlihat".
Jika hal ini terjadi, maka secara hukum fikih, bulan Syakban akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal). Kondisi ini mengarah pada prediksi bahwa awal puasa versi pemerintah kemungkinan besar jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
"Proses verifikasi data untuk posisi hilal yang minus biasanya jauh lebih cepat. Kami segera mengirimkan data ke pusat setelah pengamatan selesai," tambah Safrianto.
Meski terdapat potensi perbedaan dengan Muhammadiyah yang memulai lebih awal (18 Februari), Kemenag mengimbau agar hal tersebut tidak menjadi pemicu keretakan sosial. Perbedaan dalam ijtihad penentuan kalender adalah hal yang lumrah dalam sejarah Islam.
Masyarakat diharapkan tetap menunggu pengumuman resmi dari Menteri Agama agar tercipta ketenangan dalam memulai ibadah. Keputusan pemerintah hadir sebagai payung hukum yang menaungi seluruh umat di Indonesia.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu) (KompasTV/Dian Nita)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/20423-Pemantauanhilal.jpg)