Jumat, 20 Maret 2026

Tribun Podcast

Pesawat Rute Djalaludin Gorontalo ke Pohuwato Sepi Penumpang, Diduga Warga Masih Trauma

Tingkat keterisian penumpang penerbangan perintis ke Bandara Pohuwato hanya berada di angka sekitar 2 persen dalam sepanjang 2025.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Minimnya minat masyarakat menggunakan penerbangan perintis rute Gorontalo–Pohuwato sepanjang 2025 menjadi sorotan serius pengelola bandara dan Kementerian Perhubungan.

Tingkat keterisian penumpang pada rute tersebut tercatat sangat rendah, hanya berkisar 2 persen, sehingga masuk dalam daftar evaluasi rutin.

Kondisi tersebut terungkap dalam Podcast TribunGorontalo.com bertajuk Bandara Djalaluddin dan Hal-hal yang Jarang Dibicarakan, yang disiarkan langsung dari Studio TribunGorontalo.com.

Kepala Bandara Djalaluddin Gorontalo, Joko Harjani, hadir sebagai narasumber dan memaparkan situasi terkini penerbangan perintis di wilayah Gorontalo.

Tampak Bandara Panua Pohuwato dari depan, Sabtu (20/4/2024).
Tampak Bandara Panua Pohuwato dari depan, Sabtu (20/4/2024). (TribunGorontalo.com/RahmanHalid)

Joko menjelaskan bahwa meskipun rute ke Pohuwato masih tercantum dalam program angkutan udara perintis nasional pada 2025, tingkat pemanfaatannya jauh dari harapan.

“Selama beberapa bulan terakhir, okupansi penumpangnya sangat kecil, hanya sekitar dua persen. Ini tentu menjadi tantangan besar,” ujar Joko.

Ia menuturkan, pengaktifan kembali Bandara Pohuwato sejatinya bertujuan membuka akses transportasi udara ke wilayah yang relatif terpencil.

Namun dalam praktiknya, masyarakat belum menunjukkan antusiasme untuk menggunakan moda transportasi tersebut.

Faktor Trauma dan Keraguan Terhadap Pesawat Kecil

Menurut Joko, rendahnya minat terbang ke Pohuwato dipengaruhi oleh dua faktor utama.

Salah satunya adalah trauma masyarakat akibat insiden kecelakaan pesawat yang terjadi pada 2024.

“Dampaknya cukup panjang. Rasa takut itu masih ada dan memengaruhi keputusan masyarakat untuk terbang,” katanya.

Selain itu, jenis pesawat perintis yang digunakan juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi calon penumpang.

Joko menyebut, sebagian besar warga Gorontalo sudah terbiasa menggunakan pesawat berukuran lebih besar.

Penerbangan pertama kali ke Bandara Panua Pohuwato menggunakan maskapai SAM Air, 18 Februari 2024.
Penerbangan pertama kali ke Bandara Panua Pohuwato menggunakan maskapai SAM Air, 18 Februari 2024. (Herjianto Tangahu)

“Ketika harus menggunakan pesawat kecil, banyak yang masih ragu, meskipun secara keselamatan sudah memenuhi standar,” ujarnya.

Padahal, penerbangan perintis tidak berorientasi pada keuntungan semata.

Program ini dirancang untuk melayani daerah tertinggal, terluar, terdepan, dan perbatasan (3TP) yang belum terjangkau penerbangan komersial.

Dievaluasi Berkala, Sempat Terbang Tanpa Penumpang

Joko mengungkapkan, rute perintis Gorontalo–Pohuwato dievaluasi secara berkala setiap bulan.

Biasanya, keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan sementara layanan diambil setelah tiga bulan evaluasi.

Ia juga menyebut, penerbangan terakhir yang membawa penumpang tercatat pada September 2025.

Setelah periode tersebut, pesawat masih sempat beroperasi namun tanpa penumpang hingga akhirnya layanan dihentikan sementara.

Sebelumnya, rute perintis ini sempat dialihkan ke Buol, Sulawesi Tengah.

Namun pada 2025, Buol tidak lagi masuk skema penerbangan perintis karena telah memiliki koneksi penerbangan reguler ke Palu.

“Karena itu, Pohuwato kembali dicoba dihubungkan langsung ke Gorontalo sebagai ibu kota provinsi,” jelas Joko.

Kembali Dibuka Awal 2026

Bandara Udara Panua Pohuwato resmi kembali melayani penerbangan perintis penumpang pada awal 2026.

Hal ini ditandai dengan pendaratan perdana pesawat Susi Air pada Kamis (15/1/2026).

Kepala Satuan Pelayanan Bandara Panua Pohuwato, Sadli Agus Darise, menyebut kembalinya layanan ini sebagai momentum penting bagi masyarakat Pohuwato.

“Penerbangan ini sangat dibutuhkan untuk mendukung mobilitas warga dan distribusi barang, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Sadli.

Ia menambahkan, rute Gorontalo–Pohuwato merupakan bagian dari Program Angkutan Udara Perintis Koordinator Wilayah Gorontalo yang bertujuan memperkuat konektivitas antardaerah.

Mulai Januari 2026, penerbangan tersebut dijadwalkan beroperasi setiap Kamis.

Pesawat berangkat dari Gorontalo pukul 09.05 Wita dan tiba di Pohuwato pukul 09.40 Wita dengan tarif Rp357.830.

Sementara penerbangan dari Pohuwato ke Gorontalo dijadwalkan pukul 09.55 Wita dan tiba pukul 10.30 Wita dengan harga tiket Rp300.830.

Dengan waktu tempuh sekitar 35 menit, penerbangan ini dinilai jauh lebih efisien dibandingkan perjalanan darat dari Marisa ke Kota Gorontalo yang memakan waktu berjam-jam.

Baca juga: Cek Penerima PKH 2026 Tahap 1 Online, Begini Cara Mudahnya

Pesawat yang melayani rute ini adalah Susi Air tipe Cessna 208B Grand Caravan dengan nomor registrasi PK-BVH.

Tiket dapat dipesan melalui aplikasi dan situs Traveloka, serta layanan pemesanan langsung melalui nomor kontak resmi di wilayah Pohuwato dan Gorontalo.

Manajemen Bandara Panua Pohuwato mengajak masyarakat, pelaku usaha, dan instansi pemerintah untuk memanfaatkan layanan ini agar penerbangan perintis dapat terus beroperasi secara berkelanjutan.

“Keberlangsungan rute ini sangat bergantung pada tingkat pemanfaatannya. Dukungan masyarakat menjadi kunci utama,” tutup Sadli. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Jumat, 20 Maret 2026 (30 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:28
Subuh 04:38
Zhuhr 11:59
‘Ashr 14:59
Maghrib 18:02
‘Isya’ 19:10

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved