PEMPROV GORONTALO
Guru Gusnar Ismail Kenang Kejahilan sang Gubernur Gorontalo saat Masih Sekolah
Momen Hari Guru Nasional 2025 tak hanya diwarnai keharuan, tetapi juga cerita unik dari masa lalu Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Gubernur-Gorontalo-Gusnar-Ismail-saat-berkunjung-ke-rumah-mantan-gurunya.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Momen Hari Guru Nasional 2025 diwarnai kisah nostalgia antara Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, dengan guru yang pernah membimbingnya semasa sekolah.
Salah satu cerita unik datang dari Ratna Mahsyur. Guru Tata Buku Hitung Dagang Ekonomi di SMA Negeri 3 Gorontalo (dulu SMPP), itu mengenang kejahilan sang Gubernur Gorontalo.
Usai bersilaturahmi dengan mantan gurunya Fien Tahir, Gusnar melanjutkan kunjungan ke kediaman Ratna di Jalan Jakarta, Kelurahan Wumialo, Kecamatan Kota Tengah, Selasa (25/11/2025).
Pertemuan tersebut menghadirkan tawa, keharuan, sekaligus cerita masa lalu yang jarang diketahui publik.
Ratna mengaku bangga melihat muridnya kini menjadi orang nomor satu di Gorontalo. Namun, ia juga mengungkap kenangan istimewa tentang sosok Gusnar yang dikenal cerdas sekaligus jahil.
“Dia adalah sosok yang paling pintar, namun juga nakal,” ujar Ratna mengenang.
Ratna menegaskan bahwa kenakalan Gusnar bukanlah kenakalan biasa. Menurutnya, sikap kritis yang ditunjukkan Gusnar justru menjadi dorongan untuk maju.
“Nakalnya itu positif. Dia menentang guru bukan untuk menghancurkan, tapi karena ingin berkembang,” ungkapnya.
Ratna menyebut Gusnar akrab dipanggil “Gum” oleh teman-temannya. Ia dikenal sebagai siswa yang berani, kritis, dan selalu ingin membawa perubahan.
Salah satu kejahilan yang paling diingat Ratna adalah ketika Gusnar menurunkan bendera merah putih di sekolah dan menggantinya dengan bendera partai.
“Pada waktu itu, bendera merah putih dia kasih turun, lalu diganti dengan bendera partai,” kenang Ratna sambil tersenyum.
Meski dianggap jahil, Ratna menilai sejak masa SMA karakter kepemimpinan sudah terlihat jelas dalam diri Gusnar.
“Memang sejak sekolah tanda-tanda jadi pemimpin itu sudah ada,” tegasnya.
Baca juga: BREAKING NEWS: Daniel Ibrahim Bakal Dinonaktifkan dari Kadispora Gorontalo Imbas Polemik Medali GHM
Selain itu, Ratna juga mengingat bagaimana Gusnar sering keluar daerah untuk memperkenalkan sekolahnya. Upaya itu dilakukan demi menambah jumlah murid, karena saat itu sekolah masih sepi.
Sikap tanggung jawab dan rasa peduli terhadap sekolah menjadi modal awal yang membentuk karakter kepemimpinan Gusnar hingga kini.
Ratna pun menitip pesan sederhana kepada mantan muridnya tersebut. Ia berharap Gusnar tetap amanah dan mengabdi sepenuh hati untuk masyarakat Gorontalo.
“Semoga beliau terus amanah dan mengabdi sepenuh hati untuk masyarakat,” tutup Ratna.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)