Human Interest Story
Kisah Rudy Potabuga, Perantau Tekuni Bordir Manual di Gorontalo
Di depan halaman minimarket Murah Mart, Jalan Kalimantan, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Rudy-Potabuga-saat-mengoperasikan-mesin-jahit.jpg)
Ringkasan Berita:
- Sejak tahun 2011, Rudy Potabuga tetap setia menggunakan mesin jahit manual di depan minimarket Murah Mart
- Pria asal Kotamobagu yang hanya menempuh pendidikan hingga kelas 3 SD ini belajar membordir secara otodidak demi menghidupi keluarganya
- Dengan tarif jasa berkisar antara Rp15.000 hingga Rp30.000
TRIBUNGORONTALO.COM – Di depan halaman minimarket Murah Mart, Jalan Kalimantan, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, Rudy Potabuga masih setia membuka jasa bordir manual.
Meski harus bersaing dengan mesin bordir berbasis komputer yang kini semakin menjamur, Rudy tetap bertahan dengan mesin jahit manual.
Rudy merupakan perantau asal Kotamobagu, Sulawesi Utara. Ia menetap di Gorontalo sejak 2004 dan kini tinggal di Desa Ilotidea, Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo.
“Saya dari Kotamobagu, Sulawesi Utara. Datang ke Gorontalo tahun 2004. Awalnya cuma ikut kerja sana-sini, belum punya pegangan tetap. Baru setelah beberapa tahun, saya coba buka usaha kecil-kecilan sampai akhirnya bertahan di bordir ini,” kata Rudy saat ditemui, Rabu (21/1/2026).
Kini Rudy telah berkeluarga dan memiliki dua anak. Anak sulungnya sudah bekerja, sementara anak perempuannya masih menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO).
Rudy mulai menekuni usaha bordir sekitar tahun 2011–2012. Awalnya ia membuka lapak di minimarket Q-Mart, Jalan Rambutan, sebelum pindah ke kawasan Jalan Kalimantan hingga sekarang.
“Kalau mulai serius bordir itu sekitar tahun 2011 atau 2012. Dulu saya di Q-Mart di Jalan Rambutan Tomulabutao, kemudian pindah ke Jalan Kalimantan ini. Dulu masih ramai, banyak yang datang, terutama anak-anak sekolah,” ujarnya.
Di tengah perkembangan teknologi, Rudy masih mengandalkan mesin jahit manual karena keterbatasan modal.
“Sekarang hampir semua sudah pakai mesin komputer, cepat dan bisa banyak produksi. Saya masih manual karena memang tidak ada modal beli mesin besar. Jadi ya pakai yang ada saja. Selama masih bisa dipakai, saya jalani,” katanya.
Menurut Rudy, bekerja dengan mesin manual memang lebih lambat. Namun ia berusaha menjaga kualitas jahitan agar pelanggan tetap puas.
“Kalau manual memang lama, tidak bisa cepat. Tapi saya usahakan rapi. Biasanya orang datang karena mau cepat satu dua barang, atau sudah langganan dari dulu,” ujarnya.
Baca juga: Sosok Agus Priono Adada, Anak Sopir Bentor Jadi Kanit Turjawali Satlantas Polresta Gorontalo Kota
Tantangan Musiman dan Persaingan
Awal tahun selalu menjadi masa yang berat bagi usahanya. Pesanan biasanya menurun drastis pada Januari hingga Februari.
“Sekarang masih sepi sekali. Memang tiap tahun kalau awal tahun begitu, jarang orang pesan bordir. Nanti agak ramai kalau sudah dekat tahun ajaran baru, kalau anak-anak mulai masuk sekolah,” jelasnya.
Rudy mengenang masa ketika pesanan datang silih berganti, terutama saat musim sekolah. Kini situasinya berbeda karena persaingan semakin ketat dengan banyaknya jasa bordir berbasis komputer.