Human Interest Story
Kisah Rudy Potabuga, Perantau Tekuni Bordir Manual di Gorontalo
Di depan halaman minimarket Murah Mart, Jalan Kalimantan, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Rudy-Potabuga-saat-mengoperasikan-mesin-jahit.jpg)
Soal penghasilan, Rudy mengaku tidak bisa memastikan angka tetap setiap hari.
“Kalau lagi bagus, sehari bisa dapat sekitar Rp150 ribu. Tapi kalau sepi, kadang tidak sampai itu, bahkan jauh di bawah. Tergantung orang datang atau tidak,” ungkapnya.
Lapaknya dibuka sejak pagi hingga malam.
“Biasanya tutup jam 10 malam. Kalau masih ada orang datang, ya dilayani dulu,” katanya.
Jenis pesanan yang diterima cukup beragam, mulai dari bordir topi, logo kecil, hingga papan nama anak sekolah. Harga berkisar Rp15 ribu hingga Rp30 ribu, tergantung tingkat kesulitan. Rudy juga menyediakan topi polos dengan gratis bordir bagi pembeli.
Pendidikan dan Keterampilan
Rudy tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Ia hanya sempat bersekolah hingga kelas tiga SD.
“Saya cuma sampai kelas tiga SD. Waktu itu kondisi keluarga tidak memungkinkan lanjut sekolah. Apalagi saya sudah terbiasa cari uang sendiri, jadi memutuskan untuk bekerja,” katanya.
Kemampuan membordir diperoleh secara otodidak.
“Saya belajar sendiri, tidak pernah kursus, tidak ada yang ajari. Dulu juga tidak tahu apa-apa soal jahit atau bordir. Tapi karena mau kerja, mau cari makan, jadi pelan-pelan belajar,” ujarnya.
Kehidupan Keluarga
Saat awal merantau, Rudy sempat tinggal di Manado. Di sana ia bertemu dengan jodohnya yang asli Gorontalo, dan kini mereka menetap di Gorontalo.
Meski penghasilan pas-pasan dan persaingan makin berat, Rudy tetap bersyukur usaha kecilnya masih bisa menopang kehidupan keluarganya.
“Alhamdulillah, dari usaha ini anak bisa sekolah, makan bisa jalan. Tidak lebih, tapi cukup,” katanya.
Ia tidak memasang target tinggi untuk masa depan usahanya. Harapannya sederhana: usaha tetap berjalan dan bisa memenuhi kebutuhan keluarga.
Pantauan di lapangan menunjukkan lapak kecil Rudy dipenuhi deretan topi berbagai warna yang tergantung rapat pada rangka besi hitam menghadap ke jalan. Sebagian masih polos, sebagian lain sudah dibordir logo sekolah dan instansi.