PEMPROV GORONTALO
Momen Haru Fien Tahir Saat Dikunjungi Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, Kenang Masa Lalu sang Murid
Suasana haru menyelimuti kediaman Fien Tahir. Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail datang bersilaturahmi pada momentum Hari Guru Nasional
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Gubernur-Gorontalo-Gusnar-Ismail-saat-mengunjungi-mantan-gurunya.jpg)
Ringkasan Berita:
- Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersilaturahmi ke rumah mantan gurunya, Fien Tahir
- Suasana cair dengan pertanyaan spontan sang adik yang mengingatkan masa lalu Gusnar
- Gusnar menegaskan Hari Guru bukan sekadar seremoni, melainkan momentum berterima kasih kepada para pendidik
TRIBUNGORONTALO.COM – Suasana haru menyelimuti kediaman Fien Tahir. Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail datang bersilaturahmi pada momentum Hari Guru Nasional.
Fien yang kini berusia 82 tahun menatap mantan muridnya itu dengan mata berkaca-kaca.
Gusnar tiba sekitar pukul 12.00 Wita di kediaman Fien yang berada di Kelurahan Molosipat W, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo pada Selasa (25/11/2025).
Sambutan hangat keluarga menyertai kedatangan Gusnar saat memasuki rumah sederhana tempat Fien tinggal.
Namun, penyambutan paling menyentuh justru datang dari Fien sendiri. Bukan lewat kata-kata, melainkan tatapan kosong penuh haru, bangga, dan linangan air mata.
Meski tak lagi bisa berbicara jelas seperti dulu dan pendengarannya telah berkurang, Fien tetap mengenali sosok muridnya.
Ia menatap lama wajah Gusnar, seolah mengingat perjalanan puluhan tahun lalu ketika ia pernah menjadi gurunya.
Fien dikenal sebagai guru olahraga, biologi, hingga bimbingan konseling (BK) di SMA Negeri 3 Gorontalo (dulu SNPP).
Di momen itu, suasana haru sempat pecah oleh pertanyaan spontan sang adik yang membuat semua tersenyum.
“Apakah kau masih ingat orang yang pernah kau pukul, kau gunting rambutnya?” ucap sang adik.
Pertanyaan itu mengundang tawa. Gusnar pun hanya tersenyum, mengenang masa lalu.
Ingatan lama begitu kuat. Gusnar bahkan sempat bertanya apakah rotan yang dulu digunakan untuk menghukumnya masih ada.
“Beliau guru yang tegas, saklek, sama dengan killer tapi santai,” ungkap Gusnar mengenang.
Kunjungan itu juga diwarnai kehadiran Doni Niode, rekan satu angkatan Gusnar semasa sekolah tahun 1975.