Tumbilotohe Gorontalo
Setahun Sekali Jualan, Reni Yanti Jajakan Lampu Botol Jelang Tradisi Tumbilotohe Gorontalo
Di bagian depan meja kayu, ratusan botol lampu tersusun rapat. Sementara di bawah meja, terlihat beberapa botol plastik besar berisi minyak tanah
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PEDAGANG-TIMBILOTOHE-Reni-Yanti-Polumulo-49-jualan-lampu-botol-di-Jalan-Pangeran.jpg)
Meski penghasilan dari berjualan lampu botol tidak selalu besar, Reni mengaku tetap bersyukur karena tradisi Tumbilotohe membuat dagangannya masih dicari masyarakat setiap Ramadan.
“Alhamdulillah setiap tahun masih ada saja orang yang cari lampu botol. Biasanya kalau sudah dekat Tumbilotohe pembeli mulai ramai karena orang-orang mau pasang lampu di halaman rumah atau di depan rumah,” katanya.
Menjelang sore, suasana di sekitar lapaknya mulai ramai. Para pedagang takjil di sepanjang jalan mulai menata dagangan mereka.
Begitu juga dengan arus lalu lintas dari arah utara maupun selatan Jalan Pangeran Hidayat yang mulai meningkat.
Lampu-lampu sederhana itu nantinya akan dinyalakan di halaman rumah warga, menjadi bagian dari cahaya tradisi Tumbilotohe yang selalu menyemarakkan Ramadan di Gorontalo.
Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo
Tumbilotohe merupakan salah satu tradisi khas masyarakat Gorontalo yang digelar setiap akhir Ramadan.
Tradisi ini dikenal sebagai malam pasang lampu, yaitu kegiatan menyalakan lampu-lampu minyak di halaman rumah, masjid, hingga sepanjang jalan kampung.
Lampu-lampu tersebut biasanya menggunakan botol kaca atau lampu tradisional yang diisi minyak tanah dan dilengkapi sumbu.
Tumbilotohe biasanya dilaksanakan pada tiga malam terakhir bulan Ramadan menjelang Hari Raya Idulfitri.
Secara filosofis, tradisi ini melambangkan penerangan jalan bagi umat Muslim dalam menyambut malam-malam terakhir Ramadan yang diyakini penuh keberkahan, termasuk malam Lailatul Qadar.
Selain itu, Tumbilotohe juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat Gorontalo dalam menjaga tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. (*)