Rabu, 1 April 2026

Berita Katolik

Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia Persembahkan Patung St Yusuf Arimatea ke Paus Leo XIV

Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) persembahkan patung St Yusuf Arimatea kepada Paus Leo XIV.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia Persembahkan Patung St Yusuf Arimatea ke Paus Leo XIV
KBRI Vatikan
KETEMU PAUS - Paus Leo XIV menerima patung Yusuf Arimatea dalam audiensi di Lapangan St Petrus, Vatikan, Rabu (25/03/2026) 

“Ada detail-detail khusus pada fisik patung yang dibuat. Itu merupakan poin penting yang perlu saya catat dalam proses membuatnya. Poin-poin penting itu  menjadi detail utama untuk menjelaskan proses penurunan tubuh Yesus dari salib. Praktis. karena tidak ada patung yang tersedia dirinya harus membuatnya sendiri. ” ujarnya.

Dua Hal Penting dalam Patung St Yusuf dari Arimatea

Menurut pengakuan Putut Prabantoro, ada dua hal penting yang terdapat dalam patung tersebut. Yang pertama warna patung dan kedua adalah, nama patung.  Dalam penglihatan kakaknya, adegan penurunan Yesus dari salib itu berwarna. Masing-masing tokoh memiliki warna sendiri terutama dalam pakaian yang dikenakan.

Namun karena ini fokus utama adalah Yusuf dari Arimatea, dikhawatirkan orang tidak akan tahu siapa tokoh yang dimaksud. Oleh karena itu,  secara kreasi sendiri, Putut meminta pembuat patung untuk memberi warna khusus pada tokoh utamanya. Sementara tokoh-tokoh lain diberi warna hitam. 

“Alasannya diberi warna hitam selain Yusuf Arimatea karena warna hitam menjelaskan peristiwa duka cita. Kecuali Yusuf Arimatea semuanya diberi warna hitam,” ujarnya.

Setelah patung selesai dibuat, Widiantoro memintanya agar patung tersebut diberi nama. Nama yang diberikan harus berbahasa Ibrani (Yahudi) dan Latin. Dan,  bukan nama dalam bahasa Inggris atau bahkan Indonesia. Ibrani dan Latin adalah dua bahasa yang resmi digunakan saat peristiwa penyaliban Yesus terjadi. 

Untuk memastikan penulisannya, Putut Prabantoro kemudian menanyakan cara penulisan nama dalam dwi bahasa kepada dua pastor yakni Rm Markus Solo Kewuta SVD yang berkarya di Vatikan dan Rm Antonius Suhermanto yang merupakan mahasiswa doktoral yang berasal dari Keuskupan Tanjung Karang.

“Jika dihitung, dari pembuatan sketsa hingga selesainya patung dibutuhkan waktu 7 (tujuh) bulan,” ujar Putut.

Terkait dengan kemungkinan bertemu dengan Paus Leo, nenurut Putut, merupakan kisah tersendiri. Penentuan keberangkat ke Vatikan diputuskan oleh Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, ketika dirinya dan Mayong Suryo Laksono menghadap pada 15 Februari 2026. 

Menurut Mayong Suryo Laksono, Uskup Surabaya itu memutuskan bahwa penandatanganan MOU penggunaan resmi bahasa Indonesia harus dilakukan pada Rabu, 25 Maret 2026. Alasannya adalah pertama karena Uskup Surabaya itu hanya memiliki 5 (lima) hari yakni 23 – 27 Maret dan pada 28 Maret harus sudah tiba di Surabaya.  Alasan kedua, tanggal 25 Maret merupakan pesta Bunda Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel. Kabar gembira itu terkait dengan kehendak Allah agar Maria menjadi seorang bunda dari bayi yang kelak akan dinamai Yesus.

Perang Iran vs Israel dan Amerika Serikat mengakibatkan terjadinya kekacauan jalur penerbangan seluruh dunia, kekhawatiran atas keselamatan penerbangan dan juga melambungnya harga tiket pesawat ke Eropa. Keberangkatan ke Roma  hampir ditunda oleh Mgr Didik panggilan akrab Uskup Surabaya tersebut.

Kepada Mgr Didik dan Rm Markus Solo Kewuta SVD diceritakan perjalanan kisah patung Yusuf Arimatea. Patung tersebut dimaknai sebagai suatu rahasia atau misteri oleh Uskup Surabaya itu. Dalam misa kudus pada Rabu (25/03.2026) sebagian makna misteri itu “dibongkar” di kapel Biara St Maria Teresa Scrilli, di Via Baglioni 10, Roma. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved