Human Interest Story
Kisah Rudy Potabuga, Perantau Tekuni Bordir Manual di Gorontalo
Di depan halaman minimarket Murah Mart, Jalan Kalimantan, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Rudy-Potabuga-saat-mengoperasikan-mesin-jahit.jpg)
Di balik gantungan topi itu, Rudy duduk membungkuk di depan mesin jahit manual berwarna kusam. Kedua tangannya mengatur kain seragam kerja berwarna oranye, sementara kakinya menginjak pedal mesin perlahan.
Lampu minimarket Murah Mart di belakangnya menyala terang, memantul di kaca etalase, kontras dengan meja kerja kayu sederhana yang penuh gulungan benang dan potongan kain.
Jarum mesin turun naik pelan, meninggalkan jejak bordir kecil di bagian dada seragam. Di tengah lalu lintas Kota Gorontalo yang terus mengalir, lapak sederhana itu tetap berdiri.
Di situlah Rudy Potabuga menggantungkan hidupnya, satu jahitan demi satu jahitan. Kisah Rudy menggambarkan perjuangan seorang suami sekaligus ayah yang bekerja keras demi keluarga kecilnya, tanpa pernah mengeluh pada takdir.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)