Rabu, 1 April 2026

Berita Gorontalo

Alarm Serius! Anak Muda Jadi Penyumbang Terbesar Pengangguran di Gorontalo, Ini Fakta Mengejutkannya

Meski angka pengangguran di Provinsi Gorontalo tergolong rendah, komposisinya justru mengungkap persoalan yang lebih serius.

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Alarm Serius! Anak Muda Jadi Penyumbang Terbesar Pengangguran di Gorontalo, Ini Fakta Mengejutkannya
TribunGorontalo.com/Wawan Akuba
PENGANGGURAN -- Seorang pria terlihat frustasi. Sebagai informasi bahwa anak muda terbanyak pengangguran di Gorontalo. 

Rentang usia 15–19 tahun dan 20–24 tahun menjadi penyumbang terbesar.

“Pengangguran paling besar berada pada rentang usia 15-19 20-24, yang merupakan anak yang sudah tidak bersekolah,” jelasnya.

Jumlah penganggur usia 15–19 tahun tercatat 5.672 orang, sedangkan usia 20–24 tahun mencapai 8.524 orang, dengan total kontribusi sebesar 28,65 persen.

Prasaja menilai kondisi ini perlu perhatian serius, terutama dalam hal akses pendidikan bagi usia muda.

“Kalau usia 15-19 tahun harusnya masih bisa sekolah, kalau dia sekolah maka tidak akan masuk dalam persentase TPT, Jadi apa? sekolah,” tegasnya.

Menariknya, wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi seperti Kota dan Kabupaten Gorontalo justru mencatat tingkat pengangguran tertinggi dibanding daerah lain.

Di sisi lain, kalangan akademisi melihat tren ini sebagai sinyal yang perlu diwaspadai.

Akademisi Universitas Negeri Gorontalo, Herwin Mopangga, menilai arah kenaikan lebih penting dibanding angka itu sendiri.

“Kenaikan yang konsisten, meski tipis, menjadi sinyal bahwa pasar kerja mulai kehilangan daya serapnya,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini tidak terlepas dari struktur ekonomi daerah yang belum mampu menyerap pertumbuhan angkatan kerja baru.

“Ekonomi memang tumbuh, tetapi pertumbuhan tersebut tidak cukup 'inklusif' untuk menyerap tambahan angkatan kerja,” jelasnya.

Ia juga menyoroti ketidakseimbangan antara jumlah lulusan perguruan tinggi dengan ketersediaan lapangan kerja.

“Setiap tahun sarana itu lahir dari berbagai kampus di Gorontalo, pada saat yang sama sektor industri tidak berkembang, bahkan dari sisi PDRB, sektor industri sumbangannya terus menurun. Itu bermakna bahwa lulusan baru tidak terserap di pasar kerja di Gorontalo,” ungkapnya.

Herwin menyebut kondisi ini sebagai persoalan struktural yang lebih dalam, di mana angka pengangguran hanya menjadi bagian kecil dari masalah yang lebih kompleks.

Struktur ekonomi Gorontalo yang masih bertumpu pada sektor tradisional seperti pertanian juga dinilai menjadi tantangan, karena produktivitasnya rendah.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved