Kamis, 2 April 2026

Berita Gorontalo

Alarm Serius! Anak Muda Jadi Penyumbang Terbesar Pengangguran di Gorontalo, Ini Fakta Mengejutkannya

Meski angka pengangguran di Provinsi Gorontalo tergolong rendah, komposisinya justru mengungkap persoalan yang lebih serius.

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Alarm Serius! Anak Muda Jadi Penyumbang Terbesar Pengangguran di Gorontalo, Ini Fakta Mengejutkannya
TribunGorontalo.com/Wawan Akuba
PENGANGGURAN -- Seorang pria terlihat frustasi. Sebagai informasi bahwa anak muda terbanyak pengangguran di Gorontalo. 
Ringkasan Berita:
  • Rendahnya angka pengangguran justru menutupi masalah besar pada dominasi usia muda yang belum terserap kerja.
  • Ketimpangan antara pendidikan dan lapangan kerja menjadi faktor utama yang memperparah kondisi ini.
  • Tanpa perubahan struktur ekonomi, pengangguran muda berpotensi terus meningkat di masa depan.

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Meski angka pengangguran di Provinsi Gorontalo tergolong rendah, komposisinya justru mengungkap persoalan yang lebih serius.

Data terbaru menunjukkan bahwa pengangguran didominasi kelompok usia muda yang sudah tidak lagi bersekolah, menjadi tantangan tersendiri bagi daerah.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) diukur secara berkala melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas).

Pada 2025, survei dilakukan tiga kali, yakni Februari, Agustus, dan November.

Statistisi Ahli Madya BPS Gorontalo, Prasaja Arifiyanto, menjelaskan bahwa hasil pengukuran menunjukkan fluktuasi angka pengangguran.

Baca juga: ALASAN Sebenarnya 16 Dapur MBG di Gorontalo Terpaksa Ditutup Pemerintah! Ternyata tak Punya Ini

Pada Februari 2025, TPT tercatat 3,12 persen, meningkat menjadi 3,42 persen di Agustus, dan kembali turun menjadi 3,23 persen pada November.

“Tahun 2025 kami melaksanakan tiga kali Sakernas, bulan Februari, Agustus dan November,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).

Secara umum, angka tersebut dinilai masih relatif kecil jika dibandingkan dengan wilayah lain di Pulau Sulawesi.

Bahkan, Gorontalo sempat menempati posisi kedua terendah setelah Sulawesi Tengah.

“Sebenarnya angka TPT Gorontalo di pulau Sulawesi itu relatif kecil,” ungkapnya.

Jika melihat tren sebelumnya, fluktuasi serupa juga terjadi. Pada 2024, angka pengangguran berada di 3,05 persen pada Februari dan naik menjadi 3,13 persen di Agustus.

Sementara pada 2023, angkanya berada di kisaran 3,07 persen dan 3,06 persen.

“Memang semua dalam kisaran angka tiga persen sekian,” tambahnya.

Namun, di balik angka yang relatif rendah, BPS menemukan fakta bahwa pengangguran paling banyak berasal dari kelompok usia produktif muda.

Rentang usia 15–19 tahun dan 20–24 tahun menjadi penyumbang terbesar.

“Pengangguran paling besar berada pada rentang usia 15-19 20-24, yang merupakan anak yang sudah tidak bersekolah,” jelasnya.

Jumlah penganggur usia 15–19 tahun tercatat 5.672 orang, sedangkan usia 20–24 tahun mencapai 8.524 orang, dengan total kontribusi sebesar 28,65 persen.

Prasaja menilai kondisi ini perlu perhatian serius, terutama dalam hal akses pendidikan bagi usia muda.

“Kalau usia 15-19 tahun harusnya masih bisa sekolah, kalau dia sekolah maka tidak akan masuk dalam persentase TPT, Jadi apa? sekolah,” tegasnya.

Menariknya, wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi seperti Kota dan Kabupaten Gorontalo justru mencatat tingkat pengangguran tertinggi dibanding daerah lain.

Di sisi lain, kalangan akademisi melihat tren ini sebagai sinyal yang perlu diwaspadai.

Akademisi Universitas Negeri Gorontalo, Herwin Mopangga, menilai arah kenaikan lebih penting dibanding angka itu sendiri.

“Kenaikan yang konsisten, meski tipis, menjadi sinyal bahwa pasar kerja mulai kehilangan daya serapnya,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini tidak terlepas dari struktur ekonomi daerah yang belum mampu menyerap pertumbuhan angkatan kerja baru.

“Ekonomi memang tumbuh, tetapi pertumbuhan tersebut tidak cukup 'inklusif' untuk menyerap tambahan angkatan kerja,” jelasnya.

Ia juga menyoroti ketidakseimbangan antara jumlah lulusan perguruan tinggi dengan ketersediaan lapangan kerja.

“Setiap tahun sarana itu lahir dari berbagai kampus di Gorontalo, pada saat yang sama sektor industri tidak berkembang, bahkan dari sisi PDRB, sektor industri sumbangannya terus menurun. Itu bermakna bahwa lulusan baru tidak terserap di pasar kerja di Gorontalo,” ungkapnya.

Herwin menyebut kondisi ini sebagai persoalan struktural yang lebih dalam, di mana angka pengangguran hanya menjadi bagian kecil dari masalah yang lebih kompleks.

Struktur ekonomi Gorontalo yang masih bertumpu pada sektor tradisional seperti pertanian juga dinilai menjadi tantangan, karena produktivitasnya rendah.

Sementara sektor perdagangan dan jasa didominasi usaha kecil yang belum mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Gorontalo masih menghadapi keterbatasan dalam transformasi ekonomi, dari sektor primer menuju sektor sekunder dan tersier yang lebih produktif,” jelasnya.

Sebagai solusi, ia mendorong langkah strategis seperti industrialisasi berbasis potensi lokal, penguatan UMKM, pengembangan pendidikan vokasi, serta peningkatan investasi.

“Untuk keluar dari jebakan ini, Gorontalo perlu menempuh langkah strategis yang lebih terarah. Pertama, mendorong industrialisasi berbasis potensi lokal,” tegasnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Gorontalo juga mengakui bahwa target pengangguran belum tercapai. Dalam LKPJ Tahun Anggaran 2025, target TPT sebesar 3,19 persen belum terpenuhi dengan realisasi 3,23 persen.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved