Berita Gorontalo
Kasus Videografer Berujung Hukum, Jadi Alarm Dunia Kreatif di Gorontalo Tak Asal Trima Proyek
Kasus hukum yang menjerat seorang videografer hingga berujung penahanan kini memicu diskusi luas, termasuk di Gorontalo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/VOXPOP-Dosen-Ilmu-Komunikasi-Universitas-Negeri-Gorontalo-UNG.jpg)
Hal ini dapat menimbulkan kesalahpahaman jika tidak dijelaskan secara rinci.
“Misalnya pekerjaan yang direncanakan 30 hari bisa selesai 15 hari karena kita sudah profesional. Tapi kalau tidak dijelaskan dalam administrasi, bisa disalahartikan,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan dari sebuah kasus tanpa memahami keseluruhan informasi.
“Luangkan waktu untuk baca isi berita dan cari pembanding dari dua sisi yang berbeda, supaya tidak salah memahami,” tambahnya.
Di sisi lain, Stenly menegaskan bahwa pekerjaan videografer memiliki nilai yang tidak sederhana.
Selain kreativitas, terdapat investasi peralatan dan pengalaman yang menjadi dasar penentuan harga jasa.
“Ide itu mahal. Selain itu, alat atau gear yang digunakan juga tidak murah. Itu yang kadang tidak terlihat oleh masyarakat,” jelasnya.
Baik akademisi maupun praktisi sepakat bahwa kasus ini seharusnya menjadi pembelajaran bersama.
Dunia kreatif tidak lagi bisa dipandang sebagai sekadar hobi, melainkan profesi yang menuntut pemahaman hukum, etika, dan administrasi.
“Kalau sudah masuk dunia profesional, apalagi bersinggungan dengan proyek pemerintah, maka harus paham etika hukum, kontrak, dan batasan pekerjaan. Ini bukan sekadar hobi, tapi profesi,” tegas Wira.
Stenly pun berharap masyarakat semakin memahami kompleksitas di balik pekerjaan kreatif.
“Harapannya masyarakat bisa lebih memahami bahwa pekerjaan videografer itu bukan sekadar pegang kamera, tapi ada proses panjang di baliknya,” tutupnya.