Senin, 11 Mei 2026

Opini

MBG - Koperasi Merah Putih Prabowo : Dikritisi di Pusat, Dipuja di Daerah

Dikritisi di Pusat, Dipuja di Daerah, Membaca Paradoks Politik Ekonomi dari Gorontalo hingga Pulau Terluar Indonesia

Tayang:
Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto MBG - Koperasi Merah Putih Prabowo : Dikritisi di Pusat, Dipuja di Daerah
TIDAK ADA/Dr Herwin Mopangga
OPINI - Dr Herwin Mopangga, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo 

Opini Ini Ditulis Oleh Dr Herwin Mopangga, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo

TRIBUNMANADO.COM - Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke wilayah terluar Indonesia seperti Pulau Miangas di Kabupaten Talaud Sulawesi Utara hingga Gorontalo menyisakan pesan politik ekonomi yang sangat menarik dibaca secara lebih mendalam. 

Di tengah derasnya kritik dari kalangan akademisi, ekonom, dan kelas menengah perkotaan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KD-KMP), justru masyarakat di daerah menunjukkan antusiasme dan dukungan luar biasa besar terhadap Presiden.

Di Gorontalo misalnya, Presiden meresmikan Kampung Nelayan Merah Putih di Kelurahan Leato Selatan Kecamatan Dumbo Raya pada Sabtu (09/05/2026)

Sepanjang ruas jalan yang dilalui iring-iringan kendaraan Presiden, masyarakat meneriakkan yel-yel MBGMBGMBG dengan penuh semangat. 

Presiden membalasnya dengan senyum dan lambaian tangan dari sunroof Maung Garuda RI-1. Pemandangan seperti ini sangat kontras dibandingkan dengan reaksi di kota-kota besar di Jawa, dimana MBG sering diposisikan sebagai program populis yang dianggap menguras fiskal negara dan tidak produktif bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Fenomena ini menunjukkan adanya dua wajah Indonesia yang hidup dalam satu negara. Di satu sisi terdapat Indonesia metropolitan yang relatif maju dengan ekonomi berbasis industri, jasa modern, teknologi, dan kelas menengah yang kuat. 

Di sisi lain terdapat Indonesia periferi, wilayah pinggiran, pesisir, kepulauan dan daerah tertinggal yang masih sangat bergantung pada kehadiran langsung negara melalui bantuan sosial, subsidi pangan, dan intervensi pemerintah.

Gorontalo adalah contoh menarik dari paradoks tersebut. Secara makro, perekonomian Gorontalo sesungguhnya sedang menunjukkan perbaikan cukup signifikan.

Data Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Gorontalo Triwulan I Tahun 2026 tumbuh sebesar 7,68 persen (year on year), jauh di atas rata-rata nasional. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi berasal dari ekspor barang dan jasa sebesar 21,77 persen. 

Sementara struktur ekonomi daerah masih sangat didominasi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan kontribusi mencapai 36,46 persen terhadap PDRB.

Namun di balik angka pertumbuhan tinggi tersebut, terdapat realitas sosial ekonomi yang jauh lebih kompleks. Konsumsi rumah tangga masih mendominasi struktur ekonomi Gorontalo hingga 61,48 persen PDRB.

Artinya, denyut ekonomi masyarakat bawah masih sangat sensitif terhadap daya beli, harga pangan, dan bantuan pemerintah. Karena itu tidak mengherankan apabila MBG memperoleh sambutan emosional yang begitu besar di daerah-daerah seperti Gorontalo, Miangas, Talaud, Maluku, Papua, maupun Nusa Tenggara. 

Bagi masyarakat dengan pendapatan terbatas, satu porsi makanan bergizi gratis bukan sekadar program pemerintah. Ia adalah pengurangan pengeluaran rumah tangga, jaminan protein bagi anak sekolah, sekaligus simbol nyata bahwa negara hadir di tengah kehidupan mereka.

Perspektif seperti ini sering kali sulit dipahami oleh kelas menengah perkotaan yang hidup di wilayah dengan infrastruktur lebih baik, pendapatan lebih tinggi, dan akses pasar yang relatif efisien.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved