Berita Populer
TOP 3 BERITA GORONTALO: Sosok Ramlan Amrain Lurah Tenilo, Kisah Ibrahim Pakaya Penjual Gulali
Kumpulan peristiwa, human interest story, hingga politik terangkum dalam Berita Populer, Senin (2/3/2026).
Penulis: Tim Redaksi | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Berpop-1-Maret-2026.jpg)
Lulus dari SMA 1 Tibawa pada tahun 2000, Ramlan muda sebenarnya bercita-cita menjadi anggota TNI.
Baca juga: Breaking News: Media Iran Konfirmasi Meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei
2. Jejak Islam di Gorontalo, Masjid Sabilulhuda ‘Boki Owutango’ Berdiri Sejak 1525
Masjid Besar Sabilulhuda ‘Boki Owutango’ berdiri di persimpangan Jalan Raja Eyato, Jalan Samudera Pasai, dan Jalan Kutai, Kelurahan Tamalate, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Dari luar, bangunannya tampak kokoh dengan sentuhan arsitektur klasik yang masih dipertahankan. Namun, di balik itu tersimpan kisah panjang tentang awal masuknya Islam di Gorontalo.
Ketua Takmirul Masjid Besar Sabilulhuda ‘Boki Owutango’, Rustam Yahya, menyebut masjid ini memiliki akar sejarah yang sangat tua.
“Masjid Sabilulhuda ‘Boki Owutango’ termasuk salah satu masjid tertua di Gorontalo. Ia didirikan pada 1525 Masehi atau 946 Hijriah,” ujarnya kepada TribunGorontalo.com, Minggu (1/3/2026).
Menurut Rustam, penetapan tahun tersebut bukan sekadar cerita turun-temurun. Ada bukti autentik yang ditemukan saat renovasi masjid.
Dahulu, masyarakat sekitar belum mengetahui secara pasti kapan masjid itu berdiri. Namun, ketika dilakukan pembongkaran bagian atap saat renovasi, ditemukan petunjuk penting.
“Ketika pekerja membongkar bagian atas atap, ditemukan semacam payung kayu,” ungkapnya.
Payung kayu tersebut disebut sebagai satu-satunya yang ada di Gorontalo. Pada ukiran kayu itu tertera tahun pembangunan masjid.
3. Kisah Ibrahim Pakaya, Kakek 71 Tahun Penjual Gulali di Taman Kalimadu Gorontalo
Ibrahim Pakaya duduk dengan tenang di balik gerobak hijaunya saat matahari mulai condong ke barat di kawasan Kalimadu, Kota Tengah, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Pria berusia 71 tahun yang akrab disapa Opa Bura ini sedang menarik adonan gula merah muda yang perlahan mengeras di tangannya.
Di tengah kepungan jajanan modern, Opa Bura tetap setia menjajakan gulali tradisional demi menjaga kemandirian di usia senja.
Gulali adalah sebutan untuk jajanan tradisional khas Indonesia yang bahan utamanya terbuat dari gula (biasanya gula pasir atau gula merah) yang dilelehkan hingga mengental dan elastis.
Jajanan ini sangat populer di kalangan anak-anak, terutama karena bentuknya yang unik dan warnanya yang mencolok.
Sejak tahun 2012, Opa Bura menekuni profesi sebagai penjual gulali. Meskipun kedua anaknya telah berkeluarga dan mapan, warga Kelurahan Molosifat U ini menolak untuk sekadar berdiam diri di rumah.
(TribunGorontalo.com/*)