Ramadan 2026
Jadwal Sidang Isbat Ramadan 2026 dan Lokasi Pemantauan Hilal di Gorontalo
Di tengah dinamika penentuan kalender hijriah, masyarakat kini mengarahkan pandangan mereka pada agenda besar Kementerian Agama RI.
Dari sisi teknis-saintifik, Kemenag menggandeng institusi papan atas seperti BMKG, Badan Informasi Geospasial (BIG), hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Keterlibatan lembaga-lembaga ini menjamin bahwa data yang dipaparkan memiliki akurasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Bahkan, pakar dari Observatorium Bosscha ITB dan Planetarium Jakarta turut dilibatkan. Hal ini menunjukkan bahwa penentuan awal Ramadan di Indonesia adalah hasil kolaborasi antara iman dan ilmu pengetahuan yang sangat ketat.
Tiga Tahapan Penting Sidang Isbat
Proses sidang ini terbagi dalam tiga rangkaian utama yang sistematis. Tahap pertama dimulai dengan pemaparan posisi hilal secara astronomis oleh Tim Hisab Rukyat Kemenag. Di sini, data angka dan grafik mulai berbicara mengenai potensi terlihatnya bulan sabit muda.
Tahap kedua adalah proses verifikasi. Di sinilah laporan dari 96 titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia dikumpulkan. Petugas di lapangan akan melaporkan apakah mereka berhasil melihat hilal dengan mata telanjang atau bantuan teleskop, atau justru terhalang cuaca.
Tahap ketiga adalah musyawarah tertutup. Para ulama dan tokoh ormas akan menimbang data hisab dan laporan rukyat tersebut. Jika kedua data saling menguatkan, maka keputusan akan diambil dengan suara bulat.
Hasil akhir dari musyawarah tersebut kemudian akan diumumkan kepada publik melalui konferensi pers. Momen pengumuman inilah yang biasanya dinanti-nantikan oleh jutaan mata di depan layar kaca maupun media sosial.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menekankan bahwa transparansi adalah kunci.
"Pemerintah berupaya memastikan penetapan awal Ramadan dilakukan secara ilmiah, transparan, dan melibatkan seluruh unsur terkait," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Prediksi Astronomis: Tantangan Hilal Rendah
Berdasarkan perhitungan hisab yang sudah dilakukan, ijtimak atau konjungsi menjelang Ramadan 1447 H diprediksi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, sekitar pukul 19.01 WIB. Data ini menjadi basis utama bagi para pengamat di lapangan.
Namun, ada catatan penting bagi para pemerhati falak. Pada saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia pada tanggal tersebut, posisi hilal dilaporkan masih berada di bawah ufuk (minus).
Ketinggian hilal diprediksi berkisar antara -2° 24 menit hingga -0° 58 menit. Selain itu, sudut elongasi atau jarak sudut antara bulan dan matahari juga masih sangat kecil, yakni di bawah 2 derajat.
Angka-angka ini memberikan indikasi kuat bahwa secara teoretis, hilal akan sangat sulit atau bahkan mustahil untuk dilihat pada sore hari tanggal 17 Februari tersebut. Hal ini berkaitan dengan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat.
Kondisi ini sering kali menjadi pemicu potensi perbedaan awal puasa dengan kelompok yang menggunakan metode Wujudul Hilal secara murni, seperti Muhammadiyah yang telah menetapkan 18 Februari 2026 sebagai awal Ramadan.
Baca juga: BPJS Gorontalo Ungkap Mekanisme Reaktivasi PBI JKN, Kunjungan Warga Meningkat Pasca Penonaktifan
Rukyatul Hilal di Gorontalo
Bergeser ke wilayah timur Indonesia, Provinsi Gorontalo telah menyiapkan strategi khusus. Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Gorontalo secara resmi memilih Rooftop Gedung Rektorat IAIN Sultan Amai Gorontalo sebagai titik utama pemantauan.
Keputusan ini cukup menarik perhatian publik karena biasanya pemantauan hilal identik dengan kawasan pesisir pantai. Namun, tahun ini Kemenag memiliki alasan teknis yang sangat solid dan berbasis data astronomi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/20423-Pemantauanhilal.jpg)